POULTRYINDONESIA, Jakarta – Setelah dua tahun tertunda karena pandemi, The 7th World Waterfowl Conference (WWC) atau Konferensi Dunia Unggas Air yang ke-7 sukses diselenggarakan oleh WPSA Indonesia pada tanggal 20-22 September 2023 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Jakarta, Indonesia. Tema dari konferensi ini adalah “Daya Saing, Kualitas, dan Keberlanjutan Produksi Unggas Air” yang bertujuan untuk merangsang pertukaran informasi terkini mengenai perkembangan industri unggas air yang berubah begitu cepat. Ini memberikan suasana yang ideal dan ramah untuk saling berbagi pengalaman, bertukar pikiran serta diskusi terkait dengan kemajuan dan terobosan di bidang unggas air.
Konferensi ini diselenggarakan bersamaan dengan pameran peternakan internasional “ILDEX-Indonesia”. Dibuka secara resmi pada tanggal 20 September 2023 oleh Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Dia mengharapkan hasil konferensi ini dapat membantu dalam merancang peta jalan Pengembangan Industri Unggas Air di Indonesia yang merupakan industri yang relatif baru. Ada antara 60-70 peserta di dalamnya setiap sesi, dan peserta berasal dari Australia, Amerika, Perancis, India, Belanda, Kanada, Taiwan, Thailand, dan Indonesia. Peserta termasuk ilmuwan, perusahaan perwakilan, pengambil kebijakan, peternak itik, pecinta unggas, dan media unggas penerbit.
Sebanyak 25 makalah telah diterima melalui pendaftaran, namun hanya 17 makalah yang dipresentasikan. Beberapa penulis tidak hadir dan mengharapkan presentasi daring. Sayangnya, konferensi tersebut diselenggarakan hanya untuk presentasi luring. Tampaknya pembatasan perjalanan akibat pandemi dan kenyamanan pertemuan online telah menghalangi orang untuk menghadiri konferensi. Diharapkan dengan diadakannya pameran peternakan pada tanggal dan tempat yang sama maka peserta konferensi akan lebih banyak. Namun pameran peternakannya sendiri belum kembali ke kondisi glamor sebelum pandemi.
Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pemeliharaan unggas air telah berkembang dengan cepat di berbagai negara, baik dalam bidang pemuliaan, nutrisi, maupun strategi pengelolaan untuk meningkatkan daya saing dan kualitas produk, serta keberlanjutan sistem produksi. Penelitian di bidang pemuliaan telah beralih dari penggunaan Estimated Breeding Value (EBV) ke Genomic Estimated Breeding Value (GEBV), pemilihan berdasarkan Residual Feed Consumption (RFC) menggunakan sistem pakan RFID, dan juga peningkatan adaptabilitas lingkungan, ketahanan terhadap penyakit, dan kesejahteraan hewan. Pentingnya memantau keragaman genetik dan menjaga keberlanjutan plasma nutfah dari jenis unggas air ditekankan untuk mengantisipasi kebutuhan masa depan dan perubahan preferensi konsumen. 
Sebagian besar penelitian di nutrisi bebek telah mengkaji efek nutrisi terhadap pertumbuhan, komposisi karkas pada umur pemotongan biasa, serta komposisi kimia karkas dan atau bagian potongan yang memengaruhi kualitas gizi daging. Komposisi dan karakteristik pakan juga penting dalam memengaruhi kualitas teknologi dan sensorik daging. Bentuk pakan, kualitas pelet, jenis bahan baku, dan komposisi nutrisi semuanya penting dalam memengaruhi kualitas daging dan karkas, sebagaimana pentingnya bulu dan perkembangan lemak sebagai indikator kualitas karkas. Nilai DDGS (Dried Distillers Grain with Soluble) untuk pakan bebek harus dibandingkan dengan jagung dan tepung kedelai karena kandungan energi dan proteinnya berada di antara jagung dan SBM. Teknologi pengulitan bebek telah berkembang dengan sangat canggih, dan ada kemungkinan untuk otomatisasi dan peningkatan proses yang berkesinambungan.
Tuan rumah konferensi berikutnya secara resmi telah diputuskan selama konferensi melalui proses penawaran. Namun, karena WPSA Prancis adalah satu-satunya negara yang tertarik untuk mengajukan diri sebagai tuan rumah berikutnya, maka diputuskan bahwa Konferensi Unggas Air ke-8 atau The 8th World Waterfowl Conference akan diselenggarakan oleh WPSA Prancis, di Nantes, pada tahun 2027.