POULTRYINDONESIA, Jakarta – Menjadi peternak mandiri adalah suatu pilihan. Sebagai pahlawan ketahanan pangan nasional, maka sudah sepantasnya peternak mandiri mendapatkan kesejahteraan. Namun faktanya, saat ini peternak mandiri masih berkutat dengan lingkaran kerugian, yang disebabkan harga jual ayam hidup/livebird (LB) dibawah biaya produksi. Hal ini mengemuka dalam acara talkshow bertema “Peternak Mandiri, Aset Negeri”, yang digelar secara daring via YouTube channel Farmsco Indonesia, Selasa (31/1).
Dalam kesempatannya Alvino Antonio selaku Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN) mengungkapkan bahwa kondisi peternak mandiri di tahun 2023 masih mengalami kesulitan. Dikala harga sapronak yang tinggi, harga jual LB di tingkat peternak masih di bawah harga pokok produksi (HPP).
“Tahun 2022 sampai 2023 ini, peternak mandiri masih mengalami kondisi rugi. Karena harga jual LB masih dibawah HPP. Padahal, kami sudah berupaya untuk meningkatkan performa ayam di kandang. HPP saat ini berada pada kisaran Rp19.000,00-20.000,00, sedangkan harga jual LB di tingkat peternak berada di kisaran Rp17.000-17.500,00/kg,” ungkapnya.
Sebagai peternak mandiri, Alvino mengungkapkan, susah untuk mengontrol harga sarana produksi ternak (sapronak). Karena sapronak berkaitan langsung dengan perusahaan besar. Akan tetapi, dirinya bersama KPUN terus berupaya untuk memperjuangkan peningkatan harga jual LB di atas HPP. Salah satunya, KPUN terus aktif melakukan negosiasi kepada instansi yang terkait.
Baca Juga: Peringatan HUT Ke-70 PDHI, Kobarkan Semangat Sinergi dan Kolaborasi
“Disaat kondisi harga jual LB dibawah HPP, KPUN akan mendatangi Badan Pangan Nasional untuk meminta bantuan bahwa ayam peternak mandiri dapat diserap dengan harga acuan Perbadan No. 5 tahun 2022. Dengan kunjungan ini, ada juga peternak mandiri yang disubsidi oleh perusahaan-perusahaan tertentu. Memang ayam kami tidak dapat diserap 100%, namun dapat mengurangi nominal kerugian,” kata Alvino.
Lebih lanjut, saat ini, harga jual LB di tingkat peternak dapat terjun bebas dan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat merangkak kembali. Dengan demikian, ia berharap Satuan Tugas Pangan dapat mengawal jalannya peternak mandiri dalam menjual LB di pasaran. Selain itu, ia berharap kepada pemerintah untuk membuat aturan mengenai adanya pemisahan pasar antara peternak kemitraan dengan peternak mandiri.
“Peternak itu tidak bisa langsung tembus ke pasar. Karena disitu ada banyak sekali mata rantai yang sudah dikuasai oleh para mafia. Oleh sebab itu, saya berharap Satgas Pangan dapat turun ke pasar untuk stabilisasi harga LB. Karena ketika satgas pangan turun, maka semua mafia akan takut. Kemudian, saya berharap perusahaan integrasi tidak menjual LB, melainkan masuk ke rantai dingin dan sampai ke olahan, yang dimana pasar mereka mencakup hotel, restoran, katering, dan industri. Sedangkan peternak mandiri masuknya ke pasar tradisional,” harap Alvino.