Pemanfaatan perkembangan teknologi informasi saat ini mempermudah para stakeholder industri perunggasan Indonesia untuk saling berbagi dan bertukar informasi mengenai kemajuan teknologi dan inovasi. Hal itu bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dalam menjaga kesehatan hewan melalui program pencegahan.
PT Hipra Indonesia menyelenggarakan ‘Seminar AMPV dan HIPRA DIAGNOS INDONESIA’ dengan konsep yang berbeda. Konsep webinar dan diskusi secara daring ini dilakukan untuk menghidupkan ruang diskusi bagi para peternak, pelaku usaha dan pelanggan Hipra di seluruh Indonesia untuk belajar lebih banyak lagi bersama Hipra Indonesia.
“Dalam kondisi yang berbeda saat ini, Hipra ingin memperkenalkan salah satu bagian dan kebanggaan bagi Hipra Indonesia bahwasanya saat ini Hipra Indonesia memberikan pelayanan uji diagnostik melalui HIPRA DIAGNOS untuk membantu kebutuhan diagnosa kesehatan hewan ternak di Indonesia. Selain itu kami menyelenggarakan webinar mengenai Avian Metapneumovirus dalam industri perunggasan modern. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan paparan yang berguna bagi seluruh teman-teman di industri peternakan,” terang Amke Wijatman selaku Business Manager Hipra Indonesia melalui aplikasi Cisco Webex, Rabu (19/8).
Pengujian laboratorium yang cepat dan handal
Dalam industri perunggasan, kesehatan hewan menjadi perhatian khusus untuk menjaga performa dan produktifitasnya. PT Hipra Indonesia sebagai perusahaan yang fokus terhadap kesehatan hewan sangat meyakini bahwa upaya pencegahan dapat dilakukan untuk melindungi ternak dari penyakit di masa depan. Melalui inovasi dan pelayanan yang diberikan Hipra melaui produksi vaksin sekaligus pengembangan alat diagnostik memperkuat posisi Hipra sebagai “Reverence in prevention in Animal Health”.
Amke pun mengungkapkan bahwa secara resmi Hipra Indonesia memperkenalkan HIPRA DIAGNOS sebagai layanan diagnostik bagi seluruh pelanggan Hipra di Indonesia. Pihaknya juga merasa bangga karena karena Indonesia terpilih menjadi negara kesebelas di dunia atau negara keenam di kawasan Asia dan Oceania yang memiliki laboratorium pelayanan diagnostik dengan pelayanan cepat waktu dan dapat diandalkan.

 

Laboratorium yang berlokasi di kantor pusat PT Hipra Indonesia, GKM Green Tower, Jakarta tersebut dapat dengan mudah untuk dijangkau oleh seluruh pelanggan Hipra di Indonesia. Amke pun mengatakan adanya pelayanan ini dapat membantu dalam pengambilan keputusan dalam program vaksinasi yang digunakan.
Dalam kesempatan yang sama, hadir pula Jaime Maldonando selaku Scientific Marketing Unit Manager Hipra. Dalam paparannya, Hipra sangat berkomitmen untuk melengkapi program kesehatan pelanggan dengan menghasilkan respons yang cepat dan akurat. Jaime pun menjelaskan bahwa secara global Hipra telah memiliki lebih dari dua juta sampel melalui pemeriksaan diagnosa yang telah dilakukan di 87 negara di dunia dan menjadi satu-satunya perusahaan produksi vaksin yang mempunyai Elisa Kit tersendiri yang dinamakan CIVTEST dan menjadi pioneer Drive Sample Spot (DDS) dengan memiliki 1700 sequensing dari 38 negara dan memiliki sequensing genetik untuk mendiagnosa eimeria sp. dengan genetik map yang dimiliki tersendiri. “Hipra berkomitmen untuk terus melengkapi pelayanan yang baik untuk mendukung industri perunggasan di Indonesia,” jelasnya.
Selanjutnya, Florensia Nailufar yang merupakan Manager Laboratorium Diagnosis Hipra Indonesia menjelaskan fasilitas-fasilitas yang diberikan untuk para pelanggan Hipra Indonesia. Fasilitas yang dimiliki oleh Laboratorium HIPRA DIAGNOS Indonesia menggunakan peralatan dan teknologi paling mutakhir. Sedangkan untuk pelayanan HIPRA DIAGNOS itu sendiri meliputi pemeriksaan uji serologi dengan menggunakan Elisa Kit untuk pemeriksaan IBV, ND, IBD, TRT EDS dan ILT, perhitungan Oocyst Per Gram (OPG) counting yang terkait dengan pemeriksaan parasitologi, pemeriksaan molekular untuk pemeriksaan Gumbocheck, NDVcheck, Avian pneumocheck, Eimeria check, Coryza dan analisis PRE-PCR.
