Selepas Ibnu menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, mulailah ia mencari pekerjaan di bursa tenaga kerja surat kabar yang terbit setiap hari Sabtu dan Minggu. Di dalam benak Ibnu dan juga kawan – kawan seperjuangan ekonom dari tempat ia menyelesaikan studi sarjana, memang pekerjaan yang umum terlintas di kalangan ekonom adalah bekerja di Bank, BUMN, dan Kementerian Keuangan. Ibnu lantas menceritakan pengalamannya saat memulai karier di perusahaan agrobisnis multinasional kepada Poultry Indonesia saat berkunjung ke studio podcast Satwa Media Group, Mangga Dua Square, Jakarta Utara, Selasa, (24/1).

Memiliki latar belakang sebagai ekonom membuat Ibnu Edy Wiyono tidak terlalu mengenai sektor agrobisnis. Bahkan pada awalnya, Ibnu merasa aneh sekaligus kagum dengan dunia agrobisnis karena ia melihat sendiri potensi perputaran ekonomi di dalamnya sangatlah besar.

“Waktu itu sehabis lulus sarjana ekonomi dari UGM, saya melihat lowongan pekerjaan dari koran kompas, karena waktu itu memang untuk pencarian bursa kerja koran kompas sangat bagus. Maka saya berlangganan yang hari Sabtu dan Minggu saja, yang ada lowongan kerja. Kala itu saya melihat sebuah tulisan lowongan pekerjaan dari perusahaan multinasional di bidang agrobisnis membutuhkan ahli ekonomi. Lalu saya merasa bahwa lowongan tersebut menarik, tidak banyak perusahaan yang membutuhkan ekonom, seringnya akuntan atau keuangan,” ungkap Ibnu.
Setelah Ibnu melihat lowongan tersebut akhirnya ia mengirimkan sejumlah persyaratan yang diperlukan ke perusahaan PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI). Akhirnya perusahaan tersebut memanggil Ibnu ke sesi wawancara lalu ia bercerita tentang bagaimana proses wawancara di perusahaan tersebut.
“Saya kirimkan persyaratan serta surat lamaran kerja, dan momennya itu ketika terjadi peristiwa bom bali di Oktober tahun 2002. Saya Apply, dipanggil untuk sesi wawancara, dan menariknya setelah sesi wawancara selesai saya diberi tugas untuk membuat sebuah paper untuk menganalisis dampak ekonomi bom bali dalam 3 halaman, dengan tenggat waktu 3 hari, dan dibuat dalam bahasa inggris,” kenangnya.
Ibnu sadar pada awal kelulusannya dari Universitas, ia merasa kemampuan bahasa inggrisnya belum terlalu mumpuni, akan tetapi ia tetap yakin jika memiliki kemauan, maka akan selalu diberikan jalan.
“Sebetulnya pada masa itu sebagai mahasiswa yang lulus dari Yogyakarta, saya merasa masih belum fasih dalam berbahasa inggris. Akan tetapi tetap saya buat tulisannya, saya tambahkan analisis ekonomi, statistik dan lain sebagainya, dan ternyata pihak yang merekrut saya merasa cocok dengan tulisan yang saya buat dan akhirnya saya diterima untuk bekerja di perusahaan tersebut,” ujarnya.
Pada awal karier Ibnu di bidang agrobisnis, ia mengaku banyak hal yang menarik dari sektor tersebut. Wawasan tentang dunia agrobisnis yang memiliki perputaran ekonomi yang tinggi, sehingga ketika ia menjalani karier di bidang agrobisnis ia sangat terpukau dengan perputaran ekonomi di bidang agrobisnis.
“Hal yang menarik ketika saya mengawali karier di CPI, saya baru tahu bahwa CPI itu adalah perusahaan pakan ternak, perusahaan ayam, karena selama saya berkuliah di Yogyakarta, tidak pernah terpikirkan bahwa ada perusahaan agrobisnis sebesar itu. Di lingkungan para ekonom, yang terkenal kala itu adalah bank dari mulai BCA, BNI, BI, Kemenkeu, dan Bank BUMN. Jujur saya terkejut ketika melihat ada perusahaan di bidang agrobisnis yang sangat besar dan membutuhkan ekonom, maka ketika saya bekerja, saya sangat bersemangat untuk mendalami makroekonomi di bidang agrobisnis bersama CPI,” kenang Ibnu.
Selanjutnya ia bercerita lebih lanjut tentang bagaimana pengalaman awal kariernya, kala itu memang sedang berlangsung masa – masa pasca krisis moneter yang terjadi di tahun 1998-1999, sehingga banyak perusahaan besar yang memahami pentingnya monitoring indikator makroekonomi. Semisal pergerakan nilai tukar, inflasi, suku bunga, pertumbuhan ekonomi, pendapatan masyarakat, dan lainnya.
