POULTRYINDONESIA, Jakarta – Program hilirisasi ayam terintegrasi kini diposisikan sebagai salah satu prioritas utama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) dalam program kerja pembangunan peternakan nasional tahun 2026.
Awal langkah dari program ini telah dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan groundbreaking pada 6 Februari 2026 yang mencakup enam wilayah sekaligus, yaitu Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Lampung.
Momentum itu kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan konsolidasi internal yang digelar pada Selasa, (11/2/2026). Forum koordinasi Ditjen PKH tersebut dimanfaatkan untuk mempertajam arah kebijakan sekaligus mengevaluasi kesiapan seluruh jajaran dalam mengawal program strategis yang dinilai menjadi salah satu taruhan besar sektor peternakan nasional.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menegaskan bahwa pendampingan terhadap kelompok peternak harus dipastikan berjalan secara menyeluruh. Dukungan itu mencakup kebijakan, penguatan sumber daya manusia, bimbingan teknis, hingga penanganan kesehatan hewan.
“Hilirisasi ayam terintegrasi menjadi fokus kita. Pendampingan harus berjalan optimal agar kelompok peternak memahami program ini dan benar-benar merasakan manfaatnya,” ujar Agung.
Di sisi internal, Agung juga menyoroti pentingnya pembenahan tata kelola dan penguatan SDM. Menurutnya, ketertiban administrasi dan ketepatan pelaporan keuangan masih harus dibenahi karena selama ini masih terasa sekadar rutinitas.
“Terutama laporan keuangan, saya berharap kedepan bukan hanya dianggap sebagai administrasi saja, tapi itu bentuk tanggung jawab dan kinerja kita bersama. Kita tidak bisa berharap hasil yang berbeda jika cara kerjanya tetap sama. Perubahan cara berpikir dan bekerja harus terus dilakukan,” tegasnya.
Pesan serupa juga disampaikan oleh Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Ali Agus. Menurutnya, sektor perunggasan memiliki karakteristik dan kompleksitas tersendiri yang menuntut kehati-hatian ekstra dalam penyusunan kebijakan dan penentuan prioritas.
“Hilirisasi peternakan, terutama perunggasan, menjadi salah satu pertaruhan kita. Fokus pada ayam memang penting, tetapi harus ditata dengan cermat agar tidak menimbulkan persepsi keliru di masyarakat,” ungkap Ali Agus.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kualitas pendampingan dari pusat hingga daerah, serta pada kemampuan pemerintah untuk benar-benar menjawab persoalan di lapangan bukan sekadar memenuhi target administratif.
“Program pemerintah seharusnya benar-benar menyelesaikan persoalan di lapangan. Pendampingan dari pusat hingga daerah harus diperketat agar program ini bisa berjalan efektif,” tegasnya.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia