Kelompok Tani Ternak Milenial Wana Ternak
POULTRYINDONESIA, Yogyakarta – Indonesia memiliki luas hutan sebesar 125 juta Ha. Yang mana di dalam dan sekitar hutan terdapat 48,8 juta jiwa penduduk Indonesia yang tinggal dan menggantungkan hidup pada hutan. Di antaranya sebanyak 10,2 juta jiwa masuk dalam klasifikasi penduduk pra sejahtera.
Khusus Pulau Jawa yang memiliki populasi terpadat di dunia, masih memiliki area hutan dengan luas 130 ribu Ha dan total luas kawasan sebesar 3 juta Ha atau sekitar 24% dari luas Pulau Jawa.  Hutan di Pulau Jawa dikelilingi oleh sekitar 6800 desa dengan jumlah penduduk sebanyak 13 juta kepala kelurga yang 60% bergantung pada pertanian dan tergolong pra sejahtera. Potensi sumber daya alam dan manusia yang luar biasa apabila dikelola dengan baik. Salah satu program pengelolaan yang dapat dilakukan adalah dengan melalukan pola integrasi antara peternakan, pertanian, dan kehutanan atau agroforestry yang berbasis silvopasture.
Melihat hal tersebut, Dosen Fakultas Peternakan UGM, Yogi Sidik Prasojo, Ph.D., didukung oleh Pemerintah Australia melalui Skema Hibah Alumni (Alumni Grant Scheme/AGS) yang diadministrasikan  oleh Australia Awards in Indonesia, mencoba untuk mengelola potensi hutan dan peternakan dengan mengembangkan program Wana Ternak di Desa penyangga Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Blora Ngawi UGM.
”Wana Ternak merupakan program pemberdayaan pemuda yang tinggal di kawasan hutan untuk belajar dan menciptakan peternakan berbasis Silvopasture. Pemuda di sekitar hutan dilatih untuk membuat organisasi kelompok tani ternak milenial yang berorientasi pada pengembangan usaha rumput, pakan konsentrat dan peternakan domba. Kelompok Pemuda diberikan pelatihan mulai dari manajemen hijauan pakan, budidaya domba, pembuatan konsentrat, dan manajemen pemasaran domba serta pakan konsentrat,” jelas Yogi kepada Poultry Indonesia melalui keterangan tertulis, Selasa (2/8).
Ia melanjutkan bahwa, program pembelajaran pemberdayaan Wana Ternak ini dilaksanakan di Desa Megeri, Kecamatan Kradenan, Blora, Jawa Tengah. Pada program manajemen hijauan pakan, kelompok tani ternak milenial diberi pelatihan berupa pembuatan lahan hijauan khusus atau bank hijauan (forage bank) untuk mencukupi kebutuhan pakan hijauan.
”Tidak hanya mencukupi kebutuhan pakan hijauan sendiri tetapi kelompok tani ternak dapat menjual biomassa hijauan dan bibit rumput yang dimiliki sehingga dapat menjadi pemasukan bagi kelompok tani ternak dan warga sekitar. Pada bank rumput ini juga diperkenalkan berbagai macam jenis rumput baru yang belum pernah ada di area kawasan hutan seperti rumput gajah kultivar Gama Umami, BioVitas, dan Zanzibar,” tambahnya.
Salah satu peternak binaan yang tergabung dalam Kelompok Tani Ternak Milenial Wana Ternak, Taufik mengaku bahwa setelah adanya program bank hijauan di Desa Megeri, dirinya dapat memperoleh pakan hijauan untuk ternak yang lebih baik dan berkualitas.
”Kita juga jadi tahu bahwa terdapat berbagai macam jenis rumput gajah yang dapat dimanfaatkan oleh peternak dan memiliki harga bibit yang tinggi. Harapannya bank hijauan yang dibuat dapat terus dimanfaatkan petani dan peternak untuk kedepannya,” ujarnya.