POULTRYINDONESIA, Temanggung – Kementerian Pertanian (Kementan) menggulirkan serangkaian langkah cepat untuk menstabilkan harga telur konsumsi dan ayam hidup (livebird) yang anjlok usai Lebaran 2025. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat yang menjadi tulang punggung produksi unggas nasional.
“Stabilisasi harga adalah bentuk keberpihakan kami kepada peternak layer mandiri. Kami ingin memastikan usaha peternakan rakyat tetap berlanjut secara sehat dan berkelanjutan,” kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, dalam Sarasehan Koperasi Peternak Unggas Sejahtera di Temanggung, Jumat (25/4/2025).
Agung mengungkapkan bahwa produksi telur nasional saat ini dalam kondisi surplus. Karena itu, menurutnya, seluruh pihak harus memastikan agar surplus ini tetap memberikan keuntungan bagi peternak melalui distribusi yang adil dan pasar yang stabil.
“Di sisi lain, Kementan juga terus mendorong ekspor DOC, telur, daging ayam, serta produk olahannya ke luar negeri. Dengan memperluas pasar, peternak kita akan memiliki lebih banyak ruang untuk tumbuh dan berkembang,” tambahnya.
Selain itu, Agung menekankan pentingnya memperkuat kelembagaan koperasi sebagai garda terdepan dalam menyerap hasil produksi peternak dan memperkuat posisi tawar mereka di pasar. Rangkaian kebijakan pemerintah, mulai dari regulasi, intervensi pasar, hingga fasilitasi kemitraan, menurutnya diarahkan untuk membangun ekosistem usaha peternakan yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing.
Sementara itu, Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera, Suwardi, mengapresiasi langkah cepat Kementan dalam memperbaiki harga telur ayam ras yang sempat anjlok. Ia menyebutkan bahwa intervensi pemerintah bersama para pemangku kepentingan telah memberikan dampak nyata di lapangan.
“Alhamdulillah, harga telur di Jawa Tengah saat ini sudah kembali menyentuh Rp 26 ribu per kilogram. Kami, para peternak, sangat bersyukur dan mengapresiasi respon cepat dari pemerintah,” ujar Suwardi.
Suwardi menilai kebijakan seperti pelarangan peredaran telur tetas fertil dan infertil untuk konsumsi, penyerapan telur untuk dijadikan tepung, serta pemasaran terkoordinir melalui koperasi, terbukti efektif menstabilkan harga di tingkat peternak. Ia juga memberikan apresiasi terhadap Kementan yang terus berkoordinasi dengan Bapanas, BULOG, serta industri pakan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan.
“Langkah konkret seperti ini sangat membantu peternak, terutama di saat harga pakan masih tinggi dan distribusi belum merata. Dengan dukungan ini, kami bisa kembali fokus menjaga produktivitas dan kualitas telur,” tambah Suwardi.