POULTRYINDONESIA, Jakarta – Suksesnya kegiatan budi daya broiler tidak terlepas dari manajemen pemeliharaan yang dilakukan oleh para peternak. Saat ini, genetik broiler telah mengalami perkembangan secara terus-menerus, yang juga membawa tuntutan dari segi perkandangan. Hal ini mengemuka pada acara Poultry Indonesia Forum yang ke-26 dengan tema “Inovasi Terkini Perkandangan Broiler Modern”, yang diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom, Rabu (22/2).
Dalam materinya, Gondo selaku Sales Manager PT Ansell Jaya Indonesia menceritakan terkait kondisi perkandangan broiler yang semakin berkembang. Setelah munculnya sistem kandang closed house, teknologi konsep dan peralatan kandang broiler semakin inovatif. Salah satunya adalah konsep broiler elevated dengan penampilan 2 lantai. Lantai dasar menjadi tempat feses ayam, sedangkan lantai kedua adalah tempat budi daya ayam yang menggunakan alas berupa slat. Dengan ini, maka ayam tidak bersentuhan langsung dengan fesesnya dan lebih mudah dalam membersihkan kandang.
“Saat ini ketersediaan sekam itu tidak mudah dan bersaing dengan industri lain. Salah satu inovasi yang keluar adalah slat broiler. Alat tersebut sangat membantu peternak karena dari ayam umur 1 hari tidak perlu menggunakan sekam. Tinggi broiler slat ini 20 cm, sehingga feses ayam itu akan langsung turun ke bawah. Kelebihannya karena tidak perlu memakai sekam, maka kandang akan menjadi lebih bersih dan ayam lebih sehat,” papar Gondo.
Sistem kandang broiler, lanjut Gondo, terdapat inovasi baru yang disebut dengan “closed broiler cage”. Berdasarkan metode panennya, closed broiler cage terdapat 2 macam yakni panen manual dan otomatis. Sistem tersebut hampir serupa dengan kandang peternakan ayam petelur, namun penggunaan closed broiler cage terdapat peralatan yang sedikit berbeda. Ia meyakini bahwa sistem closed broiler cage memiliki hasil produksi yang lebih optimal dibandingkan sistem closed broiler flooring.
“Benefit dari inovasi closed broiler cage adalah kapasitas per meter persegi bertambah 66,3% dari closed flooring system. Kalau asumsi closed broiler flooring dapat menampung 15 ekor ayam dengan total bobot panen 30kg/m2, maka di closed broiler cage mampu mencapai total bobot panen 50kg/m2 karena mampu menampung ayam lebih banyak,” lanjutnya.
Kemudian, pemaparan dilanjutkan oleh Didik Kusmanto selaku Senior Engine Consultant PT Kubota Indonesia. Dalam kesempatannya, Didik membawa materi mengenai penggunaan sumber energi alternatif pada kandang broiler dengan menggunakan mesin diesel. Menurutnya, sering ditemui di peternak terkait kematian ayam yang disebabkan oleh faktor kelistrikan. Hal ini lantaran risiko listrik kerap mati akibat cuaca yang tidak dapat diprediksi.
“Inovasi penggunaan mesin diesel pada kandang broiler berasal dari survei yang kita lakukan kepada peternak. Di kandang closed house sering terjadi kasus voltase listrik naik-turun, yang menyebabkan blower tidak dapat bergerak,” ucap Didik.
Menyadari bahwa mesin diesel tidak dapat intermiten secara otomatis, maka ia merekomendasikan peternak untuk menggunakan energi kombinasi antara listrik dan mesin diesel. Sebab, biaya investasi dan operasional akan lebih murah, serta memiliki risiko lebih rendah khususnya dibanding arus single phase. Disamping itu, peralatan kandang dapat berjalan intermiten secara otomatis.
Masih dalam acara yang sama, Prastyo Ruandhito, selaku Chief Executive Officer BroilerX menerangkan mengenai penerapan teknologi digital dalam budi daya broiler. Dirinya mengatakan sebagai modernisasi di sektor budi daya broiler, pemanfaatan teknologi digital menjadi penting. Pasalnya, teknologi digital berperan untuk memudahkan peternak dalam mengambil keputusan yang berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Sebab data yang diperoleh di kandang akan langsung tercatat dan disimpan di cloud server, serta peternak mendapatkan early warning system melalui perangkat yang tersambung ketika ada kendala di kandang.
“Melalui teknologi IoT (Internet of Things), kita bisa memantau kondisi kandang dari kapan dan dimana saja peternak berada. Kita bisa memantau mulai dari suhu kandang, kelembapan, amonia, kecepatan angin, konsumsi air, kemudian terdapat kontrol otomatis terhadap kecepatan kipas, pemanas, dan inlet. Melalui sistem ini, akan ada notifikasi muncul di layer handphone yang tersambung apabila terdapat kondisi kandang yang tidak ideal,” terang Prastyo.