POULTRYINDONESIA, Jakarta –Hidup serba tidak kekurangan sejak kecil, membuat sosok yang satu ini selalu bersyukur atas apapun yang ia terima. Orang tuanya yang berprofesi sebagai guru SD, membekali nasihat dan ilmu yang selalu dipegang teguh olehnya. Kata orang tuanya, hidup itu harus kerja keras, jujur dan tekun dalam menjalankan perintah agama. Hal tersebut yang membuat ia tumbuh menjadi sosok yang sukses seperti sekarang ini.

Tidak semua keputusan itu benar atau berhasil, tetapi hidup merupakan sebuah rangkaian dari setiap keputusan yang telah diambil. Kumpulan-kumpulan dari keputusan itu lah yang kemudian akan menentukan posisi saat ini.

Didiek menamatkan sekolahnya dengan baik. Selepas lulus SMA, pilihan utamanya adalah masuk jurusan peternakan dan akhirnya ia diterima di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya pada tahun 1980. Baginya, dunia peternakan merupakan dunia yang sangat luas dan tidak akan berhenti dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan negara. Hal itu karena protein hewani senantiasa perlu dipersiapkan jika mau menciptakan bangsa yang unggul, berkualitas, dan mampu bersaing.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa alam Indonesia memang sangat memungkinkan untuk pengembangan peternakan. Selain itu, dengan penduduk Indonesia yang semakin hari semakin bertambah, tentu kebutuhan pangan juga akan meningkat. Salah satunya tentu mengenai kebutuhan protein hewani. Oleh sebab itu, jika tidak disiapkan dengan baik, masyarakat nantinya akan mengalami masalah dalam pemenuhan protein hewani.
Anak pertama dari lima bersaudara ini, sejak remaja tumbuh menjadi sosok yang senang bersosialisasi dan gemar berorganisasi. Ia pun banyak akif di berbagai organisasi mahasiswa, baik ditingkat fakultas maupun universitas. Setelah menamatkan kuliahnya pada tahun 1987, Didiek kemudian bergabung dengan Gunung Sewu Group yang pada awalnya perusahaan ini belum bergerak di bidang peternakan. Pada akhirnya ia menjadi lulusan sarjana peternakan yang menjadi pionir di Gunung Sewu Group (Great Giant Livestock) untuk mengembangkan peternakan sapi, dengan memanfaatkan limbah dari kulit nanas, yang kala itu menjadi masalah di lingkungan.
Baca Juga: Ata Iskandar, Kemandiriannya Tertanam Sejak Belia
Setelah puluhan tahun bekerja di Gunung Sewu Group, ia memutuskan pensiun dini dan membuka perusahaan sendiri yang bernama PT Karunia Alam Sentosa Abadi, yaitu salah satu perusahaan penggemukan sapi (feedlot).
Beberapa perusahan feedlot ini kemudian bergabung membentuk organisasi yang dinamakan APFINDO yaitu Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia di mana Didiek sudah aktif di dalamnya sejak awal. Sampai akhirnya APFINDO ini berubah nama menjadi GAPUSPINDO atau Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia, yang saat ini anggotanya berjumlah 39 perusahaan penggemukan sapi di seluruh Indonesia, dan ia menjabat sebagai ketuanya.
Dedikasi yang dibangun oleh Didiek mengantarkannya mendapatkan penghargaan Satya Lancana Pembangunan dari Presiden Megawati pada tahun 2003. Penghargaan itu ia peroleh karena telah menginisiasi atau menciptaan suatu model kemitraan terpadu di petani. Tidak berhenti sampai di situ, Didiek juga terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI) pada tahun 2018.
ISPI sebagai mitra strategis pemerintah
 Sebagai organisasi profesi yang menjadi rumah besar bagi sarjana peternakan, ISPI mempunyai misi menjadi mitra strategis dan konstruktif kepada pemerintah. Menurut Didiek, ISPI berusaha memberi masukan tentang perkembangan dunia peternakan di Indonesia sehingga semakin bertumbuh dan dapat menjadi sektor yang dapat diandalkan untuk kemajuan ekonomi negara.
Menyoroti Industri perunggasan sendiri, Didiek berpendapat bahwa fenomena yang terjadi di perunggasan masih terus berlanjut. Menurutnya hal itu merupakan bukti terjadinya kegagalan pasar, di mana pasar menjadi tidak sempurna ditengarai adanya praktik-praktik yang kurang sehat di dalam tata niaga ini. Di samping itu, di sisi hulu industri broiler, masih didominasi oleh komponen impor yang sangat rentan dipengaruhi oleh polaritas harga internasional.
Menurut Didiek, jika perusahaan yang memiliki sektor dari hulu sampai hilir seperti memiliki pabrik pakan, hatchery, peternakan budi daya, RPHU, unit downstream, sampai punya perusahaan obat sendiri, perusahaan ini akan bisa mengolah sebagian hasil produksinya untuk perusahaannya sendiri. Pada akhirnya tidak akan menggangu harga di pasar, sehingga adu harga di pasar becek bisa dihindari.
 Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2021 dengan judul “Ir. Didiek Purwanto, IPU – Jiwa Berorganisasinya Tumbuh sejak Remaja”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153