POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kementerian Pertanian bersama World Organization of Animal Health (WOAH), Food and Agriculture Organization (FAO) serta industri perunggasan dan obat hewan di Indonesia mendeklarasikan langkah-langkah konkrit untuk mencegah resistensi Antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR) di Indonesia. Deklarasi ini dilaksanakan pada diskusi dalam rangka memperingati Pekan Perayaan Kesadaran Antimikroba Sedunia, di Jakarta, Selasa (22/11).
Dalam kesempatan tersebut, Nasrullah selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementan menyampaikan bahwa deklarasi yang dilakukan mencakup lima poin penting untuk mendorong pencegahan AMR, terutama di lingkup industri perunggasan dan farmasi. Kelima poin tersebut, yaitu: (1) berkomitmen dalam penggunaan antimikroba dengan bijak yang tepat jenis dan tepat dosis sesuai resep; (2) meningkatkan biosekuriti dan vaksinasi untuk mengurangi tingkat infeksi; (3) mengurangi penggunaan antimikroba di peternakan dan penerapan manajemen limbah yang baik; (4) berinvestasi untuk menekan laju resistensi antimikroba, serta; (5) berkolaborasi antar industri dan akademisi untuk berbagi data dan informasi dalam upaya memerangi resistensi antimikroba.
“Deklarasi ini merupakan bentuk komitmen dan merupakan langkah nyata dan dukungan pihak industri terhadap Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba Tahun 2020-2024. Selain itu, langkah ini juga merupakan tindak lanjut hasil pertemuan G-20 di Bali, dimana negara-negara anggota G-20 berkomitmen meningkatkan upaya ketahanan sistem pangan dan pertanian melalui kerjasama yang efektif dengan stakeholder terkait, melalui promosi kerjasama public-private, investasi pengembangan kapasitas dan inovasi solusi permasalahan dampak produksi yang berkelanjutan,” jelasnya. 
Baca Juga: Pengendalian Resistensi Antimikroba Harus Dilakukan Bersama
Menurut Nasrullah, AMR dapat mengancam produktivitas ternak dan berpotensi menghambat penyediaan pangan bagi masyarakat, lantaran hewan yang sakit kehilangan kemampuannya untuk membunuh mikroorganisme yang menginfeksi ternak. “Resistensi antimikroba tidak hanya berdampak pada meningkatnya tantangan manajemen kesehatan hewan, namun juga ancaman bagi kesehatan masyarakat karena bakteri resisten dapat menyebar melalui rantai makanan,” ungkap Nasrullah. 
Antimikroba sangat diperlukan bagi sub sektor peternakan, dan banyak digunakan di industri perunggasan, maka dari itu dibutuhkan inisiatif dari pihak industri perunggasan untuk berperan secara konkrit dalam upaya pencegahan AMR melalui penerapan praktik-praktik yang baik di tingkat budidaya dan penyediaan pangan asal hewan. Ia juga menegaskan bahwa momentum ini menjadi wadah untuk memperkuat kerja sama Public Private Partnership (PPP) industri perunggasan dalam melakukan praktik baik penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab.
Lebih lanjut, sistem kesehatan global mempraktikkan pendekatan kolaboratif One Health untuk pengendalian AMR yang efektif, melalui promosi praktik–praktik terbaik untuk mengurangi penggunaan antimikroba untuk mencegah munculnya mikroba yang kebal antimikroba pada manusia, hewan, serta lingkungan. “Sebagai tindak lanjut dari deklarasi ini, kami sangat berharap agar sektor industri dapat terlibat langsung dalam penyusunan dan implementasi kebijakan AMR kedepannya,” ujarnya.
Adapun pihak industri perunggasan dan obat hewan yang menandatangani deklarasi tersebut, diantaranya PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk, PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk, PT. Medion Farma Jaya, PT. Satya Samitra Niagatama, PT. Agrinusa Jaya Santosa, dan PT. Elanco Animal Health Indonesia. Keenam perusahaan ini juga akan mengajak perusahaan lain untuk dapat ikut berkomitmen mengatasi permasalahan resistensi antimikroba. Pada kesempatannya, Jusmeinidar Jusran, Senior Vice President Poultry Production and Animal Health, PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPI) menyampaikan bahwa sejak pelarangan AGP dan resmi diberlakukan pada tahun 2018, CPI telah berkomitmen dan juga program untuk lebih sekedar mematuhi aturan. Pihaknya telah melakukan penerapan biosekuriti yang ketat dan good farming practice di seluruh unit produksi CPI, baik broiler maupun layer. Termasuk di level peternak plasma, mulai dari Sumatra bagian utara sampai Indonesia bagian timur. Menurutnya terkait antimikroba dan bagaimana upaya untuk mengurangi penggunaannya di perunggasan bukanlah sebuah hal yang sederhana.
“Terkait pengendalian resistensi antimikroba, kita akan mudah apabila berbicara hanya sebagai perusahaan saja. Seperti halnya apabila cuma tentang CPI, mulai dari sisi hulu hingga hilir, itu tidak terlalu sulit. Karena kondisi perkandangan dan sistem di perusahaan telah berjalan dengan baik dan memenuhi standar. Namun yang tidak mudah adalah bagaimana melaksanakan dan melakukan pengawasan tersebut di peternak mitra. Tetapi kami telah berusaha melakukan implementasi di lapangan melalui tim produksi untuk melakukan edukasi dan menanamkan komitmen kepada peternak mitra untuk hanya menggunakan produk-produk yag kami rekomendasikan, serta disertai dengan pengawasan. Hal ini memang tidak cukup, namun ini merupakan sebuah permulaan. Edukasi tidak akan cukup apabila tidak diikuti dengan implementasi dan pengawasan,” tegasnya.
Dirinya melanjutkan bahwa CPI juga telah melakukan peningkatan kapasitas uji laboratorium dan dokter hewan. Hal ini untuk mendukung upaya monitoring dalam implementasi yang telah dilakukan. “Dalam kurun waktu 2021-2022, penurunan penggunaan antimikroba terkhusus antibiotika pada grup CPI sangatlah signifikan. Karena kita dituntut tidak hanya menyediakan produk yang ASUH, namun juga memproduksi produk yang dapat lolos ekspor dan diterima negara luar. Produk kami harus bisa lolos diuji kapan saja, tidak hanya harus free salmonella namun juga harus bebas dari residu antimikroba dan zat lain yang sangat banyak. Sekali lagi CPI dan seluruh anak perusahaan, berkomitemen untuk mendukung gerakan untuk mengurangi resistensi antimikroba,” tegasnya.
Semangat serupa disampaikan oleh Peter Yan, selaku Komisaris PT Medion Ardhika Bhakti. Dirinya menyampaikan bahwa Medion berkomitmen untuk turut serta berperan aktif dalam pengendalian resistensi antimikroba melalui penyediaan produk yang berkualitas, SDM lapangan yang berkompeten, peningkatan kapabilitas laboratorium diagnostik serta pengembangan produk yang inovatif.  Selain itu, pihaknya juga telah melakukan study kolaboratif, survailence serta senantiasa terus memberikan edukasi untuk meningkatkan kesadaran peternak dan masyarakat umum terhadap resiko resistensi antimikroba demi memilihara kesehatan masyarakat Indonesia dan global di masa depan.
“Mari kita dukung upaya pengendalian resistensi antimikroba di Indonesia. Gunakan antimikroba dengan bijak dan bertanggungjawab,” tegasnya mengajak semua pihak.