Berbagai diagnosis ini memungkinkan ratusan sampel dianalisis dalam beberapa jam, didukung oleh proses otomatisasi artifisial untuk mendeteksi suatu penyakit dari hasil uji laboratorium yang sesuai dengan hasil temuan di lapangan. “Kami pun memberikan pelayanan diagnosa secara gratis bagi seluruh pelanggan Hipra di Indonesia dan pelayanan pemeriksaan uji laboratorium yang dapat digunakan khusus untuk penyakit yang sesuai dengan produk vaksin yang dipasarkan Hipra di Indonesia,” tutur Florensia.
“Dengan adanya HIPRA DIAGNOS dari Hipra Indonesia dapat memberikan bantuan teknis berupa pemeriksan laboratorium kepada peternak yang berada di Indonesia yang merupakan pelanggan PT Hipra Indonesia. HIPRA DIAGNOS menjadi bagian penting karena pemeriksaa laboratorium yang merupakan pelayanan HIPRA sangat berkaitan dengan produk-produk yang dijual ke pasar Indonesia. Adanya dukungan laboratorium dari perusahaan yang sama membuat produk Hipra memiliki nilai lebih,” harapan Emilazola Sihombing selaku Area Manager Key Account PT Hipra Indonesia.
Hal senada disampaikan Octiarini Lia Ekawati selaku Area Manager Strategic Account PT Hipra Indonesia, Ia menyampaikan bahwa HIPRA DIAGNOS memberikan value added bagi para pelanggan, sehingga dapat mendukung produktivitas pelanggan. Hal ini pun selaras dengan perkembangan penyakit yang di masa saat ini sangat sulit untuk dipastikan diagnosanya jika tidak didukung oleh pemeriksaan laboratorium.
Pentingnya menjaga imunitas ternak
Selain memperkenalkan pelayanan HIPRA DIAGNOS. Hipra Indonesia menyelenggarakan pula webinar yang mengangkat topik mengenai “Avian Metapneumovirus (AMPV) dalam Industri Perunggasan Modern” menghadirkan narasumber ahli yakni Tony Unandar dalam webinar tersebut Tony memberikan pengalamannya di lapangan serta memberikan kesadaran bagi seluruh pelanggan Hipra di Indonesia mengenai perlunya kewaspadaan terhadap ancaman AMPV di Indonesia.
Tony mengungkapkan bahwa keberadaan virus tersebut banyak tidak disadari oleh para peternak di Indonesia. Menurutnya, Avian Metapneumovirus tergolong penyakit yang menyerang pernapasan dan sistem reproduksi pada industri perunggasan modern. Ia pun mengingatkan bahwa tanda-tanda klinis pada AMPV seringkali dijumpai secara asimtomatik namun titer antibodi yang sangat tinggi dan dapat menunjukan respons seperti terkena ND, IB dan MG.
“Gejala klinis lainnya yang dapat kita perhatikan secara anamnesa, ayam dapat mengalami beberapa tanda dalam sistem pernafasan seperti batuk, adanya cairan dari hidung, bersin, sering kali terjadi pembengkakan pada sebagian kepala dengan menunjukan kepala asimetris. Selain itu, air mata yang berbusa dan memperlihatkan iritasi yang luar biasa. Ayam biasanya akan menggosok mata ke sayap atau punggung kemudian dapat terlihat pada bagian bulu yang lengket, terkadang menunjukan swollen head syndrome (SHS). Hal tersebut menjadi gejala klinis yang sering kali terlihat, adanya infeksi dari E. coli, Coryza, dan ORT dapat memperburuk keadaan ternak,“ ujarnya.
Ia pun menambahkan Avian Metapneumovirus dapat pula terjadi pada layers atau breeder dengan menunjukan beberapa gejala seperti menurunnya produksi telur, adanya perubahan pigmen warna pada kerabang telur. “Jika kita tidak peka, kita bisa keliru pada penyakit AMPV ini karena menunjukan gejala yang sama seperti terkena IB dan ND. Maka dari itu diperlukan pendekatan lebih untuk mendiagnosa penyakit tersebut melalui uji laboratorium seperti pengujian Serologi, RT-PCR dan ELISA,” tambahnya.
Berdasarkan hal tersebut, diperlukan kondisi ternak yang prima agar sistem kekebalan tubuh (imunitas) ternak dapat berfungsi untuk menjaga ayam dari serangan penyakit yang dapat merugikan kondisi kesehatan dan performa produksi ternak. Hal ini menunjukan pentingnya meningkatkan imunitas lokal dan humoral. Salah satunya melalui cara pemberian vaksin agar ternak dapat memproduksi antibodi yang menjaga ternak dari paparan virus atau penyakit. Adv