“Tugas utama saya adalah monitoring indikator ekonomi penting yang bisa berdampak ke bisnis perusahaan. Jadi saya setiap hari itu membuat yang namanya update mingguan, update bulanan, kemudian setiap 6 bulan sekali melakukan presentasi dengan mengundang GM dan manager di perusahaan untuk mendengarkan pemaparan dari ekonom,” ungkap Ibnu.
Kemudian seiring dengan berjalannya waktu karena Ibnu telah menjadi bagian dari perusahaan, maka ia juga dilibatkan dalam studi – studi untuk pengembangan bisnis baru, atau untuk ekspansi wilayah di luar Jawa. Tugas Ibnu kala itu akhirnya difokuskan ke dua indikator, yaitu monitoring makroekonomi dan juga terlibat di kajian – kajian kelayakan bisnis.
“Selepas saya di CPI, saya bekerja di Foreign Agriculture Service (FAS), U.S. Embassy Jakarta sebagai Agricultural Specialist. Ada tiga jobdesk utama yaitu memberikan laporan terkait dengan Market Intelligence, Market Access, Market Development. Jadi bos saya itu atase pertanian dan counsellor pertanian di Kedutaan Besar Amerika Serikat,” ujar Ibnu.
Yang menarik dari pekerjaannya di FAS Jakarta Kalau bicara tentang market intelligence, maka tugas Ibnu adalah membuat laporan di situs https://fas.usda.gov bagian GAIN Report. Data yang diberikan dalam laporan tersebut isinya berupa data komoditas seperti oilseed, poultry, ataupun grain and feed. “Kami yang membuat laporan tersebut, nantinya data tersebut akan direkap dari data yang dikumpulkan oleh masing masing perwakilan FAS di setiap negara.”
Pesan untuk generasi muda
Ibnu berpesan kepada para generasi muda bahwasanya peran aktif para generasi muda di bidang pertanian harus ditingkatkan. Menurutnya, sektor agrobisnis baik itu pertanian, perikanan, dan peternakan masih dianggap kegiatan usaha atau pekerjaan yang kurang menarik atau sering dipandang sebelah mata oleh generasi muda. Ia juga mengakui bahwa industri yang berkecimpung di sektor agrobisnis sangat besar sekali dan masih membutuhkan banyak sentuhan dari para generasi muda.
“Sektor ini memang saya melihat masih belum bisa dikatakan sektor yang diminati, dan belum dipandang seksi oleh generasi muda. Jujur saya mengakui jika saya tidak bergabung dengan CPI, bekerja di FAS, saya tidak akan mengerti bahwa perputaran ekonomi dari bisnis ini sangat tinggi,” ujarnya.
Para anak muda juga menurut Ibnu harus mengerti bahwa sektor agrobisnis ini sangat kompleks. Dari kompleksitas tersebut tentunya banyak peluang yang bisa diciptakan untuk mempermudah kegiatan bisnis dengan menggunakan teknologi tinggi, yang seharusnya bisa dengan mudah dilakukan oleh generasi muda.
“Industri agrobisnis bukan industri abal – abal, ini adalah industri dengan nilai miliaran dolar, sehingga dibutuhkan keahlian dan kemauan yang tinggi. Maka seharusnya anak muda bisa memanfaatkan hal tersebut sebagai jalan menuju kesuksesan. Sekali lagi, industri ini tidak kalah menariknya jika dibandingkan dengan industri manufaktur, dan industri lainnya,” harap Ibnu.
Selain itu, Ibnu juga berpesan kepada generasi muda agar bisa menghargai hasil pertanian yang diperoleh dari budi daya yang berkelanjutan. Seiring dengan tantangan dunia yang cukup tinggi di berbagai aspek kehidupan, maka pola pikir yang ditanamkan adalah bagaimana makanan yang dikonsumsi sehari –hari, tidak hanya sehat bagi diri sendiri melainkan sehat untuk bumi di tempat kita berpijak.
“Saya juga berpesan untuk anak muda dimana tantangan dunia saat ini adalah bagaimana menghadapi 3C yaitu Conflict, Covid, Climate. Untuk tantangan konflik (Conflict) itu sifatnya naik dan turun, kadang eskalasinya meningkat, kadang menurun. Untuk Covid sudah memasuki tahap akhir, sedangkan untuk Climate (Iklim) bagaimana peran kita semua untuk memikirkan bahwa pangan yang kita konsumsi sehat untuk diri sendiri juga sehat untuk bumi,” ungkapnya.
Maka dari itu, Ibnu mengajak kepada anak muda untuk selalu menghargai hasil pertanian yang diproduksi dari cara budi daya yang ramah lingkungan, peduli konservasi air dan tanah sebagaimana yang telah dilakukan oleh petani kedelai di Amerika Serikat (Sustainability – US Soy), dan lainnya. Hal ini membuat para generasi muda yang bergerak di bidang pertanian betul – betul memiliki kualifikasi keahlian yang tinggi, memiliki niat untuk selalu belajar, dan juga menghargai lingkungan.
Artikel ini merupakan rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com