(Sumber: onegreenplanet.org)
(Sumber: onegreenplanet.org)
Sebagai hewan yang termasuk ke dalam kategori aves, unggas memang sudah lama memiliki hubungan dengan manusia. Hal ini ditandai oleh domestikasi pertama kali di daratan Cina pada sekitar tahun 6000 sebelum masehi. Potensi yang dimiliki oleh unggas sudah diketahui oleh penghuni daratan Cina kala itu bahwa hewan tersebut dapat memberikan seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari pemenuhan kebutuhan estetika, kebutuhan ritual, hingga status sosial. Lebih dalam, pemanfaatan unggas kala itu telah berkembang lebih esensial untuk kelangsungan hidup manusia, yaitu sebagai kebutuhan pangan.

Setiap negara memiliki predikat yang berbeda-beda terhadap penanganan kesejahteraan unggas. Sumber daya manusia dan teknologi merupakan salah satu unsur penting untuk penerapan kesejahteraan unggas.

Seiring berjalannya waktu, saat ini ternak unggas memiliki posisi cukup krusial sebagai sumber pemenuhan kebutuhan pangan manusia akan protein hewani. Dengan hasil produk seperti daging dan telur, dengan harga yang relatif terjangkau, membuat hasil produk unggas merupakan komoditi yang sangat penting dan strategis. Selain memiliki fungsi untuk kemandirian pangan, sektor perunggasan juga mengemban peran sebagai pendongkrak ekonomi negara. Sebab, sektor ini dapat meningkatkan produk domestik bruto (PDB) dan membantu negara dalam menyerap tenaga kerja.
Mengingat sektor perunggasan memiliki prospek yang sangat besar, para pemangku kepentingan pun berupaya untuk meningkatkan segala aspek yang berkaitan dengan proses produksi perunggasan. Salah satunya dengan seleksi genetik yang telah dilakukan oleh peneliti untuk memaksimalkan performa unggas. Hal ini merupakan perkembangan yang sangat baik. Sayangnya, kita sering mendengar bahwa perkembangan genetik yang selektif tersebut kerap menyebabkan unggas menjadi lebih rentan terhadap stres. Hal demikian terjadi karena semakin cepatnya metabolisme unggas tidak diikuti dengan pertumbuhan visual organnya.
Alih-alih meningkatkan performa produksi, tetapi tak jarang yang terjadi adalah mengabaikan kesejahteraan pada unggas itu sendiri. Padahal, kesejahteraan unggas sudah mencakup dari aspek kesehatan secara fisik dan mental. Hal ini dapat diartikan bahwa penerapan kesejahteraan unggas sebenarnya juga mampu meningkatkan performa produktivitas. Unggas yang merasa sejahtera, otomatis akan terhindar dari stres yang kemudian sistem fisiologis dan metabolismenya dapat berjalan dengan normal.
Makna penerapan kesejahteraan unggas
Kesejahteraan hewan atau dalam hal ini kesejahteraan unggas adalah upaya manusia untuk menjaga kualitas hidup unggas dengan cara memberikan perlakuan yang layak kepada unggas. Hendaknya dalam pemanfaatan unggas tersebut, manusia kerap menerapkan aspek-aspek kesejahteraan hewan, yakni yang sering disebut dengan ‘five freedom’. Mengutip dari buku “Kesejahteraan dan Metode Penelitian Tingkah Laku Unggas” karya Prof. Ir. Dwi Sunarti Prayitno, M.S., P.hD. yang terbit pada tahun 2015 yakni, menjelaskan bahwa five freedom pada kesejahteraan hewan pada unggas antara lain adalah bebas dari rasa sakit (cedera dan penyakit), bebas dari ketakutan dan tekanan atau cekaman, bebas bergerak dan berperilaku normal, bebas dari rasa haus, lapar dan malnutrisi serta bebas dari ketidaknyamanan lingkungan.
Dari kelima aspek kesejahteraan hewan tersebut, semuanya harus mencakup ke dalam seluruh siklus peternakan unggas, yaitu pada masa pemeliharaan, pengangkutan dan penyembelihan atau pemotongan. Dari sini, hal pertama yang harus dipenuhi adalah tata laksana atau manajemen pemeliharaan. Mulai dari manajemen pemberian pakan dan minum, manajemen alas kandang, manajemen pencahayaan, serta manajemen ventilasi udara. Tentu, hal yang krusial dan tidak boleh terlewatkan ialah tindakan preventif terhadap penyakit.  Oleh sebab itu, biosekuriti juga merupakan salah satu unsur untuk menciptakan kesejahteraan unggas pada dimensi pemeliharaan.
