Seminar nasional MIPI secara virtual
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Industri perunggasan hingga saat ini masih belum bisa terlepas dari gejolak harga yang fluktuatif di tingkat peternak. Baik untuk komoditas broiler maupun layer, saat ini masih sering kali menjual ayam hidup maupun telur di bawah Biaya Pokok Peternak. Berangkat dari hal tersebut, Perkumpulan Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) sebagai cabang dari World Poultry Science Assosiation yang berpusat di Belanda mengadakan seminar nasional bertemakan ‘Mengatasi Gejolak Industri Perunggasan’ secara daring melalui aplikasi Zoom, Rabu, (15/9).
Acara tersebut mengundang Dirjen PKH sebagai Keynote Speaker yang diwakili oleh Direktur Bibit dan Produksi Ir. Sugiono., MP., Ir. Achmad Dawami sebagai Ketua GPPU, drh. Desianto B Utomo PhD selaku Ketua GPPU, dan Singgih Januratmoko sebagai Ketua Pinsar Indonesia.
Baca juga : Tantangan dan Peluang Perunggasan Indonesia Paska Pandemi
Berdasarkan pemaparan dari Presiden MIPI Prof. Arnold P Sinurat, Secara teknis, performa ayam ras yang di budi dayakan oleh para peternak tidak kalah dengan negara maju, namun khusus di dalam negeri, masih tertinggal dalam hal performa ekonomi, terutama pencapaian keuntungan atau profit untuk peternak. Dengan semangat gotong royong dan ingin memajukan industri perunggasan tanah air, Arnold berharap dengan adanya seminar nasional ini, bisa melahirkan sebuah usulan yang bisa diambil oleh pemangku kebijakan agar industri perunggasan bisa berjalan dengan harmonis.
“Sebagai suatu organisasi nirlaba yang menghimpun para peneliti, pendidik, peternak, pengusaha dan pencinta unggas, MIPI merasakan, dan mengamati sering terjadi gejolak dalam industri perunggasan nasional. MIPI ingin terlibat bersama-sama dengan semua pihak dalam mengatasi gejolak ini. Melalui seminar ini kami berharap ada sesuatu yang bisa dirumuskan, yang dapat kita tindaklanjuti bersama untuk menyelesaikan permasalahan, atau paling tidak mengurangi gejolak yang sering terjadi di industri perunggasan nasional,” pungkas Arnold.
Menurut Achmad Dawami saat sesi pemaparan materi, Gejolak di industri perunggasan memang masih ada hingga saat ini. Menurutnya gejolak yang terjadi saat ini erat kaitannya dengan demand dan supply yang belum bisa mencapai titik keseimbangan.
“Jika dikatakan oversupply, benarkah terjadi oversupply? Karena kalau dibilang oversupply, demand yang menurun juga bisa menyebabkan oversupply. Jika dilihat dari data impor GPS broiler tahun ke tahun hingga 2021, bisa dilihat bahwa jumlahnya menurun, bagi kami bisa dikatakan tidak berkembang. Banyak sekali masalahnya, dari mulai tingginya biaya produksi terutama sapronak,” jelas Dawami.
Dalam kesempatan yang sama, menurut drh. Desianto B. Utomo permasalahan yang dihadapi oleh industri pakan adalah seputar ketersediaan dan harga jagung. Menurut Desianto, pada tahun 2019 harga jagung relatif lebih rendah dari harga yang terbentuk saat ini.
“Harga jagung sejak semester pertama bahkan pada saat musim panen pertama yang menyumbang 65% dari total produksi nasional harga jagung sudah tinggi, bahkan pada bulan September ini berada di angka Rp 6.000, dengan franco pabrik kadar air 15%. Kami khawatir ketika panen raya kedua itu harganya semakin tinggi, karena dari sisi produksi yang hanya sekitar 35-40% dari total produksi jagung nasional,” ujar Desianto.
Selanjutnya menurut pemaparan dari Dirbitpro Sugiono, saat ini untuk komoditas broiler maupun layer masih dibayang bayangi oleh faktor produksi yang berlebih, dan masih terjadinya ketimpangan produksi antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Hal tersebut juga sangat berpengaruh terhadap angka konsumsi komoditas layer dan broiler nasional.
“Di daerah Indonesia Timur atau wilayah lain, konsumsi daging ayam dan telur bisa dikatakan masih rendah. Mereka makan daging ayam atau telur hanya jika ada perayaan atau kegiatan tertentu. Sedangkan di Pulau Jawa, produksi bisa dikatakan berlebih. Sampai hari ini, upaya yang kami tempuh masih di seputar Cutting HE dengan angka rata-rata sebesar 60-70 juta butir telur, dan telur yang kami cutting itu adalah telur yang sudah tidak bisa dikonsumsi oleh masyarakat,” kata Sugiono.

Baca juga : Menanti Kewajaran Harga Livebird Ayam Pedaging

Masih dalam kesempatan yang sama, menurut Singgih Januratmoko, banyak sekali faktor yang menyebabkan gejolak yang terjadi di dunia perunggasan. Sehingga dalam mewujudkan industri perunggasan yang kondusif perlu adanya kolaborasi antar stakeholder perunggasan.
“Solusi yang bisa diterapkan yaitu perusahaan besar menjual ayamnya dalam bentuk ayam tanpa bulu, artinya tidak menjual ayam dalam bentuk hidup atau livebird. Pertanyaannya, sekarang apakah Pemerintah itu berani lewat Ditjen yang terkait semisal Ditjen PKH Kementan atau Ditjen PDN Kemendag,” tutur Singgih.
Dalam acara Seminar Nasional tersebut juga terdapat sesi paralel dengan lima topik yang diharapkan dapat membantu industri perunggasan menemukan jalan keluar dari gejolak yang ada. Kelima topik tersebut adalah Pembibitan Unggas; Bahan Pakan dan Nutrisi Unggas; Budi Daya, kesehatan dan Kesejahteraan Unggas; Sosial Ekonomi Perunggasan; dan yang terakhir adalah Hilirisasi Unggas.