Dalam beberapa tahun ke belakang, teknologi perkandangan ayam ras mengarah kepada optimalisasi produksi dan solusi dalam pengelolaan kotoran.
Teknologi kini telah merambah ke berbagai lini produksi. Tak hanya industri digital semata, namun industri perunggasan nasional pun, tak mau tertinggal dalam adaptasi teknologi. Terlebih dengan perkembangan genetik, yang diiringi dengan kondisi cuaca yang tak menentu, membuat proses budi daya harus dilakukan sebaik mungkin. Hal ini bertujuan agar potensi genetik yang ada bisa dioptimalkan. Untuk itu, teknologi perkandangan yang tepat menjadi salah satu titik krusial yang perlu diperhatikan oleh peternak.
Di sisi lain, teknologi perkandangan pun juga terus berkembang secara dinamis. Sales & Marketing Director BEST Poultry Solution, Gondo Jcofs menjelaskan bahwa telah terjadi berbagai perkembangan sistem perkandangan di Indonesia, baik pada kandang broiler maupun layer. Dirinya memberikan contoh, dulu pemeliharaan broiler menggunakan sistem kandang open house dengan pakan dan minum yang diberikan secara manual. Dan untuk saat ini telah bergeser ke kandang closed house flooring system dengan berbagai peralatannya yang serba otomatis, seperti tempat minum otomatis dengan nipple, pakan otomatis dengan pan feeder, dan pengaturan suhu kandang dengan kipas yang diatur dengan controller.
Kandang model ini telah banyak menjamur di berbagai daerah. Bahkan beberapa perusahaan inti kemitraan broiler, menjadikan kandang closed house sebagai salah satu persyaratan dalam kontrak kemitraannya. Pun pada peternakan layer, dimana penggunaan kandang closed house juga mulai tumbuh di beberapa daerah.
Tingkatkan produksi dengan broiler cage
Layaknya sebuah handphone yang terus mengeluarkan inovasi dan seri terbaru, menurut Gondo hal serupa juga terjadi pada sistem dan peralatan perkandangan broiler. Terbaru, saat ini terdapat sistem perkandangan broiler yang diperkirakan ke depan akan banyak digunakan yaitu ‘Broiler Cages System’. Ia meyakini bahwa broiler cage system ini akan membuat performa produksi yang lebih optimal dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan sistem closed broiler flooring.
“Prinsip sistem perkandangan ini mirip dengan sistem kandang pullet petelur koloni yang dipelihara dalam cage (sangkar/battery), namun dengan beberapa peralatan yang berbeda. Dimana bentuk bangunannya hanya seperti gudang, dengan cage dipasang beberapa tingkat dan baris yang diletakkan di dalam kandang. Terkait banyaknya tingkatan cage, Gondo menjelaskan biasanya di Indonesia maksimal menggunakan 4 tingkat cage. Namun hal ini juga menyesuaikan dengan banyaknya populasi yang akan dicapai,” jelasnya saat berbincang dengan Poultry Indonesia secara online Selasa (20/8).
Apabila dibandingkan dengan sistem closed house flooring yang saat ini banyak digunakan, terdapat beberapa perbedaan pada sistem pemeliharaan broiler cage. Perbedaan pertama yang juga menjadi sebuah keuntungan adalah peningkatan kepadatan kandang (density). Dalam broiler cage system kapasitas per m2 bertambah sekitar 66,3 % dari flooring system. Yang mana pada flooring system kepadatan berada di kisaran 30 kg/ m2, sedangkan broiler cage system dapat mencapai 50 kg/m2.
“Kalau asumsi flooring system dapat menampung 15 ekor ayam dengan total bobot panen 30 kg/m2, maka pada broiler cage system mampu mencapai total bobot panen 50 kg/m2 karena mampu menampung ayam lebih banyak. Walaupun terjadi peningkatan kapasitas, namun dalam sistem ini keseragaman pertumbuhan ayam dapat lebih merata. Hal ini wajar karena dalam 1 cage dengan asumsi ukuran 105 cm x 80 cm yang telah dilengkapi feeding dan watering system hanya diisi oleh 21 ekor ayam. Hal ini dapat menekan kompetisi dalam 1 koloni dan ayam tumbuh dengan nyaman. Sedangkan selama ini kandang flooring system 1 lantai populasi 20 ribu disekat menjadi 5-7, sehingga per koloninya mencapai sekitar 500-2.000 ekor ayam. Jumlah dalam satu koloni pun bervariasi, tergantung dimensi cages yang di setting. Namun patokan kami untuk kepadatan broiler cage ini 50 kg/m2,” ujar Gondo.










