Sekumpulan broiler dalam kandang pemeliharaan
Oleh: Muhammad Sandi Dwiyanto, S.Pt*
Dalam sebuah peternakan, pasokan air yang banyak telah menjadi syarat yang harus terpenuhi, tak terkecuali pada peternakan ayam pedaging. Selain untuk kebutuhan konsumsi ayam, air juga diperlukan untuk kegiatan biosekuriti seperti sanitasi dan desinfeksi kandang, desinfeksi tempat pakan dan minum, desinfeksi kendaraan serta untuk kebutuhan sehari-hari karyawan kandang. Untuk air minum, ayam membutuhkan sebanyak 1,8 sampai 2 kali lipat kebutuhan pakan harian. Konsumsi air minum ini akan berubah seiring dengan perubahan kondisi lingkungan. Pada penggunaan nipple drinker kebutuhan air dapat dievaluasi setiap hari dengan bantuan alat ukur flow meter.
“Ketika konsumsi air tidak sesuai (kelebihan atau kekurangan), maka perlu dilakukan kontrol ulang dengan indikator lain seperti konsumsi pakan, suhu, kelembapan kandang serta fungsi peralatan kandang,” ujar Arif.
Selain ketersediaan air yang melimpah, kualitas air dalam proses budi daya juga harus diperhatikan. Hampir semua peternakan menggunakan air tanah dengan metode sumur bor sebagai sumber air untuk kebutuhannya. Akan tetapi setiap daerah tentu mempunyai kualitas dan kandungan air yang berbeda-beda. Oleh karena itu, peternak tidak boleh asal dalam hal manajemen air. Kualitas air yang baik sangat berpengaruh dalam proses budi daya ayam pedaging, selain berpengaruh terhadap performa produksi, kualitas air juga berdampak nyata terhadap nilai ekonomis pada sarana produksi ternak di kandang.
Dari segi fisik, air yang baik adalah air yang tidak berwarna, jernih, tidak berbau dan tidak berasa. Suhu air yang baik untuk air minum ayam pedaging berkisar 22-25 0C. Air dengan temperatur yang rendah lebih disukai oleh ayam karena dapat mengurangi stres dengan menurunkan suhu tubuh ayam. Oleh karena itu, dalam pembuatan instalasi dan tempat penampungan air, diharuskan teduh dan tidak terpapar sinar matahari secara langsung.  Kalau memungkinkan, tempat penampungan air bisa diletakkan di dalam kandang sekaligus. “Ketika terjadi peningkatan suhu air minum 1 0C, maka akan menyebabkan peningkatan konsumsi air minum 7 persen pada ayam,” jelas Arif.
Dirinya menambahkan bahwa peningkatan konsumsi air minum ini terjadi karena adanya proses thermolegulasi tubuh ayam. Untuk mengatur suhu tubuh ayam agar tidak terlalu panas,  maka ayam akan banyak mengonsumsi air  dan menghindari makan. Hal ini disebabkan karena proses makan pada ayam akan menyebabkan panas tubuh naik imbas dari perombakan karbohidrat, protein dan lemak dalam tubuh. Apabila konsumsi pakan ayam menurun, maka pertumbuhan harian (average daily gain) pun akan berkurang.
Secara kimiawi, kualitas air dapat dilihat dari kandungan pH dan mineral dalam air tersebut. Derajat pH dalam air minum ayam pedaging diusahakan netral dengan kisaran 6,8-7,2. Ayam tidak menyukai air dengan tingkat pH terlalu rendah (asam) atau terlalu tinggi (basa). Selain itu derajat pH air juga berpengaruh langsung terhadap nilai ekonomis peralatan kandang. Air yang terlalu asam akan bersifat korosif sehingga akan berdampak negatif pada peralatan instalasi air minum. Selain itu, air asam juga berpengaruh pada proses medikasi (vaksinasi, vitamin dan obat). Proses medikasi tidak dapat bekerja optimal ketika dibarengi dengan konsumsi air yang bersifat asam. 
Baca Juga: Urgensi Penyediaan Air Bersih dalam Peternakan Unggas
Sementara itu, pada air yang terlalu basa akan menimbulkan kerak dan akan menyebabkan penyumbatan pada instalasi air, serta dapat menyebabkan ayam diare. Cara menurunkan pH yang tinggi dapat dilakukan dengan acidifier atau asam sitrat, sedangkan sebaliknya untuk menaikkan pH yang rendah menggunakan kapur soda atau natrium hidrokarbon. Evaluasi derajat keasaman pada air dapat menggunakan alat pH meter.
