Oleh: Reski Amalia*
Perunggasan merupakan salah satu bidang yang mampu bertahan di saat pandemi COVID-19 melanda. Kendati masih sering terjadi fluktuasi harga, namun permintaan masyarakat tak pernah terputus. Perunggasan pun bisa dibilang sudah swasembada, di mana salah satunya ditunjukkan oleh daging ayam dan telur ayam ras yang telah mampu memenuhi kebutuhan nasional. Tentu hal ini juga ditunjang dengan inovasi teknologi yang terus menerus diperbaharui.
Tak bisa dipungkiri bahwa sistem closed house memang memiliki tingkat efisiensi yang lebih tinggi dan telah banyak dibuktikan hasilnya oleh peternak.
Peningkatan permintaan setiap tahunnya serta adanya deklarasi revolusi industri 4.0 membuat bidang perunggasan harus mampu beradaptasi dan mengadopsi teknologi terbarukan guna meningkatkan efisiensi produksi. Kesadaran peternak akan permintaan yang terus meningkat tentunya harus diimbangi dengan peningkatan produksi. Selain itu, proses ini juga harus ditunjang oleh teknologi agar usaha yang dijalankan memiliki daya saing yang lebih baik. Peternak unggas pun terus ikut dalam perkembangan teknologi. Hal ini ditandai dengan banyaknya peternakan open house yang beralih ke peternakan ayam sistem closed house. Tak bisa dipungkiri bahwa sistem closed house memang memiliki tingkat efisiensi yang lebih tinggi, dan telah banyak dibuktikan hasilnya oleh peternak.
Dalam menjalankan usaha peternaka juga memiliki beragam tantangan. Salah satu tantangan dari ayam ras pedaging adalah adaptasi lingkungan yang sulit dan risiko mortalitas yang tinggi. Suhu yang nyaman bagi ayam ras pedaging sekitar 15-28 0C. Energi yang tinggi digunakan untuk pengeluaran panas dalam tubuh, sehingga dapat menurunkan bobot badan. Kondisi ini pun dapat memengaruhi kualitas daging karena panas yang terakumulasi dalam tubuh menyebabkan stres oksidatif pada ternak.
Kelayakan pada pemeliharaan sistem closed house bisa dilihat dari berbagai aspek yaitu aspek teknis dan teknologi, manajemen operasi serta sosial dan lingkungan. Ditinjau dari aspek teknis dan teknologi, hasil produksi akan lebih baik (konversi pakan lebih rendah 0,05 dan angka kematian turun 3%) dibanding sistem open house. Hal ini disebabkan temperatur dan kelembapan bisa diatur sesuai dengan kebutuhan ayam, sehingga dapat memacu performa produksi yang optimal. Sedangkan apabila pada sistem open house, suhu dan kelembapan mengikuti lingkungan luar kandang.
Dari aspek manajemen operasi, sistem closed house memang diperlukan keterampilan tenaga kerja yang lebih baik, namun jumlah tenaga kerja bisa dikurangi pada skala pemeliharaan yang besar. Walau demikian, penulis menyadari bahwa investasi closed house memang membutuhkan biaya yang lebih besar daripada open house. Untuk bisa beralih ke sistem closed house, banyak variasi cara yang telah dilakukan oleh para peternak. Ada peternak yang mencari pinjaman modal, bergabung dan menjalankan usaha bersama, mencari investor hingga bermitra dengan perusahaan integrator. Selain itu, peternak juga harus melakukan perhitungan matang-matang sebelum memutuskan untuk beralih ke sistem yang lebih modern, sehingga tujuan dan keuntungan dalam budi daya dapat tercapai. *Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2021 dengan judul “Hiruk Pikuk Sistem Closed House”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...