POULTRYINDONESIA, Jakarta – Berakhirnya masa PPKM (Pemberlakuan Pembatan Kegiatan Masyarakat) mendorong untuk bangkitnya perindustrian di tanah air. Salah satunya industri pengolahan daging. Berangkat dari hal tersebut, Nampa (National Meat Processors Assocation – Indonesia) menghelat rapat anggota tahunan 2023 beserta workshop dengan tema “Memacu Lagi Pertumbuhan Industri Olahan Daging di Era Berakhirnya PPKM”, yang dilaksanakan di Harris Hotel & Conventions, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (15/3).
Ketua Umum Nampa, Ishana Mahisa dalam kesempatannya mengatakan bahwa penyelenggaraan acara ini didasari oleh 3 tujuan utama. Tujuan pertama untuk mengevaluasi kegiatan periode 2020 sampai 2022. Kedua untuk merumuskan dan menyusun program kerja 2022, serta berkesempatan untuk memperkenalkan teknologi baru terkait pengolahan daging.
“Ada perasaan bercampur antara kegembiraan meskipun pandemi belum berakhir, yaitu menimbulkan optimisme kita bisa tumbuh lebih cepat. Tetapi disisi lain, tahun 2023 diperkirakan akan terjadi banyak negara mengalami resesi yang bisa memberikan dampak pada bisnis olahan daging Indonesia. Namun demikian kami optimis pasca Covid-19, pemahamam dan kesadaran masyarakat akan kebutuhan protein kian meningkat,” kata Ishana.
Dalam pemaparan materinya, Prof. Dr. Ir. C. Hanny Wijaya, M. Agr selaku Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB University banyak menjelaskan mengenai produk daging olahan fungsional. Menurutnya, gaya hidup terkait pola makan di era saat ini telah berubah. Dalam menentukan makanan, masyarakat tidak hanya sekadar mementingkan nutrisi dan rasanya saja, melainkan unsur kesehatannya pun kian diperhitungkan.
“Pangan fungsional adalah pangan segar atau olahan yang mengandung komponen atau senyawa bermanfaat untuk meningkatkan fungsi fisiologis tertentu bagi masyarakat.  Sentuhan fungsional perlu diperhatikan baik dari segi on-farm seperti peternak memperbaiki manajemen pemeliharaan di sektor budi daya ternak. Pun, pada off-farm produsen olahan daging bisa menggunakan BTP (Bahan Tambahan Pangan) secara bijak,” tutur Hanny.
Terkait standardisasi, Perwakilan dari Subdirektorat Standardisasi Mutu Pangan Olahan, Direktorat Standardisasi Pangan Olahan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Yeni Restiani, S.Si., Apt mengatakan, terdapat dua sisi tujuan dalam pengawasan pangan. Melalui itu, masyarakat sebagai konsumen akan merasakan perlindungan kesehatan. Pun pada pelaku usaha mendapatkan jaminan keadilan perdagangan, kemudahan, dan kepastian dalam berusaha.
Baca Juga: Boehringer Ingelheim Berikan Perlindungan untuk Infectious Bronchitis
“Produk olahan asal hewan harus memenuhi persyaratan keamanan dan mutu. Persyaratan mutu tersebut tertuang dalam PerBPOM No. 34 Tahun 2019 tentang Kategori Pangan. Kemudian, persyaratan keamanan terkait bahan tambahan pangan terdapat dalam PerBPOM No. 11 Tahun 2019 tentang BTP. Cemaran kimia terdapat pada PerBPOM No. 8 Tahun 2018. Cemaran logam berat terdapat pada PerBPOM No. 9 Tahun 2022. Cemaran mikroba pada PerBPOM No. 13 Tahun 2019,” papar Yeni.
Dalam acara yang sama turut hadir Putu Juli Ardika selaku Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian RI. Dirinya menyampaikan bahwa saat ini terdapat industri pengolahan daging sekitar 64 perusahaan dengan investasi 3,45 triliun rupiah dan menyerap tenaga kerja sebanyak 25.839. Selain itu, pertumbuhan konsumsi daging sapi dan unggas mengalami peningkatan sebesar 9,8% dan 8,9% jika dibandingkan dari tahun 2018. Ia menyerukan, hal ini menjadi peluang bagi industri pengolahan daging dan membawa pertanda bagi pemerintah untuk terus mengembangkan industri yang dibawahi Nampa tersebut.
“Saat ini, industri agro berkontribusi 50 persen lebih terhadap PDB industri pengolahan non-migas, dan industri makanan dan minuman termasuk pengolahan daging berkontribusi sebesar 38,35%. Kami sangat berharap dan optimis bahwa masih banyak yang harus dilakukan pada industri ini. Dari sisi ekspor, industri makanan dan minuman juga sangat besar yaitu 45,71 miliar USD dan dari neraca perdagangan ini positif 32,82 miliar USD,” ucapnya.