Pakan merupakan faktor utama dalam budidaya perunggasan. Dalam menghasilkan pakan yang berkualitas tentunya didukung oleh penggunaan bahan pakan yang berkualitas pula. Memilih bahan pakan yang berkualitas lebih mudah dibandingkan dengan menjaga kualitas itu sendiri. Menjaga kualitas bahan pakan terkendala dari bahan pakan yang bersifat sensitif dan rentan terhadap kerusakan akibat perubahan kondisi lingkungan. Beberapa kerusakan seringkali terjadi akibat dari kesalahan penanganan serta penyimpanan. Kerusakan tersebut antara lain:
1. Kerusakan mikrobiologis, yang diakibatkan oleh mikroorganisme seperti jamur dan bakteri, yang dapat menyerap nutrisi dalam bahan pakan serta menghasilkan substansi yang bersifat racun bagi ternak. Contoh, jagung yang terserang jamur, maka jamur tersebut menyerap nutrisi dari jagung dan akan menghasilkan berbagai jenis toksin yang berbahaya bagi ternak (dapat menyebabkan penurunan produktifitas hingga kematian).
2. Kerusakan biologis, yang diakibatkan oleh serangan hama serangga, tikus, burung dan lainnya. Contoh, apabila bungkil kedelai terserang kutu, maka nilai nutrisi kedelai tersebut berkurang karena sudah dimakan oleh hama.
3. Kerusakan fisik, yang diakibatkan oleh perlakuan saat transportasi atau saat penanganan oleh mesin mekanik. Kerusakan ini menyebabkan penampilan bahan pakan menjadi tidak menarik. Contoh, apabila jagung menjadi patah (broken kernel) akibat tergilas ketika proses penanganan.
4. Kerusakan kimia, seperti misalnya untuk bahan pakan additive yang berubah susunan kimia aktifnya akibat kesalahan penyimpanan (tidak sesuai dengan rekomendasi). Contoh, apabila additive seperti organic acid yang disimpan tidak sesuai dengan rekomendasi, menyebabkan caking (akibat dari reaksi hidrolisis). Apabila organic acid sudah caking biasanya sangat rentan menguap karena sifat organic acid yang volatile.
Berbagai kerusakan pada bahan pakan
Kerusakan ini mengakibatkan kerugian materil yang cukup besar. Dalam berbisnis, kerugian-kerugian yang mungkin muncul harus dikurangi dan dihilangkan. Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga kualitas bahan pakan dari berbagai kerusakan. Adapun cara untuk menjaga kualitas bahan pakan adalah sebagai berikut:
a. Menjaga kadar air dari bahan pakan
Setiap makhluk hidup membutuhkan air untuk menunjang kehidupannya, begitu pula mikroorganisme, mereka membutuhkan air agar bisa hidup. Setiap bahan pakan memiliki standar mutu level kadar air. Namun, selama penyimpanan, level kadar air bahan pakan tidak selalu konstan. Hal ini dipengaruhi oleh faktor suhu dan kelembaban lingkungan. Kelembaban merupakan banyaknya air dalam udara. Air dalam bahan pakan dan air dalam udara saling membentuk keseimbangan, yang disebut juga dengan equilibrium moisture content (EMC). Oleh karena itu, selama penyimpanan, agar kadar air selalu terjaga agar tidak mencapai level yang bisa membuat tumbuhnya mikroorganisme penyebab kerusakan, maka perlu dijaga kelembaban udara di tempat penyimpanannya. Berikut tersaji tabel EMC beberapa bahan pakan.

Dari tabel dan grafik tersebut, bisa kita ambil contoh untuk jagung, apabila disimpan biasa saja pada musim hujan (biasanya kelembaban mencapai 80%) maka kadar air bahan pakan akan menjadi 15.6%. Bila kondisi ini dibiarkan, maka akan berresiko tumbuhnya jamur. Agar hal tersebut tidak terjadi, maka kelembaban lingkungan perlu diatur supaya lebih rendah (di level 60-65%) agar kadar air jagung menjadi lebih rendah (dibawah 14%).
b. Tempat penyimpanan bahan pakan harus baik
Penyimpanan bahan pakan memerlukan suatu ruang untuk melindungi dari gangguan dan ancaman lingkungan. Hal yang perlu diperhatikan ketika menyimpan bahan pakan yaitu:
1. Pastikan sirkulasi udara cukup dengan membuat jarak antar tumpukan (apabila bahan pakan disimpan dalam karung). Pembuatan jarak antar tumpukan juga bisa mempermudah saat pengambilan serta pengecekkan berkala. Untuk bahan pakan yang disimpan dalam silo, perlu dilakukan aerasi. Apabila sirkulasi udara cukup baik maka resiko penumpukan panas di beberapa titik tumpukan dapat dihindari.
2. Pastikan bangunan gudang penyimpanan atau silo masih dalam keadaan baik, tidak berlubang, tidak retak dan lainnya. Kerusakan dari bangunan ini bisa menyebabkan masuknya hama pengganggu serta masuknya air dan debu dari luar. Bahan pakan yang disimpan dalam bangunan penyimpanan yang rusak akan lebih mudah terjadi kerusakan fisik maupun biologis.

