POULTRYINDONESIA, Solo – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat sinergi dengan peternak dan pelaku usaha dalam menjaga stabilitas harga ayam hidup (livebird) di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Upaya ini terlihat dari kegiatan koordinasi harga livebird yang digelar di Solo pada Kamis (12/6), atas inisiatif Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan, Hary Suhada, menegaskan komitmen pemerintah dalam mengawal tata niaga unggas yang lebih adil dan berkelanjutan. “Fluktuasi harga livebird masih menjadi tantangan utama bagi peternak rakyat. Melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2024, kami berupaya menyeimbangkan pasokan dan kebutuhan, serta memastikan harga tetap berada di atas HPP (Harga Pokok Produksi),” ujarnya.
Hary juga menyoroti pentingnya peran PINSAR sebagai jembatan edukasi dan advokasi kebijakan bagi peternak. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk konsisten dalam implementasi kebijakan dan memperkuat sistem data yang akurat sebagai dasar pengambilan keputusan. “Sinergi ini harus terus kita rawat demi keberlangsungan usaha peternak rakyat,” tambahnya.
Dalam forum tersebut, Wakil Ketua Umum Bidang Broiler PINSAR Indonesia, Parjuni, menyampaikan bahwa pihaknya bersama pemerintah dan pelaku usaha telah menyepakati langkah konkret untuk menstabilkan harga ayam hidup.
“Dalam dua bulan terakhir, harga livebird terus turun dan sangat merugikan peternak. Kami sepakat mengatur produksi bulan ini agar harga bisa naik bulan depan,” ujarnya.
Parjuni menyebutkan bahwa target harga yang disepakati adalah Rp16.000 per kilogram, naik dari harga pasar saat ini yang sempat jatuh hingga Rp14.000 per kilogram.
“Harga ideal yang berada di atas HPP itu sekitar Rp18.000 per kilogram. Kami berharap langkah ini dapat mengembalikan harapan peternak,” tuturnya.
Pertemuan ini juga menegaskan pentingnya pengawasan distribusi serta pelaporan perkembangan harga dan pasokan oleh dinas terkait. Selain itu, peran aktif asosiasi peternak dinilai krusial dalam mendukung tata kelola rantai pasok ayam yang lebih efisien.