Ayam ras termasuk unggas yang rawan terserang ILT (sumber gambar: https://wsvma.org/)
Oleh: Sulaxono Hadi*
Pengujian laboratorium untuk deteksi dan identifikasi virus bisa dilakukan dengan imunohistokimia (IHK) atau dengan PCR. Pengujian IHK dilakukan terhadap organ tubuh yang terkirim dalam pengawet formalin untuk melihat keberadaan antigen penyakit ini. Pengujian dengan PCR memiliki sensitivitas dan spesifitas yang lebih baik daripada IHK dengan menguji sampel organ segar atau swab orofaring.
Penelitian di Brazil oleh Preiz et al. (2014) yang membandingkan pengujian IHK dan PCR untuk deteksi dan identifikasi GaHV-1 pada farm layer menunjukkan bahwa secara global, uji PCR memberikan sensitifitas yang lebih baik dalam deteksi agen GaHV-1 pada jaringan atau organ tubuh layer terinfeksi dibanding dengan imunohistokimia (IHK).
 Tabel 1. Perbandingan hasil deteksi dan identifikasi GaHV-1 dengan uji IHK dan PCR
Nama jaringan/organ
Uji IHK
Uji PCR
Konjungtiva
5% (1/20)
50% (39/78)
Laring/trakhea
70% (21/30)
63,2% (31/49)
Sinus paranasal
29,6% (8/27)
56%(28/50)
Paru
53,8% (14/26)
57,7%(30/52)
 Diagnosa ILT
Secara klinis, diagnosa bisa dikelirukan dengan penyakit lain pada ayam yang juga ditandai dengan gangguan pernafasan seperti infectious bronchitis, newcastle disease, avian influenza, atau coryza, demikian juga dengan kondisi makropatologi. Pemeriksaan histopatologi dari organ trakhea adalah penting untuk menemukan perubahan spesifik adanya badan inklusi intranuklear pada mukosa trakhea atau luruhan mukosa trakhea. Identifikasi virus bisa dilakukan dengan uji PCR yang bisa cepat dilakukan di laboratorium dan pengujian bisa dilakukan secara pool dari sampel organ beberapa ekor ayam. Selain itu, bila tidak ada organ segar, maka pengujian atau pemeriksaan laboratorium bisa dilakukan dengan imuno-histokimia.
Pencegahan
Ayam bisa sembuh pada infeksi ringan, sayangnya ayam tersebut akan menjadi karier dan sumber penularan bagi ayam lain. Virus masih bisa ditemukan 7 minggu setelah terjadinya infeksi dan virus masih bisa diisolasi dari organ trakhea 2 bulan paska-infeksi.  Secara fisik, ayam yang terlihat sehat dan uji swab orofaringnya dapat menunjukan hasil negatif bila diuji secara PCR, tetapi bila ayam dinekropsi dan diambil trigeminal ganglionnya, ayam tersebut bisa teridentikasi positif dengan uji PCR.
Prinsip manajemen biosekuriti sangat baik harus diterapkan untuk mencegah penyebaran penyakit. Salah satunya dengan tidak membolehkan orang masuk area kompleks perkandangan ayam dan hanya diterima di ruang administrasi. Langkah lainnya yaitu memagari area peternakan ayam sehingga ayam kampung yang mencari sisa pakan tidak berkeliaran sekitar kandang. Menjaga higiene dan sanitasi pada kandang serta melakukan penyemprotan rutin dengan desinfektan juga perlu diterapkan. Virus GaHV-1 ini mudah mati dengan cairan kresol 1-3% dan hidrogen peroksida 5%. Penerapan manajemen bioskuriti yang ketat dapat menekan peluang terkjadinya infeksi dan mengurangi biaya produksi karena vaksinasi.
Baca Juga: Konsep Imunomodulasi
Vaksinasi dianjurkan pada daerah yang memang endemis. Vaksin yang banyak dipakai sekarang adalah vaksin yang dikembangkan dari virus yang dijinakkan dengan pasase berkali-kali pada embrio ayam yang dikenal dengan istilah CEO (chicken embryo origin). Vaksin tersebut digunakan pada ayam umur 2 minggu melalui air minum atau melalui semprotan. Vaksinasi melalui spraying atau penyemprotan lebih direkomendasikan karena virus yang dilemahkan dan dipakai pada vaksin bisa terhirup dan menempel pada mukosa trakea ayam. Hal tersebut ditujukan agar reaksi antibodi segera bisa terbentuk dari reaksi vaksinasi. Vaksin rekombinan ILT dengan memanfaatkan protein imonogenik dari GaHV-1 masih dalam penelitian untuk pengembangan lebih lanjut. Glikoprotein B dan glikoprotein D telah teridentifikasi bisa digunakan untuk memproduksi vaksin di masa depan.
Untuk mengetahui titer antibodi, dapat dilakukan pengambilan sampel serum ayam dalam kandang untuk diuji serologis terhadap titer antibodi ILT yang terbentuk 2 minggu pasca vaksinasi. Titer yang tinggi dan merata menandakan bahwa vaksinasi berhasil dengan baik pada populasi ayam dalam kandang. Pengujian serologis secara massal dan cepat dapat diakukan dengan metode ELISA. * Medik Veteriner Ahli Madya
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2021 dengan judul “Menghadapi Bahaya Laten Infeksi ILT”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153