Di sebuah sudut kota Bandung, berdirilah sebuah peternakan ayam yang tampak sederhana dari luar, namun penuh dengan cerita perjuangan dan dedikasi di dalamnya. Peternakan tersebut adalah Castle Project, sebuah usaha ternak ayam yang didirikan oleh seorang pengusaha muda bernama Idris. 

Castle Project Farm mungkin baru berdiri sejak tahun 2020, namun dalam waktu yang singkat, peternakan ini telah berkembang pesat dan menarik perhatian banyak penggemar ayam hias di Indonesia, terutama bagi mereka yang tertarik dengan ayam Shamo, ayam asal Jepang yang terkenal dengan ukuran tubuhnya yang besar dan kekuatannya dalam kontes laga.

Cerita perjalanan bisnis Idris tidak dimulai dari dunia peternakan. Sebelum terjun ke bisnis ayam, ia adalah seorang pengusaha distro, bisnis yang bergerak di bidang pakaian anak muda, khususnya kaos dengan desain unik yang banyak digemari remaja. Namun, ketika pandemi COVID-19 melanda dunia, bisnis distro yang dijalankannya harus mengalami pukulan besar. Pembatasan sosial yang ketat serta penurunan daya beli masyarakat membuat usahanya sulit bertahan. “Awalnya saya mencoba bisnis di bidang baju distro, cuma berhubung pandemi, pasar menjadi sepi, tidak boleh jualan,” kenang Idris tentang masa-masa sulit saat pandemi. Situasi ini memaksanya untuk mencari peluang usaha lain yang bisa tetap berjalan di tengah keterbatasan aktivitas.

Di tengah situasi sulit itulah, sebuah ide tak terduga muncul. Idris menghabiskan banyak waktu di rumah dan sering kali mengisi hari-harinya dengan menonton video di YouTube. Di sanalah ia pertama kali melihat ayam Shamo. “Karena banyak sekali waktu luang ketika masa pandemi, maka saya sering menonton YouTube, melihat konten ayam Shamo, akhirnya saya penasaran seperti apa,” kata Idris. 

Keingintahuannya mengenai ayam Shamo pun semakin besar. Ayam ini tampak begitu gagah dan menarik perhatiannya karena ukurannya yang jauh lebih besar dibandingkan ayam lokal yang biasa ia lihat. Dari sekadar menonton video, Idris kemudian mulai memutuskan untuk membeli bibit ayam Shamo dan membesarkannya sendiri. “Mulai dari membeli ayam Shamo masih bibitan kecil, sampai dibesarkan. Sampai sekarang, Castle Project pertama kali dimulai akhir tahun 2020,” jelas Idris sambil tersenyum mengenang awal mula perjalanannya.

Mengapa Shamo ?

Keputusan untuk memilih ayam Shamo sebagai fokus peternakannya bukan tanpa alasan. Idris mengungkapkan bahwa pada awalnya ia memang ingin mencoba beternak ayam pedaging. “Pertamanya justru saya ingin ternak ayam yang buat pangan, ya, mau cetak ayam pedaging,” ungkapnya. 

Seperti banyak orang pada umumnya, ia pun mencari ayam Bangkok sebagai pilihan pertama, mengingat ayam ini cukup populer di kalangan peternak ayam laga di Indonesia. Namun, setelah melihat ayam Shamo di YouTube, ia menyadari bahwa ada ayam yang lebih besar dan lebih unggul dari ayam Bangkok dalam hal ukuran dan kekuatan. “Lihat-lihat di YouTube, tahunya ada ayam yang lebih besar dari ayam Bangkok, nah ketemulah ayam Shamo itu,” ujarnya.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com