Kolaborasi dan komunikasi adalah poin penting dalam berbisnis
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dalam rangka mengingkatkan kapasitas SDM yang mumpuni dan memiliki wawasan yang luas, Pusat Pendidikan Pertanian menggelar kuliah umum bertema “Livestock and Poultry : Domestic, World Markets and Trade”, Kamis (29/7). Acara yang bertajuk “Millenial Agriculture Forum” ini digelar secara virtual melalui aplikasi Zoom dan dihadiri oleh mahasiswa maupun dosen Politeknik Pembangunan Pertanian seluruh Indonesia.
Berdasarkan paparan dari Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr. selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) mengungkapkan bahwa kuliah umum bagi mahasiswa sangat diperlukan untuk meningkatkan cakrawala berpikir, kapasitas dan pengalaman. Pada kuliah umum kali ini banyak dibicarakan terkait market, baik domestik maupun dunia.
Lebih lanjut menurutnya, potensi pasar domestik untuk peternakan dan perunggasan masih sangat luas sekali, belum lagi apabila ditambah dengan pasar internasional. Namun Dedi menegaskan bahwa syarat untuk bisa mengambil market tersebut dengan menciptakan produk yang berdaya saing. Dedi juga menambahkan, untuk mempunyai daya saing, para pelaku usaha harus dapat meningkatkan efisiensi dengan menekan biaya produksi namun tetap mempertahankan atau bahkan meningkatkan produktivitas usaha.
“Syaratnya produk kita harus mempunyai daya saing yang tinggi untuk bisa menembus pasar global. Selain itu, daya saing juga diperlukan di dalam negeri agar tidak kalah dengan produk impor seperti daging yang tidak mungkin lagi dibendung,” tegasnya.
Masih dalam acara yang sama, Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec, Dekan Sekolah Vokasi IPB University yang hadir sebagai pembicara, banyak menjelaskan terkait dinamika industri serta market peternakan dan perunggasan, baik secara domestik maupun internasional. Selain itu, Arief juga menyinggung terkait tantangan pengembangan industri perunggasan di Indonesia.
Lebih lanjut menurut Arief, industri perunggasan di Indonesia mempunyai dua sistem karakteristik yang sangat berbeda, dimana terdapat peternak tradisional dan disisi lain ada industri yang sudah sangat maju. Apabila dilihat dari kacamata supply chain, mulai dari input sampai market masih banyak dijumpai tantangan yang harus dihadapi oleh industri perunggasan.
“Dengan 2 sistem karakteristik ini, menurut saya pemerintah harus mempunyai 2 kebijakan yang berbeda. Untuk perusahaan besar, seharusnya didorong untuk melakukan ekspor serta dibantu membuka akses pasar internasional yang kita tahu tidak mudah. Kemudian untuk peternak tradisional, pemerintah bisa saja membantu dalam kredit yang murah, perlatan, maupun pengorganisasian. Namun daftar statistiknya harus lengkap seperti nama dan alamatnya, sehingga memang memudahkan untuk ditindaklanjuti,” ungkapnya.
Maka dari itu, Arief menegaskan bahwa industri perunggasan harus segera berubah menuju ke modernisasi baik dalam bentuk integrasi vertikal maupun horizontal dengan menjalankan usaha bersama seperti koperasi.