Oleh: Ir. Mahardika Agil Bimasono, S.Pt., IPP*
Dalam lanskap yang penuh ketidakpastian, sektor peternakan di Indonesia muncul sebagai bidang yang masih berjuang untuk mencapai perkembangan yang signifikan. Meskipun memiliki potensi besar, tantangan dan dinamika eksternal telah memberikan latar belakang yang membingungkan bagi cita-cita jangka menengah yang ingin dicapai.
Menjelang dekade baru, sektor peternakan di Indonesia masih berhadapan dengan tantangan yang nyata dalam mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan. Pertumbuhan PDB peternakan yang tumbuh sangat lambat, bahkan di bawah 1% per tahun, adalah salah satu isu utama. Data terbaru dari tahun 2021 menunjukkan pertumbuhan sektor peternakan hanya sebesar 0,34%, yang menggambarkan minimnya pertumbuhan pada sektor ini.
Meskipun sektor peternakan menyumbang sekitar 16% dari PDB sektor pertanian, masih ada ketidakpastian yang melingkupi investasi dalam sektor ini. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mengalami penurunan lebih dari 5%, hanya mencapai nilai 2.1 triliun rupiah. Sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) mengalami penurunan yang lebih dramatis, turun hingga 35% dengan nilai yang bahkan tidak mencapai 500 miliar rupiah. Fenomena ini mencerminkan adanya keraguan investor, baik domestik maupun asing, terhadap prospek perkembangan sektor peternakan.
Terfokus pada perunggasan
Ketika berbicara tentang investasi di sektor peternakan, faktor unik muncul. Sekitar 85% dari total investasi dalam negeri dan asing mengalir ke sektor perunggasan, dengan hanya 10% untuk ternak ruminansia. Meskipun sektor perunggasan memberikan potensi signifikan, dominasi satu sektor dalam investasi ini menciptakan ketidakpastian. Pertanyaan yang kemudian muncul, apa dampak jika sektor perunggasan mengalami gangguan atau terhambat? Ketergantungan yang terlalu besar pada satu sektor bisa menjadi pedang bermata dua, dengan potensi keuntungan yang tinggi tetapi juga risiko yang signifikan.
Di sisi lain, tantangan dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan serta fluktuasi harga di pasar domestik juga memberikan kontribusi pada ketidakpastian dalam cita-cita jangka menengah sektor peternakan. Pengendalian harga yang masih bergantung pada pasar tradisional memberikan hambatan tambahan. Selain itu, margin keuntungan yang sempit dalam rantai produksi peternakan menunjukkan bahwa sektor ini tidak hanya dihadapkan pada ketidakpastian harga, tetapi juga risiko keuangan.
Satu proses bisnis, beda tujuan
Dalam ruang yang cahayanya diterangi oleh data dan fakta, sektor peternakan Indonesia memunculkan sebuah panorama yang menuntut kritik dan analisis mendalam. Di tengah hadirnya perusahaan integrator yang menjulang, nyatanya panggung ini juga diisi oleh para pemain lokal yang tidak kalah menariknya. Sebut saja sektor budi daya, middleman dengan perannya yang seringkali meragukan, investor dengan janji keuntungan, serta riset dan inovasi yang mungkin tak begitu dihargai.
Dalam mengurai skenario ini, perhatian harus tertuju pada permainan margin dari hulu hingga hilir. Nilai tambah yang dapat diciptakan oleh tiap stakeholder seakan menjadi sorotan tajam yang mengilustrasikan ketidakpastian yang melekat dalam setiap transaksi. Budi daya, yang berperan sebagai produsen utama, seringkali harus berhadapan dengan ancaman margin yang sempit dan persaingan yang ketat. Kontradiksi antara efisiensi produksi dan maksimisasi keuntungan menjadi bagian yang sulit untuk dihadapi.
Tidak kalah menariknya adalah middleman, yang menghubungkan rantai pasok dan konsumen. Terlepas dari perannya sebagai penghubung, mereka juga memiliki kemampuan untuk mengatur harga dan menghasilkan fluktuasi yang dapat merugikan para pelaku di kedua ujung rantai. Seringkali, praktik mereka mengundang pertanyaan mengenai transparansi dan integritas bisnis.
