Meski kerap dianggap sepele, manajemen pencahayaan sebenarnya memegang peran kunci dalam perkembangan dan performa produksi ayam petelur.
Kemajuan genetik ayam petelur (layer) saat ini memungkinkan performa produksi yang lebih panjang dan stabil dibandingkan ayam generasi terdahulu. Namun, potensi tersebut hanya dapat tercapai jika didukung oleh manajemen pemeliharaan yang tepat. Salah satu faktor penting yang sering kali kurang diperhatikan adalah manajemen pencahayaan.
Cahaya, menurut ilmu fisika, merupakan bagian dari spektrum elektromagnetik yang dapat dilihat oleh mata. Kemudian, berdasarkan KBBI, cahaya merupakan sinar atau terang dari sumber seperti matahari, bulan, atau lampu yang memungkinkan mata melihat obyek di sekelilingnya.
Di banyak kandang layer, lampu biasanya dipasang berderet di bawah atap sebagai bagian dari program pencahayaan. Sayangnya, masih banyak peternak yang memasangnya tanpa perhitungan yang benar, dimana asal kandang tampak terang. Jadwal pengaturan lampu pun sering kali tidak konsisten. Padahal, pengelolaan pencahayaan yang benar sangat penting untuk memaksimalkan performa produksi layer.
Kemudian, apabila ditelaah lebih dalam, cahaya memiliki pengaruh langsung terhadap tingkah laku dan proses biologis layer. Dari sisi tingkah laku, cahaya merangsang aktivitas ayam yang dalam sistem pemeliharaan cage berkaitan erat dengan aktivitas makan dan minum. Artinya, tanpa cahaya tidak ada aktivitas, sehingga berdampak pada feed intake (FI) dan body weight (BW).
Dari sisi biologis, cahaya merangsang aktivitas metabolik yang dipengaruhi kelenjar tiroid sebagai penghasil hormon tiroksin. Hormon ini mengatur metabolisme tubuh dan berperan dalam pertumbuhan, perkembangan, serta produksi telur. Selain itu, cahaya juga merangsang hipotalamus untuk menstimulasi kelenjar hipofisis mengeluarkan hormon Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). FSH berfungsi merangsang pembentukan telur, sedangkan LH memicu pelepasan sel telur dari ovarium ke saluran telur.
Cahaya juga berkaitan dengan sekresi hormon melatonin yang diproduksi oleh kelenjar pineal dan retina saat kondisi gelap atau ketika ayam beristirahat. Saat lampu dimatikan, melatonin dilepaskan untuk mengatur metabolisme tubuh dan menciptakan kondisi lebih tenang. Hormon ini berperan berlawanan dengan Adrenocorticotropic Hormone (ACTH) yang memicu respons stres. Inilah sebabnya ayam lebih tenang saat suasana gelap.
Meskipun cahaya berperan penting bagi pertumbuhan dan produksi telur, ayam tetap membutuhkan periode tanpa cahaya. Pencahayaan yang terlalu lama dapat mendorong aktivitas berlebihan, memicu stres, dan mengurangi kualitas istirahat. Karena itu, rotasi terang–gelap diperlukan untuk memaksimalkan pertumbuhan dan produksi.
Pada fase produksi telur, periode kritis yang harus diperhatikan adalah awal masa bertelur. Pada tahap ini, keseimbangan antara dewasa tubuh dan dewasa kelamin sangat penting. Indikator dewasa tubuh meliputi BW dan panjang shank (farm size), yang sangat dipengaruhi oleh manajemen pakan, dimana manajemen pakan sendiri dipengaruhi oleh rangsangan cahaya sebagai pemicu aktivitas makan. Untuk dewasa kelamin, indikator visual meliputi jengger merah dan cerah, mata bersinar, keseragaman, serta jarak tulang pubis minimal dua jari.
Bobot minimal ayam untuk mulai bertelur adalah 1,5 kg pada umur 17–18 minggu. Saat mencapai puncak produksi, ayam harus memiliki bobot minimal 1,8 kg, atau ada kenaikan sekitar 300 gram sebagai tanda keseimbangan antara kematangan seksual dan fisik. Jika BW belum tercapai, program pencahayaan harus ditunda. Memaksakan pencahayaan pada BW yang belum siap dapat menyebabkan masalah seperti prolapsus dan rendahnya persistensi produksi. Karena itu, penerapan program pencahayaan yang tepat sangat krusial.
Secara ringkas, cahaya memiliki peran berbeda pada setiap fase pemeliharaan. Pada fase DOC, starter, dan grower, cahaya berfungsi merangsang aktivitas makan dan minum. Pada fase transisi dari pullet ke awal produksi, cahaya membantu menyelaraskan dewasa tubuh dan dewasa kelamin. Sementara pada fase produksi, cahaya berperan utama dalam proses ovulasi melalui stimulasi hormon FSH dan LH untuk pembentukan dan pelepasan telur.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com











