Pertemuan Ditjen PKH dengan investor asal Malaysia untuk membahas rencana pembangunan peternakan di Aceh
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya memperkuat produksi susu, telur, dan daging nasional melalui investasi terarah di subsektor peternakan. Aceh ditetapkan sebagai salah satu wilayah fokus pengembangan untuk mendukung ketahanan pangan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan Kementan dengan investor asal Malaysia, Vie Santi, yang membahas rencana pembangunan peternakan di Aceh guna memasok kebutuhan dalam negeri sekaligus mendukung pelaksanaan MBG.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menjelaskan bahwa Indonesia saat ini masih mengalami defisit pasokan susu nasional. Sekitar 80 persen kebutuhan susu domestik masih dipenuhi melalui impor, terutama dalam bentuk susu bubuk.
“Prioritas kami ke depan adalah mendorong investasi yang benar-benar memperkuat produksi dalam negeri. Setiap produk daging dan susu yang masuk ke Indonesia wajib berasal dari unit usaha yang telah mendapatkan persetujuan pemerintah. Seluruh proses rekomendasi perizinan di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan saat ini telah dilakukan secara daring,” ujar Agung di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (24/12/2025).
Selain pengembangan sapi perah, pemerintah juga menyiapkan pembangunan ekosistem ayam terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk memperkuat pasokan telur dan daging ayam, khususnya di wilayah defisit seperti Aceh yang selama ini masih bergantung pada suplai dari Sumatera Utara.
Mulai awal 2026, pemerintah merencanakan pembangunan kawasan ayam terintegrasi di 30 provinsi, dengan tahap awal di 13 provinsi termasuk Aceh. Program ini akan melibatkan dukungan BUMN sebagai penyedia pakan dan bibit, sekaligus berperan sebagai offtaker hasil produksi.
“Secara nasional Indonesia sudah swasembada telur dan daging ayam, namun sekitar 63 persen produksinya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Dengan dukungan Badan Pangan Nasional, kami ingin memperlancar logistik dan mendorong produksi langsung di wilayah defisit. Mitra dari Malaysia diharapkan dapat berkontribusi memperkuat produksi di Aceh, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal, tetapi ke depan juga berpotensi mengekspor telur dan daging ayam ke Malaysia,” jelas Agung.
Dari sisi investor, Vie Santi menyampaikan rencana penyediaan susu bubuk khusus untuk pasar Aceh serta minat berinvestasi di sektor sapi perah dan ayam petelur secara terpadu. Ia menegaskan komitmen perusahaannya untuk mematuhi seluruh regulasi Indonesia, termasuk perizinan, standar kesehatan hewan, dan keamanan pangan, sekaligus membuka peluang transfer teknologi dan peningkatan kapasitas SDM lokal.
“Indonesia memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan peternakan di kawasan, dengan dukungan pasar domestik yang kuat dan sumber daya yang memadai. Kami melihat peluang untuk berkontribusi melalui investasi jangka panjang. Dalam kerangka kerja sama Indonesia–Malaysia, saya juga siap menjadi penghubung dengan kementerian terkait di Malaysia untuk memperlancar koordinasi perdagangan dan investasi komoditas peternakan,” ujarnya.
Kementan menegaskan bahwa setiap rencana investasi dan pemasukan komoditas peternakan akan dilaksanakan secara terukur, berkelanjutan, dan selaras dengan kebijakan nasional, dengan tujuan utama memperkuat kemandirian pangan nasional serta meningkatkan kesejahteraan peternak.