POULTRYINDONESIA, Jakarta — Infectious Bronchitis Variant atau IB Varian masih menjadi tantangan di lapangan pada peternakan unggas. Virus IB yang beramplop dapat bertahan pada saluran pencernaan dan tubuh unggas hingga beberapa bulan. Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, M.P., selaku Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), pada Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional yang diadakan pada pameran Indo Livestock di Jakarta Convention Center, Kamis (7/7).
Gejala klinis IB Varian pada layer adalah bentuk tubuh yang seperti penguin serta sistik oviduk pada layer dan pullet. Virus IB strain QX like D388 menginduksi akumulasi cairan oviduct mencapai 81% ayam hidup pasca tantang. Namun, sebanyak lima isolat QX Chinese berbeda juga ditemukan dapat menginduksi dilatasi oviduk 20% populasi umur 14 sd 42 hari. Strain lainnya yang dapat menginduksi dilatasi oviduk antara lain strain Mass 33, M41, isolat TW-1, dan strain 4/91.
“Selain itu, kelainan pada kerabang telur juga dapat menjadi penanda IB Varian, seperti kerabang yang tipis, kasar, hingga telur tanpa kerabang. Ruptur calon telur juga bisa ditemukan pada kejadian IB Varian,” jelas Michael.
Baca Juga: Ketersediaan Pangan Dibahas dalam Indo Livestock 2022
Diagnosa penyakit pernapasan ini harus dilakukan berdasarkan data gejala klinis dan patologi makroskopis. Genotyping juga dapat dilakukan dengan metode RT-PCR dan sequensing. Data genetik hasil sekuens dapat digunakan untuk memprediksí serotipe Virus IB, melihat dinamika molekuler dan evolusi, serta kekerabatan antar virus IB.
“Pemahaman kasus IBV dan patogenesis memerlukan diagnosa yang tepat agar dapat menentukan waktu dan jenis sampel isolasi, apakah akut atau kronis. Pada kasus akut, trakea dengan titer virus tinggi akan turun sampai level tidak terdeteksi 2 minggu pasca infeksi. Sedangkan pada kasus kronis, sampel utama yang dibutuhkan adalah seca-tonsil atau swab kloaka dan ginjal. Kualitas dan kuantitas sampel perlu diperhatikan dan  dikirim dalam kondisi dingin (es) dan secepat mungkin sampai laboratorium,” ujarnya.
Untuk penanganannya sendiri, Michael mengatakan bahwa isolasi dan culling dapat dilakukan tergantung keparahan penyakit. Penggunaan antibiotik yang tepat dosis dan tepat teknis dapat membantu menekan kejadian infeksi sekunder agar kondisi tidak semakin buruk. Tambahan terapi suportif seperti multivitamin, mengeliminasi faktor penyebab stres, mengevaluasi program vaksinasi juga perlu dilakukan. 
“Evaluasi program vaksinasi meliputi tipe vaksin yang digunakan, serotipe vaksin, dan jadwalnya. Hal lainnya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan tatalaksana peternakan dan program biosekuriti,” terangnya.
Masih mengenai vaksin, Michael mengatakan bahwa program vaksinasi akan bervariasi tergantung data epidemiologi IBV di lapangan. Meski vaksinasi merupakan pilihan pencegahan terbaik, akan tetapi tetap harus diikuti dengan implementasi tata laksana dan biosekuriti yang memadai.