Hal demikian juga harus diperhatikan pada masa pemanenan dan pengangkutan. Pengangkutan secara harfiah memiliki arti perpindahan suatu barang dari suatu tempat ke tempat lain untuk suatu tujuan tertentu. Dalam hal ini, unggas yang telah dipelihara dalam kandang, kemudian dilakukan pemanenan dan pengangkutan untuk sebelum masuk ke proses penyembelihan. Pengangkutan juga merupakan sebuah dimensi yang rawan terhadap kesejahteraan pada unggas. Unsur yang harus diperhatikan dalam dimensi pengangkutan ialah perlakuan pemindahan unggas ke dalam keranjang, kepadatan dalam satu keranjang, serta jarak tempuh pengiriman.
Pun pada dimensi penyembelihan, yang merupakan siklus terakhir dari proses budi daya unggas potong merupakan sebuah titik krusial yang akan menentukan sebuah hasil produk unggas tersebut. Tentu, hasil produk unggas yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh aspek-aspek kesejahteraan hewan. Selain SDM (sumber daya manusia) yang harus memahami kaidah pemotongan, penyediaan alat pemotongan yang memadai juga sangat diperlukan agar meminimalisir ancaman ketakutan dan meminimalisir rasa penderitaan yang berlebih pada unggas.
Guru Besar Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Prof. Ir. Dwi Sunarti Prayitno, M.S., P.hD mengatakan bahwa kondisi stres merupakan sebuah indikator yang menyatakan unggas sedang tidak sejahtera. Sebagai etologi, dirinya memaparkan, tingkat stres ayam bisa dilihat dari teknik tonic immobility. Tonic immobility adalah cara sederhana untuk melihat kondisi stres unggas dengan cara mengamati kecepatan sebuah respon unggas.
Tonic immobility itu diyakini 100% betul oleh para peneliti tingkah laku. Caranya sederhana dengan menggunakan tatakan kayu yang seperti alas Al-qur’an yang berbentuk segitiga. Segitiganya itu diatur sudutnya 60°. Kemudian ayam ditelentangkan di atas tatakan itu. Ketika ayam segera merespon cepat untuk membalik, berarti dia dalam keadaan yang normal atau tidak stres dan secara emosionalnya bagus, karena ditelentangkan itu kan posisi yang tidak nyaman sehingga dia merespon dengan cepat. Sebaliknya, apabila respon ayam lambat berarti sedang kondisi stres,” kata Dwi ketika diwawancara oleh Poultry Indonesia melalui aplikasi Zoom Meeting, Jumat (15/4).
Selanjutnya, selain melihat tingkat stres, profil fisiologis juga dapat dijadikan acuan untuk menilai kesejahteraan pada unggas. Hal tersebut dikarenakan proses fisiologis ini bersifat dinamis tergantung pada kondisi lingkungan internal dan eksternal unggas. Hal yang paling sederhana dari profil fisiologis ialah dengan mengukur suhu tubuh unggas. Dimana cukup dengan mengukur suhu melalui kloaka unggas menggunakan termometer.
“Dari melihat profil fisiologis ini, kita dapat mengukur dan mengetahui kondisi ternak tersebut. Ambil contoh, idealnya suhu tubuh ayam 41° celcius, berarti kalau di atas atau di bawah 41° celcius tandanya ayam sedang tidak baik-baik saja. Jadi sebelum peternak mengukur ini, peternak harus mengetahui kondisi fisiologis normal pada ayam, mulai dari angka respirasi normalnya, denyut nadi normalnya, kadar glukosa normalnya, dan suhu tubuh normalnya,” lanjut Dwi.
Tabel 1. Profil fisiologis ayam dalam kondisi normal
Profil Fisiologis
Nilai Ambang Batas Normal
Suhu tubuh (ayam dewasa)
±41,49°C
Frekuensi pernapasan
20-30 x/menit
Denyut jantung
 
-Ayam dewasa
250-350 x/min
-DOC (ayam baru menetas)
300-560 x/min
Tekanan darah
150-190 mmHg
Volume darah
7% dari bobot badan
Glukosa dalam plasma darah
 
-Ayam usia 2-5 bulan
242 mg/100 ml
-DOC (ayam baru menetas)
235 mg/100 ml
Sel darah merah (eritrosit)
 
-Betina
2,72-3,0 juta/mm³
-Jantan
3,24-3,8 juta/mm³
Hemoglobin
7,0-13 g/dl
Sel darah putih (leukosit)
40.000-80.000/mm³
Sumber : Buku kesejahteraan dan metode penelitian tingkah laku unggas (2015)

 

Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2022 dengan judul “Kedudukan Kesejahteraan Unggas Dunia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153