Layer membutuhkan jagung sebagai bahan pakan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sumber bahan pakan seperti jagung yang cukup banyak di Kawasan Indonesia Timur disebut-sebut merupakan modal besar dalam mengembangkan industri perunggasan di sana.
Seperti yang disampaikan oleh Audy Joinaldy yang merupakan Wakil Gubernur Sumatra Barat yang juga dikenal sebagai pengusaha pertanian dan perunggasan di Indonesia Timur, dalam paparannya menyebutkan bahwa konsumsi produk unggas terutama untuk Provinsi Bali merupakan yang tertinggi di Indonesia.
Hal tersebut karena Bali merupakan destinasi wisata terbesar di tanah air sehingga membutuhkan suplai bahan pangan asal unggas yang juga besar. Namun, untuk provinsi-provinsi lain di Indonesia Timur justru sebaliknya yakni tingkat konsumsinya masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan provinsi lain.
Sementara dari sisi suplai bahan baku, sentra industri perunggasan di Indonesia Timur seperti di Sulawesi Selatan ditopang dengan bahan pakan seperti jagung dan dedak yang ketersediaannya cukup, sehingga potensi untuk terus dikembangkan sebenarnya masih terbuka.
“Kita tahu bahwa suplai produk unggas di Indonesia Timur itu masih banyak berasal dari Jawa khususnya dari Jawa Timur. Artinya pasar itu sebenarnya ada,” jelasnya dalam webinar Poultry Indonesia Forum ke-11 melalui Zoom, Sabtu (20/3).
Hal senada juga disampaikan oleh Jan Tambajong selaku Ketua Pinsar Sulawesi Utara. Jan menyebutkan bahwa perkembangan budi daya ayam ras petelur akhir-akhir ini cukup meningkat dikarenakan harga telur ayam ras cukup stabil di Sulawesi Utara.
Bahkan sejauh ini untuk penjualan produksi telur ayam Sulawesi Utara tidak mengalami kendala untuk pemasarannya karena diperkirakan sebanyak 30 persen produksinya dikirim ke wilayah lain seperti Provinsi Gorontalo, Maluku Utara, dan Maluku.
Namun di balik peluang tersebut juga masih terdapat kendala seperti belum adanya peternakan pembibit maupun pabrik pakan di Sulawesi Utara sehingga harus mendatangkan dari luar provinsi yang tentunya membuat ongkos produksi menjadi lebih mahal.
Baca Juga: GPMT Industri Pakan Ternak Terus Tumbuh
Masih dalam forum yang sama, Dean Novel yang merupakan Agripreneur di Nusa Tenggara Barat (NTB), menjelaskan bahwa NTB merupakan peringkat kelima sebagai produsen jagung nasional. Sementara dari sisi pemasarannya, sebanyak 50 persen jagung NTB dikirim ke Pulau Jawa khusunya Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Sejauh ini kata Dean, jagung yang ia kirim lebih banyak ditujukan kepada para peternak layer, sehingga menurutnya para peternak layer sudah harus mulai berpikir strategis untuk membangun banyak gudang agar saat panen raya, mereka bisa membeli dalam jumlah besar dengan harga yang sedang tidak tinggi.
Dean juga menyoroti kebijakan pemerintah tentang bantuan benih jagung yang menurutnya tidak efektif. Hal tersebut karena bantuan benih biasanya merupakan benih dengan kualitas yang tidak bagus sehingga produktivitasnya menjadi rendah.
Berdasarkan pengalamannya, pemilihan benih jagung harus sesuai dengan iklim tanam. Sementara benih bantuan gratis itu tidak mengacu iklim tanam atau disamaratakan. Misalnya kata dia, jika menanam pada saat musim hujan, maka benih yang digunakan itu semestinya yang tahan terhadap genangan.
“Masalah benih sebenarnya biar petani membeli benih premium sendiri tapi hasilnya pasti bagus. Lebih baik pemerintah membantu untuk subsidi logistik saja yang biayanya besar mencapai 30 persen,” ujarnya.
Selama ini yang menjadi momok di daerahnya adalah tingginya biaya logistik dan juga sulitnya mencari transportasi pengangkut ketika panen berbarengan dengan tembakau. Menurutnya hal itu disebabkan karena truk pengangkut lebih memilih untuk membawa tembakau yang harganya lebih mahal.
Di Provinsi Papua Barat memiliki tantangan lebih berat jika dibandingkan dengan provinsi di Indonesia Timur lainnya. Menurut Ir. Sintje Lumatouw, Ph.D yang merupakan Dosen Fakultas Peternakan Universitas Papua, menjelaskan bahwa masalah perunggasan di Papua Barat cukup kompleks dari hulu sampai hilir.
“Harga pakan dan DOC relatif mahal. Harga pakan mencapai Rp12.000/kilogram, sedangkan DOC mencapai Rp15.000/ekor. Sementara dari segi ketersediannya masih didatangkan dari luar daerah dan belum bisa kontinyu ada setiap saat,” jelasnya.
Masalah lainnya yakni kebutuhan daging dan telur ayam ras selama ini tidak diimbangi dengan dengan pengembangan budi daya ternak unggas secara memadai dan intensif, akibatnya pada tahun 2020 yang lalu sekitar 80% kebutuhan daging dan 40% kebutuhan telur harus didatangkan dari luar Papua Barat.