Ionofor merupakan antikoksidia yang efektif pada unggas. Namun penggunaannya harus sangat hati-hati, karena memiliki margin keamanan yang sempit dan berisiko toksisitas jika dosis berlebihan.

Ionofor merupakan salah satu komponen penting dalam manajemen kesehatan unggas modern, khususnya dalam pengendalian koksidiosis. Sebagai senyawa antikoksidia yang ditambahkan ke dalam pakan, ionofor bekerja dengan cara mengganggu keseimbangan ion dalam sel parasit Eimeria. Ketidakseimbangan ini menyebabkan kematian sel parasit sebelum sempat merusak jaringan usus ayam, sehingga efektivitas pencegahan koksidiosis dapat meningkat secara signifikan.

Namun, di balik keunggulannya tersebut, ionofor bukan tanpa risiko. Penggunaan senyawa ini memerlukan kehati-hatian tinggi, mengingat potensi toksisitasnya cukup serius jika digunakan melebihi ambang batas aman. Efek toksik ini kerap kali melibatkan interaksi yang kompleks antara ionofor dengan obat lain, status nutrisi unggas, serta kondisi lingkungan seperti stres panas dan dehidrasi.

Klasifikasi dan Mekanisme Kerja Ionofor

Ionofor diklasifikasikan berdasarkan afinitasnya terhadap jenis ion. Golongan monovalent seperti monensin, salinomycin, dan narasin cenderung bekerja pada ion natrium (Na⁺) dan kalium (K⁺), sementara lasalocid termasuk dalam kelompok divalent yang memiliki kemampuan mengikat ion kalsium (Ca²⁺) dan magnesium (Mg²⁺). Perbedaan ini memengaruhi cara kerja dan kompleksitas efek ionofor terhadap tubuh unggas.

Mekanisme kerja ionofor cukup spesifik: senyawa ini berperan sebagai pembawa ion melintasi membran sel. Pada parasit Eimeria, hal ini menyebabkan gangguan keseimbangan osmotik yang berujung pada kematian sel. Namun, ketika ionofor masuk ke tubuh ayam dalam jumlah berlebihan, senyawa ini dapat menimbulkan ketidakseimbangan ionik dalam sel tubuh ayam sendiri. Akibatnya, terjadi gangguan fungsi mitokondria, kelebihan beban kalsium, kerusakan membran sel, serta nekrosis jaringan otot—terutama otot jantung dan otot rangka. Aktivitas pemompaan ion yang meningkat juga menguras energi sel, memperparah kondisi fisiologis ayam.

Faktor Penyebab Toksisitas dan Gejala Klinis

Beberapa faktor dapat memicu terjadinya toksisitas ionofor. Salah satu penyebab paling umum adalah kesalahan formulasi pakan, khususnya overdosis saat pencampuran. Selain itu, penggunaan ionofor secara bersamaan dengan obat yang kontraindikatif, seperti tiamulin, dapat meningkatkan risiko keracunan. Kekurangan nutrisi mikro, seperti vitamin E dan selenium, juga diketahui menurunkan ketahanan tubuh ayam terhadap dampak negatif ionofor.

Gejala klinis yang ditimbulkan bervariasi tergantung jenis dan umur ayam. Pada ayam broiler, gejala awal berupa kelemahan, gangguan koordinasi gerak, dan penurunan konsumsi pakan. Sedangkan pada ayam layer dan breeder, efeknya bisa lebih sistemik, seperti penurunan produksi telur, gangguan reproduksi, dan bahkan kematian mendadak. Hasil pemeriksaan post-mortem sering menunjukkan lesi nekrosis pada jaringan otot, terutama otot jantung.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com