Dari pilihan sederhana di masa muda hingga perjalanan panjang di dunia pendidikan dan perunggasan, Iwan Setiawan membuktikan bahwa ketekunan dan kepedulian bisa membawa sebuah kebermanfaatan.
Di tengah dinamika dunia pendidikan dan industri perunggasan, sosok Dr. Ir. Iwan Setiawan, DEA mempunyai sederet perjalanan yang menarik untuk diceritakan. Pria yang akrab disapa Iwan ini lahir di Bandung pada 1 Mei 1960. Sepanjang perjalanan hidupnya, ia dikenal sebagai figur yang tidak hanya konsisten dalam mendidik generasi muda, tetapi juga aktif berkontribusi dalam pembangunan sektor peternakan nasional, khususnya di bidang perunggasan.
Pilihan hidup Iwan sebelum berkecimpung di dua akademik dan perunggasan sebenarnya cukup berwarna. Saat memilih jalur pendidikan tinggi, sebenarnya ia diterima di 3 jurusan sekaligus yakni Fakultas Peternakan Unpad, Seni Rupa ITB, dan Arsitektur IKIP. Namun, pengalaman masa kecil yang sederhana, namun membekas kuat membuatnya mantap untuk memilih pendidikan peternakan sebagai pilihannya. Akhirnya, meski memiliki pilihan lain yang mungkin lebih populer di kalangan teman-temannya, dirinya mantap memilih peternakan sebagai jalan hidup.
“Saya kebetulan kuliah angkatan 1979. Dan waktu itu, kami boleh memilih tiga jurusan. Dan saya memilih Fakultas Peternakan Unpad, Seni Rupa ITB dan Arsitektur IKIP. Namun dulu itu, saya mempunyai pengalaman menarik, dimana pernah dikasih ayam oleh tetangga. Lalu berkembang biak jadi banyak, dari sepasang menjadi ratusan. Dari situlah saya merasa punya bakat di bidang ini. Meskipun saya lulus di ketiga-tiganya, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil peternakan,” kenangnya sambil tersenyum.
Sembari bernostalgia, dirinya bercerita bahwa setelah lulus kuliah tak langsung terjun ke dunia akademik. Ia lebih dahulu menapaki dunia industri, dengan menjadi manajer di bidang pemotongan sapi pada tahun 1984 hingga 1986. Namun, panggilan hati untuk terus belajar membuatnya mengajukan izin untuk sekolah kembali.
“Saya sempat mengajukan permohonan kepada direktur untuk bisa melanjutkan sekolah. Waktu itu saya sudah siap, kalau memang tidak diizinkan, saya akan keluar. Dan saat saya berkunjung ke kampus, justru Dekan Fapet Unpad saat itu menawarkan saya untuk bekerja sebagai staf di kampus, sambil diberi kesempatan melanjutkan kuliah. Saya kemudian meminta izin keluar dari perusahaan, tapi tidak diperbolehkan. Akhirnya, saya justru mendapat tawaran untuk bekerja di dua-duanya. Setelah lebih dari dua tahun, barulah saya benar-benar meninggalkan dunia industri dan fokus masuk ke dunia akademik. Kalau ditanya dunia peternakan memang karena saya senang, sedangkan kalau sebagai dosen karena saya ingin belajar,” tambah pria yang hobi lari, bulu tangkis, bersepeda, renang, dan jalan kaki ini.
Sebagai dosen, Iwan fokus dalam pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Dan dalam hal pengajaran, dirinya berfokus pada produksi ternak unggas dan manajemen pemeliharaan. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Senat Fakultas Peternakan Unpad, sekaligus menjadi anggota Senat Akademik Universitas Padjadjaran. Sebelumnya, ia juga pernah menduduki posisi strategis sebagai Sekretaris Komisi Senat Akademik hingga Dekan Fakultas Peternakan Unpad.
Selain di kampus, dirinya juga aktif di lingkungan masyarakat. Dimana Iwan pernah menjadi ketua RW, ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat dan aktif dalam Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Baginya, hidup bukan hanya soal karier, tapi juga tentang menjadi bagian dari masyarakat dan memberi manfaat bagi sesama. “Saya selalu mempunyai cita-cita untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Dan sebenarnya saya ingin sekali membangun masjid, terutama di wilayah persinggahan, tapi belum berkemampuan. Jadi untuk sekarang baru ikut berpartisipasi dalam pembangunan,” tambahnya.
Antara Perunggasan dan Pendidikan
Sejak awal, dunia perunggasan sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dirinya mengakui bahwa sangat menyukai produksi ternak unggas dan manajemen pemeliharaannya. “Di laboratorium saya, fokusnya memang pada sisi produksi. Bagaimana unggas dipelihara dengan baik, dikelola manajemennya, itu yang saya ajarkan dan teliti,” tuturnya.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










