POULTRYINDONESIA, Tangerang – Hipra Indonesia kembali menyelenggarakan Poultry Immunology Class pada Rabu, 7 Mei 2025, bertempat di Ballroom Episode Hotel Gading Serpong. Acara ini mengangkat tema “Procosius Vaccines: The Game Changer in Coccidiosis Control for Better Performance” dan menghadirkan para ahli di bidangnya dari dalam maupun luar negeri. Fokus utama dalam diskusi kali ini adalah upaya terkini dalam pengendalian penyakit koksidiosis melalui pendekatan vaksinasi, di tengah upaya global mengurangi penggunaan antimikroba pada sektor peternakan.
Dalam sambutannya, Regional Manager Hipra Asia and Oceania, Peter Martenez menyampaikan apresiasi atas kehadiran para mitra industri, akademisi, dan pelaku perunggasan di Indonesia. Ia menekankan bahwa toksin dan penyakit saluran cerna, seperti koksidiosis, merupakan tantangan serius bagi produktivitas unggas.
“Kini saatnya kita bersama-sama berpindah dari riset ke hasil nyata, dari inovasi ke implementasi, dan dari tantangan ke keyakinan. Vaksinasi menjadi kunci dalam mengontrol koksidiosis tanpa bergantung pada antibiotik,” ujarnya.
Sementara itu, Arif Wicaksono selaku Ketua kelompok pengawasan obat hewan memaparkan tentang pembatasan penggunaan antimikroba di sektor peternakan. Ia menegaskan bahwa pemerintah telah menerbitkan regulasi untuk mengurangi penggunaan antibiotik, seperti yang tertuang dalam Permentan No. 14 Tahun 2017.
“Persyaratan penggunaan antibiotik dalam pakan hanya boleh digunakan untuk keperluan terapi atas resep dokter hewan. Selain itu beberapa antibiotik seperti fluoroquinolon telah resmi dilarang penggunaannya sejak Januari lalu. Sejalan dengan itu, Koksidiostat, termasuk yang digunakan sebagai pakan aditif, juga diimbau untuk digunakan secara bijak agar efektivitasnya tetap terjaga di masa depan,” terangnya.
Lebih dalam tentang penyakit koksidiosis, Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS, Guru Besar IPB University, memaparkan tentang respon kekebalan terhadap infeksi Eimeria sp. Ia menegaskan bahwa koksidiosis merupakan penyakit parasitik yang paling merugikan secara ekonomi.
“Infeksi ookista menyebabkan kerusakan sel epitel usus, membuka peluang infeksi sekunder seperti necrotic enteritis. Untuk itu, strategi pengendalian melalui vaksin sangat penting, terutama untuk menjaga kesehatan usus dan memaksimalkan potensi genetik ayam,” ujarnya,. Dirinya menambahkan bahwa ayam dengan saluran cerna yang sehat akan memiliki konversi pakan yang baik dan produksi optimal.
Masih dalam acara yang sama, Dr. Santiago De Castro, selaku Global Product Manager Hipra HQ, mengangkat topik lebih lanjut mengenai pengaruh vaksinasi koksidiosis terhadap daya tetas breeder dan risiko infeksi Salmonella. Ia menyebutkan bahwa secara global, koksidiosis menyebabkan kerugian hingga 10 miliar euro per tahun. Vaksin procosius dengan pendekatan atenuasi yang mempercepat respon imun dalam 7 hari tanpa menimbulkan gejala menjadi solusi inovatif dalam mengatasi resistensi antikoksidia. “Dengan vaksinasi, tidak hanya koksidiosis yang dapat dicegah, tetapi juga memperbaiki kesehatan umum ayam dan menekan risiko Salmonella,” jelasnya.
Menambahkan materi Dr. Ong Shyong Wey selaku Regional Marketing & Technical Manager Hipra Asia & Oceania menjelaskan bahwa sistem penilaian lesi pada kasus koksidiosis. Menurutnya, skor lesi merupakan metode penting untuk mendiagnosis keberadaan infeksi Eimeria dan mengevaluasi efektivitas vaksin. Ia menjelaskan bahwa kombinasi antara lesi scoring dan perhitungan oosit per gram (OPG) memberikan informasi diagnostik yang lebih kuat.
“Meskipun OPG terpengaruh oleh faktor lingkungan, gabungan metode ini sangat membantu dalam pemantauan tren infeksi dan pengambilan keputusan manajemen kesehatan unggas,” katanya.
Dalam penerapan vaksin, Dr. Aditya Fuad Risqianto selaku Technical Service Manager Hipra Indonesia membagikan pengalaman dan hasil riset vaksin koksidiosis Hipra di Indonesia.