Oleh: Ni Made Dinda Arya Ningrum*
Seperti yang sudah diketahui, Indonesia dikenal dengan wilayah yang mempunyai iklim tropis. Keadaan iklim tropis dengan kelembaban tinggi dapat memberikan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangbiakan cacing. Sehingga tidak heran, ancaman penyakit oleh cacing ini akan selalu ada di sepanjang waktu. Bagi peternakan ayam, tindakan biosekuriti, sanitasi kandang, dan program preventif dengan memberikan obat cacing menjadi kunci dalam upaya pencegahan terjadinya penyakit ini.

Perhatian peternak pada infeksi cacing perlu digalakkan, mengingat dampak negatif yang ditimbulkan dari segi kualitas dan kuantitas ternak bisa berakibat fatal

Infeksi cacing memiliki istilah lain helminthiasis. Merujuk pada buku “Manual Penyakit Unggas” Cetakan Kedua yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan tahun 2014, menyebutkan bahwa pada ternak ayam penyakit ini sering menyerang baik pada tipe pedaging maupun tipe petelur, sedangkan pada ayam buras kemungkinan untuk tertular bahkan menjadi lebih besar karena sistem pemeliharaan yang terbiasa bebas berkeliaran atau diumbar.
Dampak infeksi cacing memang tidak dirasakan secara langsung, sehingga sering kali diabaikan oleh para peternak dan baru disadari setelah infeksi penyakit menjadi berat atau kronis. Penyakit ini perlahan-lahan dapat menyebabkan turunnya produktivitas pada ayam. Infeksi cacing biasanya disebabkan oleh berbagai jenis cacing, diantaranya adalah cacing pada pencernaan jenis Cestoda (cacing pita) dan Nematoda (cacing gilig). Infestasi cacing yang sering terjadi adalah jenis Cestoda seperti Raillietina sp. dan Davainea sp. sedangkan untuk jenis Nematoda seperti Ascaridia galli dan Capilaria sp.
Pada awal terjadinya infeksi cacing, gejala klinis tidak begitu terlihat jelas. Pada infeksi yang berat atau kronis, ayam akan mengalami penurunan berat badan, kurus, lemas, tidak aktif, nafsu makan menurun, diare berlendir yang disertai pendarahan, selaput lendir pucat, dan anemia.
Baca juga : Lika Liku Jalan Peternak Layer
Khusus pada ayam petelur atau layer, gejala klinis lainnya yang akan tampak adalah penurunan kualitas kerabang telur, dimana kerabang telur akan menjadi tipis dan berpasir. Selain itu, kuantitas telur juga akan menurun karena nutrisi yang dibutuhkan ayam untuk menghasilkan telur sudah tidak memadai. Hal-hal tersebut di atas dapat terjadi apabila infeksi sudah berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Infeksi cacing juga diketahui dapat berpotensi menyebabkan penyakit lainnya masuk ke dalam tubuh ayam. Hal ini disebabkan oleh adanya luka pada usus karena cacing, yang dapat menyebabkan tumbuhnya bakteri yang bernama Clostridium perfringens. Dimana bakteri ini dikenal sebagai penyebab penyakit Necrotic Enteritis (NE).
Oleh karena itu, diperlukan tindakan pencegahan akibat infeksi cacing diantaranya, unggas usia muda harus dipisahkan dari unggas usia dewasa, dan lingkungan tempat unggas dipelihara harus mempunyai saluran air yang baik sehingga air tidak tergenang di tanah. Ayam yang dipelihara dalam kandang yang menggunakan litter juga harus mendapatkan pengaturan udara agar sirkulasi pertukaran udara segar bisa terjadi, dan litter harus diganti secara berkala, tempat pakan dan minum harus sering dibersihkan.
Infestasi yang berat dari infeksi cacing umumnya terjadi pada kandang dengan litter yang tebal dan sangat lembap. Ketika akan memasukkan ayam baru dalam jumlah besar dalam kandang litter, maka litter harus dibiarkan selama beberapa hari terlebih dahulu untuk dilakukan desinfeksi dan pemanasan sehingga diharapkan litter menjadi kering dan telur-telur cacing yang mengandung larva infektif juga akan mati.
Sedangkan, untuk tindakan pengobatan yang paling sering digunakan pada ayam adalah dengan pemberian piperazine. Merujuk pada buku “Manual Penyakit Unggas” Cetakan Kedua yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan tahun 2014, menyebutkan bahwa anthelmentik jenis ini sangat efektif dan dapat diberikan melalui makanan ataupun minuman dengan dosis sebanyak 300-440 mg per kg pakan atau 440 mg piperazine sitrat per liter air minum.
Pilihan obat anthelmintik lainnya adalah hygromisin B dosis 8 gr per ton selama 8 minggu, dapat juga diberi albendazol dengan dosis 3,75mg/kg bb, fenbendazol dengan dosis 15-20 mg/kg bb selama 3 hari berturut-turut untuk mengendalikan infestasi cacing pada ayam atau 30-60 ppm dalam pakan selama 6 hari berturut-turut serta levamisol 37,5 mg/kg pada pakan atau air minum.
Sekian pembahasan mengenai infeksi cacing pada ayam, walaupun sering diabaikan tetapi penyakit ini dapat berakibat fatal bagi peternakan ayam. Oleh karena itu, seperti pepatah mengatakan, ‘Lebih baik mencegah daripada harus mengobati’. *Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dan Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Suara Satwa