Oleh : drh. Sri Hartati, M.Si*
Fenomena konsumsi pangan hewani masyarakat yang terus meningkat merupakan hal yang positif dan harus terus ditingkatkan. Pasalnya pangan asal hewan mengandung berbagai asam amino yang mudah diserap oleh tubuh, serta mengandung berbagai sumber zat gizi mikro seperti zat besi, vitamin B12 dan seng yang sangat berperan bagi pertumbuhan.
Pentingnya konsumsi pangan hewani harus disertai dengan kualitas dan keamanan produk hewan tersebut untuk mewujudkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat.
Melihat fenomena tersebut, penulis menyoroti tentang pentingnya kualitas dan keamanan produk hewan yang dikonsumsi oleh masyarakat. Pada sisi pemerintah tugas tersebut diemban oleh Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), Ditjen PKH. Asosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner Indonesia (ASKESMAVETI) dibentuk untuk mendorong kegiatan kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet) di tanah air melalui serangkaian kegiatan dalam meningkatkan kapasitas sumber daya dan perbaikan aspek regulasi di bidang kesmavet dan kesejahteraan hewan.
Penulis sangat menyadari bahwa tugas yang diemban oleh ASKESMAVETI tidaklah ringan. Tentu akan banyak tantangan yang harus dihadapi dalam setiap langkahnya. Faktor keamanan dan kehalalan produk pangan hewani menjadi tantangan yang harus digaris bawahi. Hal ini dikarenakan masih adanya masyarakat yang melakukan pemotongan hewan (terkhusus ayam) disembarang tempat dan tidak melalui rumah potong hewan yang semestinya. Praktik pemotongan tersebut masih sering kita temui dan secara kemanan, kehalalan serta higine sanitasinya sangat sulit untuk diawasi. Selain itu, tingkat kesadaran masyarakat Indonesia akan keamanan pangan masih tergolong rendah. Harga dan jumlah masih menjadi faktor utama dalam keputusan terkait pangan.
Tantangan selanjutnya yang sering ditemui adalah berita tidak benar atau sering kita sebut dengan hoax yang menimpa produk pangan asal hewan. Fenomena ini sangat sering terjadi di masyarakat kita, bahkan mulai dari masyarakat awam hingga kaum terpelajar pernah mempercayainya. Jenis hoax nya pun bermacam-macam, mulai dari manajemen pemeliharaan yang tidak benar hingga bahaya kesehatan yang mengancam ketika seseorang memakan produk pangan asal hewan tersebut. Seperti berita tidak benar terkait bahaya mengonsumsi ayam ras pedaging (broiler) yang disampaikan oleh seorang influencer, sehingga ASKESMAVETI juga mempunyai tugas untuk meluruskan berita tersebut.
Selanjutnya menurut penulis, tantangan terakhir yang dihadapi oleh ASKESMAVETI dan masih menjadi pekerjaan rumah saat ini adalah tentang lemahnya penerapan aturan terkait dengan keamanan produk pangan asal hewan. Implementasi dari upaya menjamin keamanan produk pangan asal hewan tertuang dalam sertifikat kontrol veteriner unit usaha pangan asal hewan yang selanjutnya disebut dengan istilah nomor kontrol veteriner (NKV).
Peran pemerintah daerah yang belum maksimal menjadi kendala tersendiri dalam upaya pelaksanaan NKV tersebut. Masih ada pemerintah daerah, yang tidak memiliki otoritas veterinar serta tidak memiliki sumber daya dokter hewan yang memadai sehingga pengawasan dan pelaksanaan NKV tidak bisa berjalan secara maksimal. Dengan situasi seperti ini, penulis berharap kerja sama dari semua pihak baik pemerintah, swasta dan masyarakat untuk lebih memerhatikan keamanan produk pangan asal hewan. *Ketua Asosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner Indonesia (ASKESMAVETI).
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2020 dengan judul ”Keamanan Produk Pangan Asal Hewan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...