Oleh: Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, MP*
Selain faktor bibit dan pakan, keberhasilan usaha budi daya ayam pedaging (broiler), juga ditentukan oleh faktor manajemen pemeliharaannya yaitu persiapan sebelum pemeliharaan sampai dengan broiler dipanen. Setelah kandang mikroklimatnya disiapkan senyaman dan sebersih mungkin bagi DOC, maka hal yang perlu diperhatikan saat chick in adalah kualitas DOC saat tiba di kandang.
Patio system ini mengurangi tingkat stres pada ayam, hemat tenaga kerja, menyediakan mikroklimat seperti halnya kandang closed house, sehingga dimungkinkan performa broiler akan lebih baik dan peternak dapat mendapatkan profit yang memadai.
Kualitas DOC sering menjadi polemik dan dipermasalahkan oleh peternak. Hal ini disebabkan kualitas DOC merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam usaha. Hasil penelitian Yerpes et al., (2020) menyatakan bahwa DOC yang berkualitas ada kaitannya dengan first-week mortality serta mencerminkan high performance dan survivability pada broiler.
Performa pasca penetasan yang baik saat meninggalkan hatcher sampai dengan penempatan di kandang dan mortalitas yang rendah pada minggu pertama merupakan kondisi ideal yang diharapkan. Hatchery sangat berperan dalam industri ayam broiler, karena dari sinilah akan dihasilkannya DOC yang berkualitas. Di peternakan ayam parent stock sudah dilakukan pemilahan (grading), hanya telur tetas terpilih dan berasal dari bibit induk yang performanya bagus yang kemudian dikirim ke hatchery dengan tujuan untuk mendapatkan kualitas DOC yang tinggi.
Telur tetas untuk menghasilkan broiler biasanya diinkubasi selama 17 sampai 18 hari di mesin setter, setelah itu diteropong (candling) dan dipindahkan ke mesin penetasan (hatcher) untuk inkubasi 3 sampai 4 hari terakhir. Sebelum DOC dikirim ke peternak, di hatchery sudah dilakukan grading, sehingga secara logika tidak ada DOC yang tidak berkualitas. Akan tetapi di tingkat peternak masih sering dikeluhkan karena mereka mendapatkan bobot DOC yang rendah, DOC sampai kandang lemas, tidak mau makan dan minum bahkan ada yang mati.
Setelah ayam dari hatcher, prosedur penetasan selanjutnya adalah pemisahan jenis kelamin (sexing), vaksinasi, pengemasan, dan transportasi, tambah waktu sampai penempatan di kandang broiler dan dengan demikian asupan pakan pertama dan asupan air diperoleh DOC hingga 50 jam atau lebih (Sklan et al., 2000; Careghi et al., 2005). Kondisi suboptimal selama transportasi dan penundaan saat penempatan ada hubungannya dengan kematian dini anak ayam yang lebih tinggi (Kingston, 1979; Carver et al., 2002; Chou et al., 2004) dan gangguan performan selama masa pertumbuhan (Halevy et al., 2000; Gonzales et al., 2003).
Berdasarkan hasil penelitian Chou et al. (2004) mortalitas DOC saat pengiriman dengan jarak pengiriman 50 km sebesar 1,2% akan tetapi jika jarak ditambah menjadi 300 km maka mortalitas meningkat menjadi 1,4%. Oleh karena itu, pihak hatchery umumnya melebihkan 2 ekor DOC dalam setiap 100 ekor atau 1 boks pengiriman. Kematian tersebut selama proses pengiriman DOC ke kandang diakibatkan oleh stres pasca penetasan dan dehidrasi atau kurang energi akibat kehilangan sebagian cairan tubuh dari DOC selama perjalanan dari hatchery hingga tiba di kandang (Khosravinia, 2015; Jacobs et al. 2017).
Dehidrasi dapat terjadi adanya perbedaan kondisi suhu badan ayam (40,0-40,5 °C), suhu lingkungan maupun suhu di boks DOC (32-35 °C), kadar CO2 terlalu tinggi selama perjalanan (Lange, 2010). Nangoy (2012) menambahkan bahwa dua faktor penting yang dapat menyebabkan stres yatu efek suhu dan kelembapan selama transpotasi. Pengaruh kepanasan selama transpotasi pada jarak yang cukup jauh dapat menimbulkan stres akut. Perbedaan suhu tinggi tersebut mengakibatkan DOC mengalami dehidrasi dan kelelahan. Selama transportasi, ternak dihadapkan dengan kondisi lingkungan membuat status fisiologisnya mengalami cekaman baik berasal dari efek kepanasan, kedinginan, kelembaban, dan atau kehabisan nafas, goncangan selama perjalanan, serta karena perlakuan kasar.
DOC yang dehidrasi mengalami kekurangan cairan di dalam tubuh sehingga peredaran darah menjadi tidak lancar, sehingga kondisi DOC menjadi pucat, lesu, lemas, mata cekung, kaki kering bahkan bisa menyebabkan kematian (Mitchell, 2015). Beberapa hari pertama kehidupan anak ayam sangat menentukan terhadap performa selanjutnya (Bruzual et al., 2000; Tona et al., 2005).*Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi April 2021 ini dilanjutkan pada judul “Model Kandang Patio System”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...