POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dengan membawa berbagai spanduk berisi tuntutan, sekitar 60 peternak unggas mandiri yang tergabung dalam Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN) kembali menggelar aksi demonstrasi di Jakarta, Selasa (10/1). Demonstrasi ini menyasar 3 tempat, yakni Kementerian Perdagangan (Kemendag), Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA), serta PT Farmsco Feed Indonesia.
Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), Alvino Antonio mengatakan, harga livebird (LB) mulai turun lagi sejak momen Natal 2022 atau sekitar tanggal 26 Desember 2022 lalu. Yang mana harga LB sempat di angka Rp15.000,00/kg terutama di wilayah Jawa Tengah, yang merupakan pusat populasi ayam ras pedaging. Harga ini tentu berada jauh di bawah harga pokok produksi (HPP) peternak yaitu Rp 19.500,00–20.500,00/kg, dan bertahan hingga saat ini. Sedangkan harga karkas di level konsumen cenderung stabil, berkisar Rp33.000,00–35.000,00/kg.
Menurutnya jatuhnya harga LB di Jawa Tengah, membuat harga LB di Jawa Barat tertekan, yang mencapai Rp17.500,00/kg. Ketika Jateng tsunami LB, maka berdampak bagi wilayah lain, terutama ayam yang di supply ke Jabodetabek. Penurunan harga di bawah HPP terjadi cukup lama. “Informasi yang kami terima terjadi oversupply, tapi informasinya tidak begitu jelas. Karena kalau oversupply itu ayam di kandang tidak laku, dan ayam itu ada yang dibuang, tetapi hal itu tidak terjadi. Selain itu, masih banyak perusahaan integrator yang melakukan budi daya dan menjual LB nya ke pasar becek. Yang mana pasar ini sama dengan peternak UMKM mandiri. Bahkan para integrator menjual LB dengan harga sangat murah, sampai di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yanh diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) No. 5/2022 yakni Rp 21.000,00 – 23.000,00/kg di level peternak. Dengan ini maka peternak umkm mandiri tidak akan bisa bersaing,” jelas Alvino.
Kemudian menurut Alvino meskipun integrator menjual murah, namun bagi integrator kerugian cenderung sedikit bahkan tidak mengalami kerugian sama sekali. Hal ini dikarenakan integrator mampu memprodukai day old chik (DOC), pakan, obat-obatan, bahkan channel distribusi sendiri yang tersistem dengan bekerja sama dengan para broker. “Sedangkan kami peternak UMKM mandiri, membeli sapronak DOC dan pakan dari mereka. Tentu dengan harga yang mahal jadi kami kalah bersaing disini,” tegasnya.
Lebih lanjut terkait harga sapronak, Alvino menjelaskan bahwa sejak minggu ini, harga DOC mengalami penurunan yakni Rp2.500,00–3.000,00/ekor. Namun harga pakan masih tinggi yakni Rp8.500,00-8.800,00/kg. Padahal tahun lalu harga pakan Rp7.500,00/kg. Harga pakan cenderung naik dengan alasan harga jagung naik. Padahal hari ini harga jagung turun di bawah Rp5.000,00/kg, tapi harga pakan tidak turun.
Baca Juga: JAPFA Apresiasi Inovasi Sekolah Dampingan melalui JAPFA for Kids
“Maka dari itu kami datang ke Kemendag untuk menegur integrator dan perusahaan yang ikut berbudi daya supaya taat kepada harga acuan Perbadan No. 5 tahun 2022 tersebut. Dan untuk menyelamatkan peternak mandiri umkm, jangka pendek kami menuntut kepada pemerintah untuk segera menyerap LB atau karkas dari jaringan peternak UMKM mandiri sebanyak 1.5 juta/minggu 1.500 ton/minggu. Dari penyerapan tersebut, pemerintah dapat mendistribusikan melalui jaringan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau disinkronisasikan melalui program bansos bagi masyarakat kurang mampu,” tambah Alvino.
Keluhan senada diungkapkan oleh Dadang, peternak umkm mandiri dari Bogor. Dalam orasinya dirinya menyampaikan bahwa sejak tahun 2017 usahanya terus mengalami kerugian. Dengan kondisi seperti ini, dirinya mengaku tidak akan mampu untuk bertahan.
“Kami beli mahal, beli DOC mahal tapi dijualnya murah sekali. Dari 2017 kami menanggung kerugian Rp3.000,00- 5.000,00/kg. Yang diliat jangan selalu integrator, ini ada para peternak mandiri kecil yang harus dilindungi. Kami mohon kepada pemerintahan untuk bisa menengok para peternak rakyat yang telah lama sengsara. Dulu peternak banyak namun sedikit dan lama-lama habis,” keluhnya.