Oleh: Jojo, S.Pt.,MM*
Kelas menengah menjadi isu hangat di Indonesia karena memiliki daya tarik dan pertumbuhannya yang sangat besar, dengan pengeluaran lebih dari Rp130 triliun per bulan. Menurut World Bank (2017), setidaknya 52 juta orang masuk dalam kategori kelas menengah dengan kisaran pengeluaran harian US$2-20 dan diprediksi akan terus meningkat. Kharas dan Gertz (2010) memprediksi jumlah kelas menengah akan naik 76% (2009-2020). Sepuluh tahun kemudian diproyeksikan akan naik hingga 2,6 kali lipat dibanding tahun 2009.
Middle income trap atau jebakan pendapatan kelas menengah merujuk situasi ekonomi sebuah negara yang mandek mau menuju negara berpenghasilan tinggi minimal US$12.475 per tahun.
Peningkatan jumlah ‘kluster’ ini telah mengubah wajah demografi dan sosioekonomi Indonesia. Kelompok ini dominan dalam pertarungan wacana publik. Secara politis mereka menjadi kekuatan baru yang sangat diperhitungan karena cukup mapan, kritis, rewel, egois (selfish), cenderung konsumtif, sekaligus vokal menyampaikan aspirasi. Meningkatnya kelompok tersebut diharapkan berdampak positif bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesejahteraan masyarakat yang ditransmisikan ke perdesaan.
Aktivitas konsumsi masih menjadi penopang dan motor utama penggerak roda ekonomi Indonesia dengan dengan persentase 56,01% membentuk postur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. PDB menjadi salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi negara dalam satu periode tertentu. PDB per kapita Indonesia meningkat beberapa tahun belakangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada tahun 2018 sebesar US$3.927 atau sekitar Rp56 juta/kapita. Angka tersebut naik dibandingkan tahun 2017 (Rp51,9 juta) dan 2016 (Rp47,9 juta). Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 silam sebesar 5,17 persen, atau lebih rendah dari target APBN sebesar 5,4%. Celakanya, pertumbuhan ekonomi tersebut masih ditopang sektor konsumsi yang berasal dari impor pangan bukan dari daya saing ekspor dan investasi.
Sektor konsumsi penopang pertumbuhan ekonomi jelas bukan berita menyejukan guna menciptakan kesinambungan dan mencerminkan kualitas pembangunan ekonomi. Oleh karena konsumsi tersebut didorong kelas menengah yang terus tumbuh sementara masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Data World Bank mencatat kelas menengah Indonesia mengalami pertumbuhan tertinggi dari kelas lainnya yaitu 11% dalam 10 tahun terakhir dan tumbuh sebesar 21% per tahunnya. Hal ini menjelaskan sebuah fenomena ketimpangan dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Terkait potensi pertumbuhan ekonomi yang ditopang konsumsi domestik, IMF jauh-jauh hari telah mengingatkan bisa masuk keranjang middle income trap.
Middle income trap atau jebakan pendapatan kelas menengah merujuk situasi ekonomi sebuah negara yang mandek mau menuju negara berpenghasilan tinggi (high income countries) minimal US$12.475 per tahun. Setelah sebelumnya sukses mencetak pertumbuhan tinggi. Saat ekonomi terhambat, maka terjadi stagnasi peningkatan standar hidup masyarakat, lambat laun bisa jatuh masuk kategori miskin lagi. Satu sisi masyarakatnya belum bisa menikmati tingkat kemakmuran seperti layaknya kehidupan penduduk negara maju (advanced economies). Bisa dikatakan miskin lagi sebelum merasakan makmur.
Indikasi middle income trap tercermin makin lesunya kinerja pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tidak move on dari 5% mengindikasikan hal itu. Beberapa faktor pendorongnya lemah dalam mengendalikan SDA sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. SDA tersebut telah dikuasai segelinitir orang (privatisasi). Kemudian, produktivitas usaha rendah sehingga tidak mampu menimbulkan efek pengganda (multiplier effect) yang kuat menopang performa pertumbuhan ekonomi. Lainnya, volume ekspor juga minim karena kalah bersaing dengan negara lebih maju. Kita sedang mengalami hal ini.
Sebuah negara terjebak dalam kondisi middle income trap karena strategi kebijakan yang diterapkan pemerintah tidak efektif mengakomodasi pertumbuhan ekonomi (Agenor dan Canuto 2012). Sebaliknya, sebuah negara dapat menghindari jebakan kondisi middle income trap dengan cara mengubah kebijakan pemerintah yang dinilai efektif. Korea Selatan sebagai contoh dianggap berhasil keluar dari jebakan ini. Ciri negara yang terjebak middle income trap, yaitu : rasio investasi rendah, pertumbuhan manufaktur yang lambat, industrinya kurang terdiversifikasi dan kondisi pasar input tenaga kerja yang buruk (pengangguran tinggi). Tanda-tanda tersebut lengkap ada di tengah kita.
McKinsey Global Institute (2012) memperkirakan pada 2030 pertumbuhan kelas konsumen Indonesia menjadi 135 juta dari 45 juta penduduk yang saat ini berpendapatan US$3.600 per kapita per tahun. Sebenarnya, Indonesia juga memiliki potensi dan peluang menjadi negara besar kekuatan ekonomi dunia dan memprediksi ekonomi Indonesia menjadi terbesar ketujuh dunia pada 2030, bila dikelola secara tepat. Sementara, Bank Indonesia memprediksi potensi pendapatan per kapita Indonesia bisa tumbuh di atas US$10.400 pada tahun 2045, sedangkan pada tahun 2017 pendapatan per kapita Indonesia masih diangka US$3.876,8.
Sisi lain, jumlah penduduk miskin Indonesia menurut BPS 2018 sebanyak 25,95 juta jiwa atau 9,82 persen bila menggunakan indikator pengeluaran maksimal US$1 per hari. Tetapi bila standar kemiskinan Bank Dunia dan Asian Development Bank yang digunakan dengan pengeluaran US$2 per harinya, maka angka orang miskin Indonesia bisa jauh lebih banyak lagi.*Mahasiswa Doktoral Ilmu Ekonomi Pertanian IPB University
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi April 2020 ini dilanjutkan pada judul “Peran Perunggasan dalam Membentengi Jebakan Pendapatan Kelas Menengah”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...