Untuk kandungan mineral (lihat Gambar 1), ada beberapa indikator yang harus diperhatikan seperti klorin (>500mV atau 3 ppm), nitrat (<100 mg/L), nitrit (<0,1 mg/L), besi (0,5 mg/L), sulfat (<150 mg/L) dan mangan (1 mg/L). Kandungan mineral yang terlalu tinggi dapat menurunkan konsumsi air ayam dan mengurangi kinerja vitamin, obat dan vaksin. Akan tetapi, dirinya mengaku tidak semua kandungan mineral dalam air rutin diuji. Salah satu kandungan yang rutin diuji adalah klorin. Klorin berkaitan erat dengan kadar bakteri E. coli dan Salmonella. Adanya bakteri ini dalam air akan menyebabkan penyakit pencernaan pada unggas, sehingga penyerapan nutrien pakan akan terganggu.
Pada kadar klorin tertentu (>500mV atau 3 ppm) bakteri ini tidak dapat bertahan hidup. Akan tetapi kadar klorin yang terlalu tinggi pada air minum, juga akan berdampak negatif bagi pencernaan ayam. Untuk menyiasati hal tersebut, beberapa peternakan mengunakan sinar ultraviolet untuk penanganan bakteri yang terkandung pada air. Penggunaan sinar ultraviolet ini bisa menjadi opsi dan investasi jangka panjang dalam peternakan ayam pedaging.
Manajemen air minum ayam pedaging
Pemberian air minum pada proses budi daya ayam pedaging dilakukan dengan sistem ad libitum, merata dan mudah diakses. Air minum harus selalu tersedia sepanjang proses budi daya (ilustrasi lihat Gambar 2). Kekurangan air minum secara langsung akan menurunkan tingkat produksi ayam. Hal ini berkaitan erat dengan pengaturan drinker space dan tinggi tempat minum di kandang. Pengaturan drinker space dan tinggi tempat minum sendiri akan menyesuaikan jenis tempat minum dan umur ayam. Semakin besar umur ayam, maka drinker space di kandang akan semakin kecil.
Selanjutnya, pada pengunaan bell drinker dan round drinker tinggi, tempat minum harus setinggi bahu ayam. Sedangkan untuk niplle drinker berada di sudut 45 derajat, kecuali pada masa DOC tempat minum diletakkan setinggi mata untuk proses pengenalan dan adaptasi. Apabila indikator ini tidak diperhatikan, maka angka keseragaman (uniformity) dalam kandang tersebut akan rendah. “Apabila air minum yang diberikan tidak merata dan susah diakses, maka akan berlaku hukum rimba di mana ayam yang besar akan menang sedangkan yang kecil akan kalah,” tegas Arif.
Selain manajemen pemberian, perawatan peralatan air minum pada kandang juga tidak bisa diabaikan. Hal ini untuk mencegah terjadinya kontaminasi dari peralatan dan memperpanjang umur penggunaan. Pada kasus peternakan yang menggunakan round drinker dan bell drinker, disarankan air minum dibersihkan setiap 2 kali sehari. Kelemahan yang terjadi pada penggunaan jenis tempat minum ini adalah konsumsi air minum pada ayam tidak bisa diketahui. Kemudian dalam penggunaan nipple drinker, perawatannya dengan melakukan flushing sekali dalam satu minggu.
Flushing juga dilakukan ketika sebelum dan sesudah melakukan proses medikasi melalui air minum. Hal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan  proses medikasi tersebut. Pembersihan tandon dan filter juga harus dilakukan secara berkala. Untuk tandon biasanya dilakukan 1 minggu sekali, sedangkan filter 1 bulan sekali. Pada masa istirahat kandang, tandon juga harus dikuras dan didesinfeksi dengan densifektan yang direkomendasikan seperti benzalkonium klorida (BKC), iodin dan klorin. “Perawatan peralatan, instalasi dan filter air minum sering kali dilupakan oleh peternak, padahal hal ini merupakan salah satu titik kritis kualitas air dalam proses budi daya ayam pedaging,” pungkasnya. *Wartawan Poultry Indonesia
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2020 dengan judul “Pentingnya Air dalam Keberhasilan Budidaya Ayam Pedaging”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153