Oleh : Muhammad Zainurrohim*
Tahun 2019, Indonesia kalah dalam sidang Dispute Settlement Body (DSB)-World Trade Organzation (WTO) atas gugatan yang dilakukan oleh Brasil. Sebelumnya, pada tahun 2017, Indonesia telah menerima dua keputusan sidang oleh DSB-WTO yang menyalahkan Indonesia karena kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia menyalahi kebijakan WTO dalam hal importasi. Setidaknya terdapat dua keputusan panel yang akhirnya membuat Indonesia harus mengakui kekalahan dan harus merevisi beberapa aturan yang dianggap menyalahi kebijakan WTO.  
Imbas kekalahan di WTO
Imbas kekalahan Indonesia tersebut membuka  pintu impor daging ayam dari Brasil semakin dekat. Tentu hal itu menuai berbagai respon  masyarakat secara luas khususnya peternak dan pelaku usaha yang bergerak pada subsektor perunggasan Indonesia. Mengingat dalam kurun waktu hingga Mei 2020, menurut data yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita, produksi daging ayam sampai Mei 2020 sebesar 1,72 juta ton, dengan kebutuhan daging ayam hanya mencapai 1,45 juta ton, yang berarti Indonesia mengalami kelebihan produksi (surplus) daging ayam.
Baca Juga: Gambaran Peta Persaingan Produk Pertanian AS Brazil
Fenomena surplus daging ayam dalam negeri tentu akan menimbulkan kecemasan tersendiri seiring dengan isu importasi produk daging ayam dari Brasil. Pasalnya hal itu akan memicu semakin terjadinya kelebihan produksi daging ayam di Indonesia Kelebihan produksi dapat terjadi akibat pasokan daging yang terlalu banyak tidak diimbangi dengan adanya penyerapan yang seimbang. Apabila hal ini terjadi, maka harga ayam di tingkat peternak dapat dipastikan akan jatuh. Hal lain yang mungkin terjadi ketika ayam Brasil masuk ke Indonesia adalah peternak dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produk daging ayam impor asal Brasil yang kabarnya harganya lebih murah.
Menengok peternakan unggas di Brasil
Sejak tahun 2014, Brasil adalah produsen utama yang berada di peringkat kedua di dunia setelah Tiongkok dalam hal produksi daging ayam ras. Brasil mampu memproduksi ayam pedaging dengan biaya produksi lebih murah dibandingkan dengan biaya produksi di Indonesia. Melihat tren persaingan global, sudah saatnya pemerintah mendukung usaha komoditas unggas dalam negeri. Komoditas unggas dalam negeri yang masih kalah bersaing dengan produk impor tentu memunculkan tanda tanya besar, mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya adalah Indonesia perlu belajar lebih banyak lagi dengan industri perunggasan Brasil untuk dapat bersaing di pasar global. *Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2020 dengan judul “Indonesia Perlu Belajar dari Industri Perunggasan Brasil”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153