Sorotan selanjutnya tertuju pada investor yang dalam segala bentuk dan varian, juga memiliki panggungnya sendiri. Ada investor modern yang tampil dengan janji bunga besar melalui layanan fintech, namun dalam bayang-bayang bunga yang menggoda. terkadang ada risiko yang tersembunyi seperti ketidakmampuan pembayaran disaat kalah oleh mekanisme pasar. Pertanyaan juga muncul, dengan besarnya masyarakat peternak yang masih lemah financial knowledge, apakah akan tercipta sustainabilitas perdagangan peternakan dari kondisi ini?
Terakhir, riset dan inovasi seolah berada di latar belakang panggung. Meskipun berperan penting dalam mencari solusi untuk tantangan sektor peternakan, seringkali dukungan dan perhatian terhadap riset ini masih terbatas. Penemuan inovatif yang mungkin dapat merumuskan jalan keluar dari permasalahan, terkadang terkubur dalam birokrasi atau kurangnya penghargaan.
Pertunjukan ini bukan hanya tentang bisnis semata, tetapi juga tentang ekosistem yang rumit dan seringkali kontroversial. Dalam dunia bisnis yang kompleks dan penuh ketidakpastian, penting bagi semua stakeholder untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang, berinovasi, dan menjaga keseimbangan agar pertunjukan ini dapat berlangsung dengan harmonis dan berkelanjutan.
Isu kualitas gizi dan stunting
Tidak hanya terkait dengan ekonomi dan bisnis, sektor peternakan sebagai komoditas yang berkontribusi terhadap pemenuhan gizi dan protein masih memiliki PR besar terhadap isu sosial seperti kekurangan gizi dan stunting. Data menunjukkan bahwa 17,7 juta orang di Indonesia masih mengalami kurang gizi, dan perlu ada upaya nyata untuk meningkatkan konsumsi per kapita dan memastikan bahwa pangan yang dihasilkan juga bermanfaat secara nutrisi. Akses produk dan harga yang terjangkau menjadi modal dasar untuk mendukung program pemerataan gizi menjadi sustainable. Tentu saja, cara menyelesaikannya tidak bisa dengan program sekali tendang.
Ketakutan Generasi Muda dan Peternakan
Di balik sorotan panggung sektor peternakan, ada sebuah cerita yang belum terungkap sepenuhnya, yakni lemahnya pertumbuhan wirausahawan baru dan rasa takut generasi muda untuk melangkah dalam bisnis ini. Generasi muda nampak enggan terjun ke bisnis peternakan, mungkin karena mereka melihat kompleksitas dan ketidakpastiannya. Lingkungan bisnis ini cenderung sulit ditebak, dengan fluktuasi harga dan perubahan regulasi yang sering tak terduga. Akibatnya, banyak dari mereka memilih alternatif yang lebih aman dan stabil.
Namun, pertanyaannya adalah, apakah tidak ada tempat bagi inovasi dan semangat baru dalam sektor peternakan? Di era teknologi dan tantangan global, peran wirausaha baru menjadi semakin penting. Kelangkaan generasi muda dalam bisnis peternakan bisa memicu stagnasi dan ketidakberlanjutan.
Cara untuk mengatasi ketakutan ini adalah dengan memberikan pendidikan, pelatihan, dan dukungan kepada generasi muda. Melibatkan mereka dalam inovasi, memberi akses ke sumber daya, dan membantu mereka memahami dinamika bisnis adalah langkah awal yang penting. Dengan membangun lingkungan yang mendukung, kita bisa mendorong mereka untuk melangkah dengan percaya diri ke panggung peternakan.
Merumuskan langkah ke depan
Dalam menghadapi tantangan dan ketidakpastian yang dihadapi oleh sektor peternakan di Indonesia, langkah-langkah berani dan strategi yang cermat perlu diambil untuk mencapai cita-cita jangka menengah yang diinginkan. Menjadi kekuatan besar ekonomi dunia pada 2030 atau 2045 tentunya. Selain regulasi dan adanya upaya untuk meningkatkan investasi dalam sektor peternakan secara keseluruhan, diversifikasi investasi juga perlu dipertimbangkan untuk mengurangi risiko yang terlalu terkonsentrasi pada satu sektor.
Kesimpulannya, mencapai cita-cita jangka menengah dalam pengembangan sektor peternakan di Indonesia akan membutuhkan upaya kolektif dan langkah-langkah strategis. Dalam menghadapi tantangan dan ketidakpastian yang ada, memperkuat fondasi ekonomi, mengadopsi teknologi inovatif, dan membangun kerja sama yang kuat adalah kunci untuk membentuk masa depan yang lebih cerah bagi sektor peternakan dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. *Founder Swasembada Enterprise – General Partner Pramoda Egg