Oleh : Kristin Yulia Prastika*
Ayam ras pedaging (broiler) dapat juga disebut dengan ternak ekonomis karena broiler membutuhkan waktu yang relatif singkat dalam pembudidayaannya. Broiler merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memilik produktivitas tinggi terutama dalam memproduksi daging. Pertumbuhan bobot badan yang tinggi, konversi pakan yang efisien, serta memiliki ciri daging yang khas yaitu tebal, lembut, dan berserat menjadikannya sangat digemari oleh masyarakat.

Permasalahan dalam dunia peternakan kerap terjadi dari tahun ke tahun, yang masih belum bisa terselesaikan sampai saat ini salah satunya adalah ayam ras pedaging (broiler).

Budi daya ayam broiler kini banyak diarahkan untuk kebutuhan bisnis, pada industri skala besar misalnya, mereka sudah banyak menyediakan berbagai macam keperluan dari hulu hingga hilir seperti bibit, pakan, obat-obatan, sampai ke pemasarannya. Hal ini memudahkan bagi para calon peternak yang ingin merintis bisnis ayam ras pedaging (broiler) untuk dijadikan bisnis utama yang keuntungannya memang cukup menjanjikan. Selain melihat potensi bisnisnya, yang harus dilihat dari ternak ini adalah segi kerentannya terhadap penyakit.
Kemajuan teknologi dalam mengembangkan industri peternakan broiler menjadi sebuah kesempatan ekonomi yang menguntungkan bagi pelaku usaha yang terjun di bidang ini. Belum lagi tren dunia dengan industri besar dan waralaba internasional, pasokan daging yang melimpah bisa diolah sedemikian rupa menjadi masakan atau makanan siap saji. Selain pasokan yang selalu tersedia, popularitas ayam tentunya tidak terlepas dari fakta bahwa hampir semua orang di dunia ini mengenal produk pangan berbahan dasar daging ayam.
Baca Juga: Tim Kementan dan Satgas Pangan Telusuri Penyebab Besarnya Disparitas Harga Ayam
Hingga saat ini situasi pasar broiler di Indonesia dapat dikatakan masih belum matang secara sempurna (immature market) dan harus menuju pasar yang matang (mature market). Hal ini terindikasi dari banyaknya pembudidaya akan tetapi kebanyakan pembudidaya masih kurang dalam upaya meningkatkan efisiensi dan daya saing produk broiler. Oleh karena itu, ada dua strategi yang dapat dilakukan yakni melakukan transformasi dari immature market menuju mature market, serta perluasan pasar baik untuk pasar lokal, regional, maupun ekspor.
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) juga perlu secara terus menerus melakukan kampanye Ayam Dingin Segar yang sudah dilakukan di dua puluh titik untuk wilayah Jabodetabek saat ini. Selain itu juga, Ditjen PKH terus mendorong perusahaan integrator untuk membuka pasar di luar negeri. Para pelaku industri perunggasan diharapkan dapat menjual produk daging ayamnya ke pasar global, sehingga pasar dalam negeri dapat diisi oleh peternakan unggas rakyat. *Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2020 dengan judul “Kabar Ayam Ras Pedaging”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153