POULTRY INDONESIA, Surabaya – Swasembada pangan, khususnya yang bersumber dari hasil peternakan, dinilai sangat mungkin diwujudkan. Kuncinya ada pada para peternak, termasuk lulusan Sekolah Peternak Rakyat (SPR), yang tergabung dalam komunitas Saspri (Sahabat Alumni SPR Indonesia).
“Para lulusan SPR yang tergabung dalam Saspri sangat bisa diandalkan untuk mendukung swasembada pangan asal ternak. Mereka solid dan bersatu,” tegas Prof. Muladno, pendiri SPR, saat mengisi sesi Forkompedia dalam rangkaian Indolivestock 2025 di Grand City Convex, Surabaya, Jumat (4/7).
Menurut Muladno, perguruan tinggi hanya mampu mencetak ilmu pengetahuan, sementara pemerintah dapat membuat regulasi. Namun, pelaku utama swasembada pangan adalah para peternak itu sendiri.
“Saya mengapresiasi Jawa Timur karena memiliki jumlah Saspri terbanyak di Indonesia. Bahkan, Kabupaten Bojonegoro tercatat sebagai kabupaten dengan jumlah Saspri terbanyak, yakni sebanyak 11 orang,” ujarnya dalam sesi Livestockpedia bertajuk “Peran Alumni SPR dalam Swasembada Pangan: Menyatukan Peluang dan Menghadapi Tantangan.”
Muladno juga mengungkapkan adanya program pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, yang mewajibkan perusahaan untuk membeli sapi indukan guna dimitrakan dengan peternak lokal, baik untuk sapi perah maupun sapi potong. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 193 perusahaan siap menjalin kemitraan tersebut.
“Perusahaan-perusahaan ini berkomitmen membeli sapi indukan untuk dikerjasamakan dengan komunitas peternak, salah satunya Saspri. Contohnya, Pak Makmur, Saspri dari Cijeruk, menerima komitmen sapi perah sebanyak 80 ekor. Pada tahap pertama, ia telah menerima 20 ekor sapi yang didatangkan dari Australia,” jelasnya.
Sementara itu, Indra Wijaya, perwakilan dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, menjelaskan bahwa potensi sektor peternakan di Jatim sangat besar. Produksi ayam ras pedaging mencapai 418,73 juta ekor per tahun atau sekitar 13% dari kebutuhan nasional, sedangkan ayam ras petelur mencapai 131,85 juta ekor atau 32% dari kebutuhan nasional.
Indra menambahkan, tantangan utama dalam sektor peternakan untuk mendukung ketahanan pangan antara lain adalah peningkatan konsumsi daging dan telur ayam, kemunculan penyakit baru akibat pemanasan global, persaingan lahan dengan permukiman, serta tuntutan revolusi industri 5.0 yang mendorong digitalisasi di semua lini.
Sebagai strategi menghadapi tantangan tersebut, pihaknya mengembangkan model pemberdayaan peternak melalui berbagai langkah: penguatan kelembagaan peternak, peningkatan kapasitas SDM, fasilitasi akses permodalan, pembangunan infrastruktur pendukung, pengembangan sistem pemasaran yang efisien, penguatan kemitraan dengan sektor swasta, serta pengembangan kawasan peternakan terintegrasi.