POULTRYINDONESIA, Makassar – Memasuki bulan Ramadan yang tinggal hitungan hari, harga beberapa komoditas mulai merangkak naik, tak terkecuali daging dan telur ayam. Untuk menghadapi hal ini, Pengurus Perhimpunan Ilmuwan Sosial Ekonomi Peternakan (PERSEPSI) Komisariat Daerah Sulawesi Selatan dan Barat (Komda Sulselbar) bersama dengan Fakultas Peternakan Universitas Hassanuddin (UNHAS) Makassar menyelenggarakan webinar nasional dengan tema Stabilisasi Harga dan Ketersediaan Daging & Telur Jelang Hari Besar Keagamaan Nasional secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting, Rabu (30/3).
Baca juga : Pasokan Produk Unggas Dipastikan Aman ketika Puasa dan Lebaran
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Ir. Ahmad Ramadhan Siregar, M.S., selaku Ketua Komda PERSEPSI Sulselbar, mengatakan bahwa kondisi bulan puasa merupakan kondisi tahunan dimana terjadi kelangkaan yang terimplikasi pada adanya kenaikan harga komoditas yang rawan berpengaruh dan meningkat pada saat Ramadan dan hari raya.
Turut hadir pada acara ini, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt, M.Sc, PhD., IPU, ASEAN Eng., selaku Ketua Umum PERSEPSI Pusat. Budi mengatakan bahwa komoditas pangan merupakan produk yang sangat penting dan rentan terhadap masa kadaluarsa, sehingga harus segera didistribusikan jika tidak menggunakan cold chain, terutama daging ayam yang masuk ke dalam bahan pokok nasional selalu mengalami lonjakan jelang Ramadan.
“Dinamika perilaku harga perlu diantisipasi, terutama gejolak harga. Kondisi ini selalu berulang tiap tahun, sehingga bisa kita antisipasi. Kalau melihat hasil penelitian, peningkatakn harga setiap tahunya bisa mencapai 10 persen. Untuk daging unggas naiknya bisa 5 persen per tahun dan telur ayam ras 7 persen per tahun,” terangnya.
Menurut Budi, hal ini menunjukkan dinamika harga yang mengikuti kurva sigmoid, dimana puncaknya terjadi pada 1 hingga 2 hari menjelang lebaran dan saat Lebaran. Budi menyampaikan bahwa seluruh pemangku kepentingan harus meyakinkan masyarakat untuk tidak terlalu panik dalam mengahdapi dinamika harga menjelang Idul Fitri.
“Challenge bagi Indonesia adalah karena kita negara yang berpulau-pulau dan habitan, kantong konsumsinya tidak merata. Tantangannya adalah akses dan ketersediaan pangan. Seharusnya, pangan bisa didapat dengan harga yang relatif sama oleh seluruh masyarakat,” pungkasnya.
Senada dengan Budi, Prof. Dr. Ir. Lellah Rahim, M.Sc, IPU., ASEAN Eng. yang merupakan Dekan Fakultas Peternakan Universitas Hassanuddin (UNHAS), mengatakan setiap tahunnya terjadi perubahan harga dan ketersediaan, sehingga dengan adanya webinar ini, diharapkan para peserta dapat sama-sama melihat dan mengamati kestabilan serta ketersediaan yang ada, agar bisa dikontrol.
Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum BULOG) yang dalam hal ini diwakili oleh Budi Cahyanto, selaku Kepala Divisi Pengadaan Komoditi, mengatakan bahwa dalam mewujudkan kedaulatan pangan, BULOG bertanggung jawab dalam penyediaan bahan yang diatur dalam 3 pilar ketahanan pangan, yaitu menjaga ketersediaan pangan pokok, keterjangkauan, dan stabilisasi harga pangan ditingkat produsen dan konsumen.
“Tidak semua komoditi bisa kita produksi secara mandiri, akan tetapi pemerintah terus berupaya bagaiamana menghadirkan pangan, salah satu caranya adalah dengan melakukan impor. Impor bukan sesuatu yang harus dilakukan, akan tetapi merupakan temporary exit dari temporary deficit yang terjadi,” ungkapnya.
Musbar Mesdi, Presiden Forum Diskusi Peternak Layer Nasional, mengatakan bahwa adanya kenaikan harga menjelang Ramdan disebabkan oleh biaya produksi pakan yang juga turut naik akibat 80 persen harga pakan dipengaruhi oleh harga bahan baku pakan. Menurut Musbar, kenaikan harga pakan semester 2 tahun 2020 sudah mencapai 19 hingga 20 persen.
“Yang kita perlukan sekarang adalah kehadiran pemerintah dan solusinya. Naiknya harga pakan menjadi momentum yang pas untuk mencari bahan baku pengganti dan melakukan produksi mandiri,” serunya.
Menurutnya, ketersediaan stok daging dan telur ayam dalam menyambut HBKN 2022 sangatlah aman. Justru, ketika dibandingkan dengan Ramadan dan Idul Fitri 2020 dan 2021, harga pada tahun 2022 terbilang normal dan cenderung menurun. Kondisinya tidak akan berbeda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya, apalagi saat ini masyarakat dibebani dengan harga minyak goreng dan kelangkaan solar.
Menurutnya, diperlukan aturan mengenai keseimbangan harga pada hulu dan hilir, dimana keuntungan pedagang di hilir sejak tahun 2017 masih Rp4.000,00 dan belum ada perubahan hingga saat ini meski biaya bensin dan tol sudah naik berkali lipat. “Cobalah pemerintah ada perhatian pada mereka yang di hilir dan on-market. Jangan hanya mengurusi yang di hulu saja. Inputnya harus imbang antara hulu dan hilir,” tegasnya.
Suhandri, selaku Sekretaris Jenderal Asosiasi Importir Daging Indonesia, memaparkan pola konsumsi daging ayam Indonesia pada tahun 2020 adalah sekitar 19 persen. Berdasarkan data dari Outlook Organisation for Economic Co-operation Development (OECD) and the Food and Agriculture Organization (FAO), tren konsumsi daging ayan akan terus meningkat beberapa tahun ke depan.
“Yang terpenting dalam kemajuan peternakan Indonesia adalah sumber lokalnya, bukan dari pemasukan lain. Sumber pemasukan lain atau impor justru ditentukan setelah mengetahui kemampuan produksi dalam negeri. Importasi dilakukan berdasarkan kebutuhan nasional yang ditetapkan setiap tahunnya,” jelasnya.