Kenaikan harga bahan pakan berpengaruh kepada HPP peternak
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Harga pakan yang terus melambung akibat peningkatan bahan baku pakan, terutama harga jagung dan kedelai. Eskalasi harga pakan ini menjadikan peternak menjerit akibat biaya input produksi yang meningkat. Peningkatan harga pakan unggas ini dibahas dalam webinar ‘Geliat Industri Perunggasan: Harga Pakan, DOC, dan Ayam Hidup’ via Zoom, Rabu (30/6).
Timbul Sihombing selaku Ketua GPMT menyatakan bahwa produksi pakan unggas masih mendominasi dari komoditas ternak lainnya yaitu sekitar 80%, sementara bahan pakan di Indonesia 40% nya masih bersumber dari impor.
“Harga bahan baku import seperti SBM naiknya sangat signifikan. Walaupun bulan Mei sempat menurun, namun angkanya cukup tinggi,” jelasnya.
Timbul menyatakan bahwa persediaan jagung di pabrik pakan Mei 2021 terbilang lebih sedikit yaitu 34 hari dibandingkan bulan Mei 2020 yaitu untuk 59 hari. Idealnya memang persediaan jagung ini untuk dua bulan. Kondisi pasokan jagung lokal masih ada namun harganya masih relatif tinggi. Harga rata-rata jagung nasional Mei 2021 tercatat antara Rp 5427- Rp 6233 per kilogram, sementara tahun lalu, di bulan yang sama harga jagung hanya mencapai Rp 3302 – Rp 4320 per kilogram.
Isy Karim selaku Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kemendag mengatakan bahwa dampak dari kenaikan input produksi menyebabkan peningkatan HPP di tingkat peternak hingga mencapai Rp 20.000/kg. Peningkatan HPP tersebut disebabkan oleh tingginya harga DOC, kenaikan harga jagung yang cukup tinggi, dan kenaikan harga bahan baku pakan asal impor. Biaya produksi yang tinggi ini menjadikan perunggasan dalam negeri kurang memiliki daya saing.
Baca Juga: Peternak Harapkan Harga Jual Ayam dan Telur Naik Seiring Naiknya Harga Pakan
“Harga yang tinggi ini sangat mempengaruhi input produksi karena sekitar 70% biaya produksi dipengaruhi oleh pakan,” tutur Isy.
Setya Winarno selaku perwakilan dari Gopan mengamini bahwa harga pakan memang masih cenderung tinggi dan masih menjadi permasalahan. Setya menambahkan bahwa masalah lainnya yang masih dihadapi perunggasan dalam negeri yaitu mata rantai penjualan dari perunggasan yang sangat panjang. Panjangnya mata rantai penjualan ini sangat berpengaruh kepada harga jual ayam di pasaran.
“Faktanya walaupun kandang rendah, tetapi harga di konsumen masih stabil tinggi. Itu karena mata rantai yang panjang,” ungkap setya.
Drh Makmun Junnaidin Sekertaris Ditjen PKH, Kementan mengatakan bahwa industri perunggasan perlu berbenah bersama untuk mendorong kemajuannya. Pembenahan ini perlu dilakukan dimulai dari hulu sampai dengan ke hilir.