Diperlukan manajemen penanganan telur yang baik, sehingga menghasilkan produk yang berkualitas dan memiliki nilai jual tinggi serta dapat menekan angka kerusakan/kerugian yang mungkin terjadi.
Telur menjadi salah satu produk utama perunggasan yang banyak diminati oleh masyarakat. Selain karena sebagai pangan sumber protein hewani yang bergizi, keterjangkauan secara harga dan akses menjadi faktor pendorong yang membuat pangan satu ini menjadi pilihan utama menu makan keluarga. Namun demikian, telur merupakan bahan pangan yang masuk dalam kategori perishable product (mudah rusak). Baik secara fisik seperti retak dan pecah, ataupun secara kandungan gizi dengan berbagai kontaminan yang mungkin terjadi. Pasalnya, dengan komposisi gizi yang lengkap, membuat telur menjadi media yang nyaman untuk berbagai mikroba tumbuh dan berkembang.
Sementara itu bagi para peternak layer, produksi telur menjadi ujung akhir sekaligus tujuan utama dalam usaha budi daya. Tak hanya secara kuantitas, kualitas pun menjadi faktor utama yang mesti diperhatikan. Untuk itu, diperlukan manajemen penanganan telur yang baik, sehingga menghasilkan produk yang berkualitas dan memiliki nilai jual tinggi serta dapat menekan angka kerusakan/kerugian yang mungkin terjadi. Selain itu, manajemen penanganan telur yang baik juga bertujuan untuk menjaga keamanan pangan, memperpanjang masa simpan serta menjaga mutu sebelum sampai ke konsumen.
Mengenal kualitas telur
Secara umum, kualitas telur dapat dilihat secara ekternal dan internal. Secara eksternal telur berkulitas dinilai dari kebersihan, keutuhan, bentuk , tekstur, warna serta kondisi cangkang telur. Untuk itu, dalam memilih telur, kita harus memastikan kondisi cangkangnya bersih, tidak retak atau pecah, licin dan mulus, hingga warna cangkang sesuai dengan yang disukai.
Selain berdasarkan ciri luar, telur berkualitas juga harus dilihat dari dalam. Beberapa indikator internal yang harus diperhatikan, seperti letak rongga udara, serta keadaan putih dan kuning telur. Kualitas internal telur bisa dikatakan baik, ketika rongga udar kecil, letak normal, putih telur cerah, kuning telur berada di pusat dan tidak ditemukan noda, serta batas bayangan kabur. Indikator kualitas telur tersaji dalam Tabel 1.
Tabel 1. Persyaratan mutu fisik telur ayam konsumsi
| No | Faktor Mutu | Tingkatan Mutu | ||
| Mutu I | Mutu II | Mutu III | ||
| 1 | Kondisi Kerabang | |||
|
Normal
(SI 72-76) |
Normal
(SI 72-76) |
Abnormal
SI < 72 atau < 76 |
|
|
Halus | Halus | Boleh sedikit kasar | |
|
Tebal | Sedang | Tipis | |
|
Utuh | Utuh | Utuh | |
|
Bersih | Boleh sedikit noda (stain) | Boleh banyak noda (stain) | |
| 2 | Kondisi kantung udara | |||
|
< 0,5 cm | 0,5 cm – 0,9 cm | 0,9 cm | |
|
Tetap di tempat | Boleh bebas bergerak | Boleh bebas bergerak dan terdapat gelembung udara | |
| 3 | Kondisi putih telur | |||
|
Bebas benda asing | Bebas benda asing | Boleh sedikit ada benda asing | |
|
Kental | Boleh sedikit encer | Boleh encer, kuning telur belum bercampur dengan putih telur | |
|
0,134 – 0,175 | 0,092 – 0,133 | 0,050 – 0,091 | |
| 4 | Kondisi kuning telur | |||
|
Bulat | Bulat | Boleh oval | |
|
Di tengah | Boleh bergeser dari tengah | Boleh agak kepinggiran | |
|
Tidak jelas | Agak jelas | Jelas | |
|
Bersih | Bersih | Bersih | |
|
0,458 – 0,521 | 0,394 – 0,457 | 0,330 – 0,393 | |
| 5. | Bau | Khas | Khas | Khas |
Sumber : Telur Ayam Konsumsi, SNI 3926:2023
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










