POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sebanyak 580.000 ekor ayam GPS akan didatangkan dari Amerika Serikat (AS) melalui skema The Agreement on Reciprocal Trade (ART). Namun, rencana impor tersebut dipastikan tidak akan menggerus kepentingan peternak lokal, karena ayam yang diimpor bukan jenis ayam konsumsi, melainkan bibit indukan ayam yang menjadi nenek moyang perunggasan nasional.
Tokoh perunggasan yang sekaligus Komisaris Utama dan Komisaris Independen PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk, Antoni J. Supit, meluruskan anggapan yang berkembang di masyarakat mengenai impor ini.
“Ini perlu saya klarifikasi. Bukan ayam yang biasa kita makan sehari-hari. Di industri ini ada yang namanya Grand Parent Stock atau GPS, itu istilahnya kakeknya ayam,” ujar Antoni pada Rabu, (25/2/2026).
Dijelaskan lebih lanjut oleh Antoni, GPS merupakan tingkatan tertinggi dalam rantai pembibitan ayam. Dari GPS dihasilkan Parent Stock (PS), yang kemudian memproduksi DOC atau day old chick atau anak ayam berumur sehari untuk selanjutnya dibudidayakan menjadi ayam pedaging maupun petelur. Proses panjang ini membutuhkan waktu sekitar satu setengah hingga dua tahun sejak impor pertama kali dilakukan.
Impor GPS dari AS sendiri sudah berlangsung secara rutin setiap tahunnya, dengan volume yang berfluktuasi disesuaikan dengan kebutuhan industri. Antoni menegaskan, dimasukkannya impor ini ke dalam kerangka ART tidak mengubah kondisi yang sudah berjalan selama ini.
“Selama ini memang dari Amerika yang kami impor. Jumlahnya bisa 580.000 ekor, bisa juga satu juta ekor, tergantung kebutuhan. Jadi dengan masuknya ke dalam ART, situasinya tidak berubah,” katanya.
Ketergantungan pada impor bibit ayam ini tidak lepas dari kondisi industri pembibitan global yang kini semakin terkonsentrasi. Dari puluhan perusahaan breeding yang pernah ada, kini hanya tersisa dua pemain besar yang masih beroperasi, yaitu Aviagen dan Cobb. Keduanya menguasai pasar dunia karena untuk menghasilkan GPS membutuhkan riset mendalam dan teknologi yang sangat tinggi.
Tingginya standar teknologi dan biosekuriti yang diperlukan membuat pengembangan GPS secara mandiri menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Terlebih, harga setiap ekor GPS terbilang tidak murah, berkisar antara US$20 hingga US$30, sehingga hanya perusahaan berkapasitas besar yang mampu mengelolanya.
Alih-alih merugikan, keberadaan impor GPS justru dinilai menguntungkan peternak lokal. Dengan terjaminnya pasokan GPS, maka rantai produksi DOC untuk budidaya komersial di dalam negeri pun dapat berjalan lancar.
“Tidak ada dampak negatif ke peternak lokal. Justru sebaliknya, peternak mendapat jaminan pasokan DOC untuk kegiatan budidaya dan komersial mereka,” tegas Antoni.
Sebagaimana disampaikan sebelumnya oleh pemerintah, impor ayam dalam kerangka ART ini ditujukan untuk memperkuat fondasi industri peternakan domestik. Total nilai impor diperkirakan berada di kisaran US$17 juta hingga US$20 juta untuk 580.000 ekor ayam bibit.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia