Virus IB dikenal sangat mudah bermutasi, sehingga setiap tahun hampir selalu muncul kasus baru dengan varian yang berbeda.
Dalam suatu wawancara daring yang dilaksanakan pada Jumat, (5/12) Tim Poultry Indonesia berbincang dengan Muhammad Abdillah selaku Branch Manager Elanco. Ia menjelaskan bahwa Infectious Bronchitis (IB) adalah salah satu penyakit pernapasan akut pada ayam yang disebabkan oleh virus dari kelompok Coronavirus.
“Karakteristik virusnya itu gampang banget berubah, makanya di lapangan kita menemukan banyak varian, ada yang menyerang saluran pernapasan saja, tapi ada juga yang menyerang ginjal dan pencernaan. Penularannya pun sangat cepat bahkan satu ayam sakit bisa menularkan hingga 30 ekor lain dalam satu kandang,” jelasnya.
Menurut Abdillah, membedakan gejala IB pada fase pra-produksi dan produksi bukan perkara mudah. Pun membedakan gejala IB dengan gejala penyakit pernapasan lain.
“Tantangannya, gejala awalnya mirip dengan penyakit pernapasan lain seperti aMPV, SHS, atau AI subtype H9. Makanya awareness di 7 hari pertama itu krusial. Apabila ayam sudah ada indikasi ngorok, maka sebaiknya segera panggil tenaga kesehatan hewan agar penyakitnya tidak mudah menyebar”.
Pada ayam layer muda, infeksi IB terutama di minggu pertama dapat memicu risiko false layer syndrome, yang berdampak pada performa produksi di kemudian hari. Sedangkan pada ayam produksi, varian strain tertentu yang bersifat mikropatogenik bisa menyebabkan kualitas kerabang menurun, albumin encer, hingga penurunan produksi.
“Untuk diagnosis, dokter hewan harus melakukan anamnesa terlebih dahulu. Kita harus lihat historinya. Multi-age atau tidak? Gejalanya sudah berapa hari? Lalu kita nekropsi, ambil sampel darah atau organ. Tidak bisa hanya menebak dari suara batuknya saja,” ungkapnya.
Gejala klinis dari penyakit IB sendiri bisa dikategorikan menjadi tiga bentuk yaitu pernapasan, reproduksi dan renal (kerusakan pada sistem urinaria). Gejala yang muncul pada ayam tergantung dari organ mana yang terkena infeksi IB. Secara umum, gejala awal yang muncul cukup umum seperti bersin, batuk, ngorok dan mata berair.
“IB juga ada yang menyerang sistem reproduksi pada ayam petelur. Secara kualitas dan kuantitas pasti ada penurunan produksi telur, biasanya kerabang pucat, tipis, kasar bahkan tidak berkerabang. Telur yang diproduksi pun berukuran kecil, bahkan beberapa kasus bentuknya tidak simetris”.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.