c. Pendistribusian bahan pakan harus menerapkan prinsip FIFO (first in first out).
Penerapan FIFO ini untuk menjaga agar tidak ada bahan pakan yang terlalu lama disimpan. Pendistribusian material menggunakan metode FIFO akan menjaga material senantiasa fresh. Beberapa kerusakan biasanya dipicu oleh penyimpanan yang terlalu lama. Selain itu, inventarisasi barang biasanya berurutan sesuai dengan tanggal masuk. Dengan pendistribusian secara FIFO maka akan membantu inventarisasi barang menjadi lebih teratur dan tercatat rapi serta memudahkan traceability apabila terjadi masalah dikemudian hari. Ilustrasi mengenai pendistribusian secara FIFO dapat dilihat pada gambar berikut.

d. Pengecekkan bahan pakan secara berkala
Bahan pakan perlu dilakukan pengecekan berkala, baik fisik maupun nutrisinya. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi kualitas bahan pakan. Pengecekkan juga dilakukan untuk mencegah kerusakan yang timbul akibat faktor tidak terduga. Dengan begitu, aksi cepat bisa langsung diterapkan sehingga kerugian bisa diminimalisir. Buatlah jadwal pengecekkan minimal 1 bulan sekali agar efisien dan aksi cepat bisa menjadi lebih efektif. Berikut tahapan pengecekkan yang harus dimasukkan ke dalam daftar ceklist:
1. Pengecekkan kondisi fisik
Pengecekkan fisik dapat diawali dengan melihat tekstur bahan pakan. Apabila bahan pakan mudah menggumpal ketika dikepal. Hal itu menandakan bahwa kelembaban lingkungan sudah tinggi. Apabila dibiarkan, kondisi tersebut dapat memicu kerusakan lainnya seperti ketengikan dan tumbuhnya jamur.
2. Pengecekkan kondisi organoleptik
Pengecekkan secara organoleptik diawali dari indra penciuman. Cobalah untuk mengambil segenggam bahan pakan dan ciumlah beberapa saat. Apabila baunya masih segar dan khas dari bahan pakan tersebut maka bahan pakan masih terkategori baik. Namun, bila baunya sudah busuk atau tengik, maka kualitas bahan pakan tersebut sudah menurun. Pengecekkan selanjutnya adalah dengan melihat kondisi bahan pakan apakah masih normal atau sudah berubah warna. Cek juga apakah ada agen biologis yang mengkontaminasi bahan pakan tersebut.
3. Pengecekkan nutrisi
Pengecekkan nutrisi perlu dilakukan untuk memastikan kondisi nutrisi bahan pakan yang disimpan sesuai dengan hasil pengecekkan di awal. Biasanya, pengambilan sample bahan pakan saat awal kedatangan hanya dibagian luar saja, sedangkan bagian dalamnya terkadang luput dari pengecekkan. Dengan melakukan pengecekkan kembali setelah bahan pakan disimpan agar dapat dianalisa. Selama penyimpanan, nutrisi seperti fat, starch, protein, berpotensi mengalami penurunan, serta kadar ash berpotensi mengalami kenaikan (biasanya diakibatkan kontaminasi dengan debu atau pasir dari bangunan lantai gudang). Dalam sektor industri, utamanya di bidang pakan ternak, nutrisi tersebut harus dijaga levelnya dalam ransum. Fat, starch, protein harus dijaga agar selalu cukup dan ash harus dijaga agar tidak berlebih. Dengan pengecekkan nutrisi secara berkala, maka kualitas akhir pakan akan terjaga dari kesalahan dan ketidaksesuaian.
Menjaga kualitas bahan pakan pastinya memerlukan biaya tambahan. Namun begitu, kegiatan tersebut menjadi pantas dilakukan apabila dibandingkan dengan kerugian yang dapat timbul akibat tidak terjaganya kualitas bahan pakan. Semakin lama bahan pakan disimpan, maka semakin banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk menjaga kualitasnya. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan lebih dalam untuk menyimpan bahan pakan dalam waktu lama dengan biaya yang perlu dikeluarkan untuk menjaga kualitasnya agar bisnis pakan bisa mendatangkan keuntungan. Adv