Oleh : Aiman Fahimsyah*
Inseminasi buatan (IB) atau Artificial Insemination adalah sebuah inovasi teknologi untuk menjawab tantangan pengadaan bibit dengan waktu yang singkat dan jumlah yang banyak agar dapat digunakan untuk memperbanyak ternak bibit unggul serta untuk keperluan penelitian. Metode IB biasa digunakan pada ternak besar seperti sapi, kambing, babi, dan kuda. 
Selain itu IB juga biasa disebut kawin suntik. Secara ilmiah, IB adalah suatu metode pembuahan yang dilakukan diluar perkawinan alam atau mengawinkan secara buatan dengan menyuntikkan semen (air mani) ke dalam saluran reproduksi betina yang sedang berahi. Perkawinan dengan metode IB lebih efisien dibandingkan dengan kawin alam. Berdasarkan laporan Setioko (2012), perkawinan dengan metode IB pada unggas, khususnya itik, menghasilkan fertilitas yang lebih tinggi mencapai 80%, dibandingkan dengan perkawinan alam yang hanya 20-30%.
Menurut Fifi Afiati, dkk (2013), untuk meningkatkan populasi ternak unggas, maka usaha pembiakan unggas dengan metode IB menjadi faktor penting. Keuntungan dari melakukan perkawinan metode IB adalah untuk meningkatkan kemampuan unggas betina dalam menghasilkan telur tetas (HE/hatching egg), mempercepat pengadaan DOC dan DOD bibit unggul dalam jumlah banyak serta meningkatkan kemampuan pejantan yang memiliki kualitas produksi unggul untuk mengawini sejumlah betina.
Untuk melakukan IB, dibutuhkan pejantan dan betina yang unggul, sehat, dan berkualitas. Kualitas semen pejantan dipengaruhi oleh proses spermatogenesis, pendewasaan dalam epididimis, pakan yang diberikan, penampungan, dan pengelolaan semen. Menurut laporan Atmaja dkk. (2014), pengelolaan semen yang mempengaruhi adalah sifat kimia dan fisika bahan pengencer, kadar pengencer, cahaya, suhu, dan lama penyimpanan.
Syarat bahan pengencer yang baik dapat berfungsi sebagai sumber energi bagi spermatozoa, agen pelindung terjadinya kejut dingin (cold shock), penyangga (buffer) dalam mempertahankan pH, tekanan osmotik, memperbanyak volume, keseimbangan elektrolit, dan mencegah pertumbuhan bakteri. Jika dilihat secara visual, semen jantan yang baik untuk IB adalah berwarna putih krem. Sedangkan  semen yang kurang baik biasanya berwarna sedikit kemerahan akibat terkontaminasi darah ataupun kehijauan akibat kontaminasi kotoran atau urine. Semen seperti ini tidak dapat digunakan. 
Pelaksanaan IB diawali dengan penampungan, pengelolaan semen itik, kemudian memasukkan semen tersebut ke dalam saluran reproduksi itik betina yang sedang dalam periode bertelur. Menurut laporan dari beberapa sumber, keberhasilan dari IB dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya yaitu tingkat pengenceran dan dosis, waktu dan interval IB, keterampilan inseminator, kualitas induk, penanganan semen, umur, dan bangsa ternak.
Kemudian teknik penempatan (deposisi) semen dibagi menjadi 2 metode yaitu intravagina dan metode intrauterine.  Metode intravagina yaitu sebuah cara dengan memasukkan batang gun (spuit 1 ml) sedalam 3 cm atau meneteskan saja semen yang telah dicampur dengan NaCl untuk pengenceran dengan perbandingan (2:1) pada daerah vagina tempat deposisi semen. Metode deposisi semen ini mirip deposisi semen pada perkawinan secara alami. Sedangkan metode intrauterine yaitu mendeposisikan semen pada daerah uterine dengan cara memasukkan kateter yang panjangnya kurang lebih 7 cm ke dalam uterus betina.
Pada perkembangannya, metode intravagina lebih banyak digunakan untuk IB unggas secara massal,karena pelaksanaannya relatif cepat.  Dengan petugas inseminator yang baik dan dengan interval 3–5 hari sekali, hasil di lapangan menunjukkan tingkat infertil yang rendah antara 8–12 % dengan daya tetas dapat dicapai di atas 80%. Metode IB memang efisien, tetapi tidak selalu berhasil 100% telur terbuahi oleh semen dari pejantan. Maka dari itu, ada faktor yang memengaruhi Keberhasilan dalam IB yaitu kemampuan inseminator, daya tahan hidup spermatozoa, metode deposisi semen, waktu IB, interval dan frekuensi IB selama produksi, serta dosis dan jenis pengenceran semen (jika diencerkan). Umumnya, metode IB ini digunakan untuk proses kawin silang beda jenis, seperti pada itik betina (Anas platyrhynchos) dikawin silang dengan entok jantan (Cairina moschata) yang akan menghasilkan final stock jenis baru dengan nama ‘tiktok, barnati, serati atau itik mandalung’. *Mahasiswa Fakultas Peternakan, Universitas Udayana
Artikel ini merupakan bagian dari majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com