Inovasi teknologi dalam poultry industry dapat meningkatkan efisiensi (Sumber : thepoultrysite.com)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dengan berbagai perubahan iklim yang terjadi, serta semakin tingginya kompetisi, membuat poin efisiensi produksi menjadi sebuah hal yang perlu menjadi perhatian serius dalam bisnis perunggasan saat ini. Terlebih di era disrupsi ini, perkembangan teknologi dan informasi dapat mendorong peternak untuk dapat berkembang dan berinovasi. Melihat hal tersebut, ILDEX Indonesia menggelar seminar virtual dengan tema “Smart Poultry Farming System ; New Transform Technology of Poultry Industry” melalui aplikasi Zoom, Rabu (22/9).
Baca juga : Peluang dan Tantangan Disrupsi Teknologi Dunia Perunggasan
Sebagai keynote speaker, Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) menyampaikan bahwa untuk dapat bersaing secara global, maka efisiensi sangatlah diperlukan dalam setiap proses usaha di Industri perunggasan, baik petelur maupun pedaging. Untuk itu, sangat diperlukan berbagai inovasi-inovasi dalam mencapai efisiensi ini mulai dari sisi hulu hingga hilir.
“Produksi perunggasan kita, baik daging dan telur sudah cukup bahkan berlebih. Sementara itu, dari sisi konsumsi masih rendah dan tertinggal jauh dari negara-negara maju. Untuk itu, mari bersama mengampanyekan dan mengedukasi masyarakat untuk meningkatkan konsumsi produk perunggasan, seiring dengan langkah pemerintah dalam menggalakkan program ekspor,” jelasnya.
Sementara itu, Ir. Tri Hardianto, CEO sekaligus Founder Tri Group menyampaikan dalam acara tersebut bahwa saat ini untuk menjalankan bisnis perunggasan sudah tidak bisa dengan standar biasa – biasa saja. Menurutnya, transformasi fundamental dan pola pikir cerdas harus diadaptasi guna bertahan menghadapi perkembangan yang terjadi. Dalam kesempatan tersebut, Hardianto banyak menceritakan perjalanan Tri Group dalam menghadapi arung jeram ekosistem bisnis perunggasan.
“Yang terpenting, mindset para peternak saat ini, kita harus merangkul dan menguasai teknologi tetapi tidak terjebak dalam teknologi itu sendiri. Apa pun yang dapat didigitalkan atau diotomatisasi, akan menjadi optimal, dan apa pun yang tidak dapat didigitalkan atau diotomatisasi menjadi titik fokus dan titik kritis yang sangat berharga untuk kita sempurnakan,” tegas Hardianto.
Dalam kesempatan yang sama, Andreas Nugroho T. Indrastoto S.T. MBA, Head of Livestock Equipment Business PT. Japfa Comfeed Indonesia Tbk menjelaskan bahwa smart controller agrin merupakan sebuah teknologi yang bisa membantu dan mengakselerasikan pelaku usaha perunggasan.
“Teknologi ini mampu membantu keseimbangan konsumsi gas dan pemantauan data secara real time dan historical kondisi dalam closed house. Penggunaan dan pemantauan dari teknologi ini sangatlah mudah serta data yang dihasilkan real time dan accountable sehingga dapat digunakan menjadi acuan,” paparnya.
Masih dalam acara yang sama, Park Ju Hyun, Vice President Sales and Marketing PT Farmsco Feed Indonesia banyak mengutarakan terkait paradigma dan transformasi digital marketing dalam dunia peternakan. Menurutnya dunia marketing sebagai ujung tombak sebuah usaha mengalami perkembangan yang sangat cepat dan terus berlangsung hingga saat ini.
“Kini peternakan telah dihadapkan pada marketing 5.0, dimana dalam teknologinya dapat meniru manusia dalam menciptakan, mengaplikasikan, menyampaikan dan meningkatkan nilai suatu produk. Salah satu tema penting dalam marketing 5.0 adalah penggunaan artificial intelegent, sensor robotika dan masih banyak lagi,” jelas Park.
Selain itu, turut hadir sebagai pembicara Dr. Mubarak Ali, selaku Senior Technical Service Manager Evonik (SEA) Pte Ltd. Dalam acara ini, dirinya menyampaikan materi terkait “Smart Farming Solution for Efficient and Profitable Poultry Production”. Menurutnya perkembangan teknologi perunggasan pada akhirnya akan mengakselerasi perubahan yang ada, dengan harapan pencapaian performa produksi yang optimal dan efisiensi akan lebih maksimal.