POULTRYINDONESIA, Bogor – Setelah digelar pada pertengahan bulan lalu, Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) bersama dengan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) kembali menggelar acara Rembuk Perunggasan Nasional di daerah Bogor, Rabu (30/9).
Persoalan jatuhnya harga live bird masih menjadi alasan utama bagi para stakeholder untuk bertemu dan mencari jalan keluar.
Singgih Januratmoko, Ketua Umum PINSAR Indonesia menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah, dalam hal ini Dirjen PKH yang telah mengeluarkan surat edaran (SE) dalam upaya menjaga stabilitas harga ayam.
“Harga mulai naik, saya harap teman-teman semua baik integrasi maupun peternak bisa menahan diri. Saat ini kita memang mengalami turbulensi, diprediksi yang paling parah semester ini hingga Maret tahun depan,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, apresiasi juga disampaikan oleh Herry Dermawan selaku Ketua Umum GOPAN. Dirinya berterima kasih kepada pemerintah yang telah kembali mengeluarkan SE yang isinya sangat pro kepada peternak.
Tak tanggung-tanggung selama dua bulan telah dikeluarkan tiga surat edaran. Menurutnya tinggal bagaimana target yang dituju oleh SE itu bisa menghormati dan melaksanakannya terutama untuk para perusahaan pembibit dan integrator.
“Saat ini keluarnya SE sering disalahartikan oleh beberapa pihak, dengan naiknya harga DOC ketika SE dikeluarkan,” ujarnya.
Baca Juga: Setengah Bulan Usai Demo Peternak Gelar Rembuk Perunggasan
Rembuk Perunggasan Nasional ini dirasa menjadi forum yang efektif untuk mengkoordinasikan dan mengupayakan jalan keluar (solusi) mengenai permasalahan yang terjadi di perunggasan nasional.
Rembuk tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa akan ada kenaikan harga ayam hidup terutama di area Jabodetabek, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan ini akan terus dikawal dan terus dievaluasi bersama.
Syamsul Maarif, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Dirkesmavet) yang juga hadir menyampaikan bahwa pemerintah sudah tidak bisa atau makin sulit menahan daging ayam dari Brasil hasil kekalahan pada sidang WTO yang lalu.
Menurutnya, kemungkinan untuk daging ayam asal Brasil bisa masuk tahun depan karena persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh Indonesia bisa terpenuhi.
Kondisinya memang menyulitkan Indonesia. Apabila Indonesia tetap menahan tanpa alasan yang kuat, maka akan dijatuhkan denda 350 juta dolar per tahun.
“Masalahnya ketika Brasil masuk, maka ada 14 negara lain juga telah siap masuk. Untuk itu diperlukan kekompakan dari seluruh pelaku usaha dan mulai bergerak ke peternakan yang efisien dan efektif sehingga mempunyai daya saing,” sebutnya.










