Gejala klinis ayam yang mengalami infeksi tunggal atau kombinasi sangatlah mirip
Oleh:  Tony Unandar*
Ciri utama strategi dalam industri perunggasan modern adalah terfokus pada efisiensi dalam berbagai aspek, termasuk penggunaan luas area kandang.  Sampai suatu titik tertentu, kondisi ini terbukti dapat mengakibatkan efek negatif pada performa akhir ayam itu sendiri.

Kasus NE umumnya selalu disertai infeksi koksidia yang disebabkan oleh adanya tantangan bibit koksidil,a lapangan (field challenge), sekalipun dalam bentuk “mild challenge”.  Patogenesis kejadiannya pun tampaknya serupa. Untuk mengantisipasi kejadian tersebut, sangatlah dianjurkan untuk melakukan praktek pemberian program pencegahan NE dengan sediaan antibiotika ataupun sediaan alternatif antibiotika, seperti phytogenic compounds alias preparat herbal via pakan

Kasus koksidiosis (penyakit berak darah) dan radang usus nekrotik (Necrotic Enteritis) merupakan suatu contoh yang paling representatif, di mana keduanya menunjukkan efek potensiasi dalam mengakibatkan gangguan pada sistem dan proses pencernaan pada ayam modern.
Man-made disease
Di alam bebas, termasuk pada ayam kampung sekalipun, koksidia hampir tidak pernah mengakibatkan ledakan kasus koksidiosis dengan gejala klinis yang sangat nyata seperti pada peternakan unggas modern.  Itulah sebabnya mengapa masalah koksidiosis sering kali disebut sebagai masalah yang disebabkan oleh “ulah” manusia (man-made disease), di mana manusia selalu berusaha untuk mengeksploitasi sisi efisiensi pada pemeliharaan unggas modern.
Ada beberapa faktor yang bisa menjelaskan mengapa perbedaan ini terjadi, seperti perbedaan jumlah bibit koksidia (ookista) yang tertelan dalam satuan waktu yang singkat. Secara normal, bibit koksidia ditularkan secara horizontal melalui material feses ayam yang terkontaminasi. Di alam bebas, peluang ayam untuk mengkonsumsi bibit koksidia dalam jumlah yang tinggi dan dalam waktu yang singkat sangatlah kecil. Kondisi ini tentu saja tidak mampu menstimulasi kemunculan gejala klinis yang nyata, akan tetapi tantangan ringan (mild challenge) yang terjadi justru dapat menggertak pembentukan kekebalan terhadap spesies koksidia tersebut.
Baca juga : Vaksinasi Koksidia dan NE
Oleh karena itu, di alam bebas, koksidiosis dikelompokkan dalam “self-limiting disease” atau penyakit yang bisa sembuh sendiri. Di lain pihak, pada peternakan ayam modern,  tingginya kepadatan ayam (bird density) dan tata laksana litter yang tidak optimal sangat memungkinkan ayam dapat mengkonsumsi bibit koksidia (ookista) dalam jumlah yang sangat tinggi atau total inokulum dalam tempo yang singkat. Dalam mekanisme infeksi, salah satu faktor yang sangat menentukan kemunculan gejala klinis adalah faktor total inokulum per-satuan waktu.
Faktor kedua adalah perbedaan keganasan (virulensi) koksidia yang ada.  Pada peternakan ayam modern, model pemeliharaan multi-age atau ayam dengan banyak variasi umur dalam satu lokasi peternakan, tidak cukupnya istirahat kandang, serta program sanitasi yang ceroboh tentu saja akan memperbesar peluang terjadinya peningkatan keganasan koksidia yang ada di sekitar ayam yang dipelihara seiring dengan berjalannya waktu.
Proses pemeliharaan ayam yang intensif menyebabkan bibit koksidia selalu mempunyai peluang untuk meningkatkan keganasannya, karena selalu mempunyai media, yaitu induk semang, untuk melakukan replikasi dan adaptasi.  Kondisi ini jelas sangat jarang terjadi pada ayam kampung atau ayam yang berada di alam bebas.
Faktor yang ketiga adalah status daya tahan tubuh ayam.  Pada peternakan ayam modern, cukup banyak faktor yang dapat menstimulasi terjadinya stres pada ayam yang dipelihara. Beberapa faktor tersebut misalnya kepadatan ayam yang cukup tinggi, fluktuasi kualitas pakan, kadar amonia yang tinggi (lebih dari 5 ppm), program vaksinasi yang berulang-ulang, serta tingginya kelembaban udara di sekitar ayam.  Banyaknya faktor yang dapat menekan daya tahan tubuh (faktor imunosupresi) ayam ini tentu saja tidak terlalu dominan pada ayam-ayam yang berada di alam bebas. *Anggota Dewan Pakar ASOHI
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2022 ini dilanjutkan pada judul “Vaksinasi koksidia dan NE”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153