Gambaran ayam lokal dalam kandang pemeliharaan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan plasma nutfah unggas yang sangat luar biasa. Tentu hal ini merupakan sebuah potensi yang harus dikembangkan. 
Melihat hal tersebut, Poultry Indonesia menggelar Poultry Indonesia Forum#6 dengan tema ‘Potensi Bisnis Unggas Lokal’, melalui aplikasi Zoom, Sabtu (5/12). 
Acara tersebut diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai latar belakang seperti akademisi, perusahaan, peternak maupun pemerintahan dari Sumatra sampai Papua.
Dr. Ir. Endang Sujana, S.Pt, MP, IPM, yang merupakan pakar puyuh dari Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran menjelaskan bahwa puyuh merupakan salah satu komoditas peternakan yang mempunyai potensi besar sebagai penghasil protein hewani baik telur maupun daging. 
Menurutnya, saat ini pemahaman tentang asal, sejarah serta evolusi keragaman sumber daya genetik ternak (SDGT) sangat penting untuk merancang strategi konservasi berkelanjutan dan pemanfaatan. 
“Perkembangan riset puyuh di Indonesia mengarah kepada riset produksi dan pembibitan, riset nutrisi dan makanan ternak, riset pasca panen serta riset sosial ekonomi peternakan. Dengan pengembangan Puyuh Padjadjaran baik petelur maupun pedaging, diharapkan mampu meningkatkan kualitas bibit sehingga produktivitas telur maupun daging lebih tinggi dan kesejahteraan peternak dapat meningkat,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ir. Bambang Krista selaku pemilik Citra Lestari Farm mengungkapkan bahwa sudah saatnya peternak ayam lokal mulai bergerak pada  pola pemeliharaan yang lebih modern dengan meninggalkan pola pemeliharaan ekstensif dan menuju kepada pemeliharaan intensif. 
Dalam proses budi daya ayam lokal secara intensif tersebut, segitiga produksi (pakan, manajemen dan bibit) harus diperhatikan dengan baik. 
“Bisnis boleh ayam kampung ,tapi kita tidak boleh kampungan. Seiring dengan peningkatan permintaan dan peminat ayam lokal, maka sudah saatnya ayam kampung menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tegasnya. 
Bambang yang juga merupakan Ketua Gabungan Pembibit Ayam Lokal Indonesia (GAPALI) menambahkan bahwa pengembangan pada sektor bibit di setiap daerah merupakan langkah awal dalam upaya memajukan ayam lokal Indonesia.
Sementara itu, Dr. Slamet Wuryadi, S.P., M.P, pemilik Slamet Quail Farm menjelaskan terkait potensi puyuh sebagai unggas lokal asli Indonesia. 
Menurutnya puyuh mempunyai potensi yang sangat besar untuk dapat dikembangkan di Indonesia. Hal tersebut karena permintaan telur puyuh masih sangat tinggi khususnya di Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta, sedangkan suplainya masih sangat jauh dari permintaan yang ada. 
“Dari 16,5 juta butir telur puyuh yang diminta per minggunya, saat ini baru bisa menyuplai sebanyak 3,5 juta butir dan masih ada kekurangan sekitar 13 juta butir per minggu. Selain itu, secara ekonomi harga telur puyuh belum pernah ada di bawah harga pokok produksi (HPP). Dengan HPP Rp200 per butir, telur puyuh dapat dijual pada kisaran Rp280 sampai Rp300 per butirnya,” jelasnya. 
Baca Juga: Bibit Puyuh yang Kompetitif
Slamet yang juga merupakan Ketua Umum Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia (APPI) berharap agar pengembangan puyuh tetap menjadi ranah UMKM sebagai penopang ekonomi daerah dan dapat meningkatkan kesejahteraan peternak.
Di sisi lain, pada webinar tersebut juga dipaparkan terkait perkembangan industri unggas air di Indonesia. Dr. L. Hardi Prasetyo, selaku konsultan pembibitan itik lokal menjelaskan bahwa selama berabad-abad itik dipelihara secara tradisional untuk memproduksi telur dan daging hanya sebagai produk sampingan yang kualitasnya rendah. 
Namun, perkembangan pasar menuntut  perubahan sistem produksi telur dan daging  itik secara komersial dan modern dengan kualitas yang lebih baik demi peningkatan daya saing. 
“Perkembangan industri itik di Indonesia agak lambat tapi cukup meyakinkan. Perlu adanya kerja sama untuk mengakselerasinya,” pungkasnya.