Jagung yang sudah siap dipanen (sumber gambar: http://www.saprotan-utama.com)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Industri perunggasan berkembang sangat cepat dari tahun ke tahun seiring meningkatnya budi daya broiler. Jika merujuk pada data Ditjen PKH Kementan, pada tahun 2014 populasi ayam ras hampir mencapai 1,4 miliar ekor dan meningkat pada tahun 2020 yang mencapai 2,9 miliar ekor.
Atas majunya industri perunggasan ini tentu tidak lepas dari komponen pendukung yaitu industri pakan ternak yang juga mengalami pertumbuhan positif dari tahun ke tahun. Namun, dalam beberapa minggu terakhir ini bahan pakan utama yakni jagung sedang mengalami masalah.
Budi Tangendjaja yang merupakan Technical Consultant U.S. Grains Council mengatakan bahwa Indonesia perlu memperbaiki data yang benar, akurat dan in-time sehingga bisa melakukan langkah yang tepat terkait masalah jagung.
Selain itu pemerintah juga perlu membuat road-map pengembangan jagung untuk 20 tahun ke depan karena sesungguhnya Indonesia masih mempunyai potensi untuk jagung ketimbang kedelai.
Masih menurut Budi Tangendjaja, hal yang perlu dilakukan di antaranya intensifikasi dengan teknologi yang maju, ekstensifikasi dengan pembukaan lahan baru dengan menggunakan konsep Broiler Complex, dan selanjutnya perlu adanya kebijakan yang holistik yang paling menguntungkan bagi seluruh stakeholders, yaitu petani, peternak, industri, dan konsumen.
Sementara itu, Muhammad Saifullah selaku Asisten Deputi Pangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang mewakili Musdhalifah Machmud selaku Deputi II Pangan dan Pertanian Kemenko, dalam sambutannya mengatakan situasi penanaman jagung saat ini sangat tergantung musim, di mana petani cenderung banyak menanam pada musim penghujan.
Baca Juga: Pakar Sebut Pertumbuhan Jamur di Jagung Ganggu Kandungan Nutrisinya
Sedangkan yang sering terjadi adalah kebutuhan jagung per bulan sebetulnya relatif sama sehingga yang terjadi harga turun ketika pasokan berlebih dan harga naik ketika pasokan berkurang.
“Dari sini perlu adanya rumus tentang mekanisme pengelolaan stok serta pentingnya mengedukasi petani untuk kontinuitas dalam menanam jagung,” ujarnya dalam FGD daring bertemakan “Harga Jagung Melambung” yang disiarkan melalui Zoom, Selasa (20/4).
Selain itu pekerjaan rumah lain yang memengaruhi harga sendiri adalah rantai pasar jagung yang masih panjang, sehingga harga pasar lebih banyak ditentukan peran pedagang pengumpul. Ditambah belum ada mekanisme cadangan jagung dari pemerintah, sehingga rawan permasalahan muncul di tingkat petani ketika harga jatuh dan di tingkat pengguna terutama peternak layer ketika harga jagung naik.
Dalam kesempatan yang sama, Muhammad Gazali selaku Direktur PPHTP, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan mengatakan bahwa sentra produksi untuk jagung sendiri terdapat 60% di Pulau Jawa, dan sisanya 40% terletak di luar Jawa yang terdiri dari Gorontalo, NTB, Sumatra Utara dan Lampung.
Dari sini Gazali mengatakan perlu adanya pengembangan sentra-sentra produksi baru selain di wilayah tersebut, yang mana sentra produksi baru ini nanti perlu diarahkan untuk membuat pergeseran antar wilayah dari produksi jagung tersebut.
“Produksi jagung itu memang terjadi sepanjang tahun, namun puncak produksinya di bulan Februari dan Maret, yaitu produksi mencapai 30% dari total produksi nasional, artinya manajemen stok tentu harus kita perhatikan,” ujarnya.
Menurutnya, pihaknya juga belum fokus pada upaya peningkatan produktivitas, padahal jika fokus maka peluangnya sangat terbuka lebar untuk kemajuan jagung ke depan. Langkah-langkah lain yang terus dilakukan adalah pemanfaatan KUR yang sejauh ini progresnya terus meningkat.
“Kita tahu bahwa salah satu kendalan dari peningkatan jagung ini adalah biaya, sehingga kita perlu melakukan penguatan permodalan, ” terang Gazali.