Pengetesan flok unggas dilakukan lebih sering (sumber healthssolutions.com)
Oleh : Elis Helinna*
Satu strain Avian Influenza (AI) telah menyebar dengan cepat ke setengah Amerika Serikat (AS) bagian Timur, beberapa minggu terakhir. Dan strain baru AI ini membunuh unggas liar maupun unggas di peternakan dan meningkatkan kekhawatiran bahwa wabah yang tidak dikontrol akan membawa petaka bagi industri perunggasan sebagaimana yang terjadi tujuh tahun silam.

Sekalipun risiko penularan pada manusia rendah, para ilmuwan mengingatkan bahwa penularan di antara unggas meningkatkan potensi virus untuk bermutasi dan mengancam manusia.

Sejak awal Januari, ketika AI mulai membunuh ayam di Canada, virus ini telah teridentifikasi pada unggas air yang bermigrasi dari Florida ke Maine, dan telah menginfeksi ayam peliharaan di Virginia dan New York. Pada bulan Februari, virus AI ini telah menyebabkan ribuan kalkun di Kentucky dan Indiana sakit. Pemusnahan pun segera dilakukan dan beberapa negara telah mulai menerapkan larangan impor.
Kemudian, pemerintah federal mengumumkan bahwa virus highly pathogenic avian influenza (HPAI) ini telah ditemukan di Semenanjung Delmarva, salah satu produsen unggas terbesar di AS. Para pakar menduga unggas liar yang kembali dari muslim dingin lah yang menyebarkan virus, kemungkinan besar dari kotoran yang terkontaminasi. Seiring dengan datangnya musim semi pada akhir Maret lalu, kekhawatiran akan penyebaran virus yang kian memburuk pun meningkat.
Pejabat pemerintah federal telah mengimbau peternak unggas untuk melaporkan unggas yang sakit ataupun mati dan menyarankan agar memperketat biosecurity, termasuk di dalamnya mencegah kontak antara unggas liar dan unggas di peternakan atau pekarangan rumah. “Perlu diperhatikan bahwa avian influenza tidak tergolong berisiko pada kesehatan masyarakat dan tidak memiliki risiko keamanan pangan,” ujar Mike Stepien, juru bicara Layanan Inspeksi Kesehatan Ternak dan Tumbuhan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA/APHIS) melalui email.
Pada awal Maret lalu, USDA telah mengonfirmasi keberadaan highly pathogenic avian influenza (HPAI) di dua flok non-komersial (kurang dari 50 ekor) di Connecticut dan Iowa sebelah barat. Keberadaan virus di Iowa sangat mengkhawatirkan mengingat Iowa merupakan produsen telur terbesar Amerika Serikat. Wabah AI sebelumnya membuat 33 juta unggas di Iowa mati atau dimusnahkan. Kini, karena virus yang ditemukan bukan berasal dari kandang komersial, belum ada masalah dengan pasokan telur dari wilayah ini.
Baca juga : Sub Sektor Perunggasan di Balik Perluasan Peternakan Global dan Isu Lingkungan
Namun demikian kasus-kasus baru terus bermunculan dan dilaporkan, hingga 8 Maret lalu USDA telah mendapat laporan wabah HPAI di 21 flok komersial di 12 negara bagian, termasuk di antaranya Delaware, Maryland, Virginia, Missouri, South Dakota dan Indiana.
Animal and Plant Health Inspection Service (APHIS) mengonfirmasi HPAI di satu flok broiler dengan populasi 240.000 ekor yang berada di Stoddard County, sebelah tenggara Missouri, satu flok pullet ayam petelur sejumlah 265.000 ekor di Cecil County, Maryland dan satu flok unggas di Charles Mix County, South Dakota. Kerugian terbesar sejauh ini (per 10 Maret) adalah 1,2 juta unggas komersial di New Castle County, Delaware.
Bulan sebelumnya, 171.000 kalkun telah mati dan dimusnahkan di Indiana dan 284.000 unggas di Kentucky mati atau dimusnahkan. Sementara itu pemerintah federal yang memantau unggas liar melaporkan 50 lagi deteksi HPAI di negara bagian Indiana, Kansas, Missouri, dan Nebraska. Dengan demikian total 357 unggas liar dari 20 negara bagian telah tertular HPAI.
Kendati tingkat bahaya terhadap manusia tergolong rendah, namun para ilmuwan mengamati dengan cermat virus H5N1 Eurasia yang memiliki hubungan erat dengan strain Asia yang telah menginfeksi ratusan manusia pada tahun 2003 ini. Saat itu, hampir seluruh korban adalah para pekerja peternakan yang secara langsung menangani ayam yang terinfeksi. Virus ini tidak menular secara efisien di antara manusia, namun sangat berbahaya karena tingkat kematiannya mencapai 60%, demikian menurut Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).
Strain yang saat ini beredar di Amerika Serikat belum ada yang meloncat ke manusia, namun para ahli virus mengatakan jumlah infeksi yang meningkat antar unggas mengkhawatirkan karena meningkatkan kemungkinan virus bermutasi yang bisa membuatnya mudah menular ke manusia. Dr. Gail Hansen, seorang dokter hewan kesehatan masyarakat yang juga seorang epidemiologist di Kansas mencatat bahwa virus-virus influenza secara historís menjadi penyebab pandemi yang berdampak pada manusia.
Beberapa ahli sejarah medis telah melacak pandemi influenza pada tahun 1918 berasal dari rekrutmen tentara di Kansas yang kemungkinan terinfeksi patogen dari peternakan dan kemudian menyebar ke kamp-kamp militer di Eropa. “Dahulu para ilmuwan selalu berasumsi bahwa pandemi berikutnya adalah influenza pernafasan. Kita salah tentang Covid, tetapi virus-virus jenis inilah yang membuat kita tetap terjaga dan waspada,” ujar Hansen. *Koresponden Poultry Indonesia di New York
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2022 dengan judul Industri Perunggasan AS Khawatirkan Penyebaran AI. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153