POULTRYINDONESIA, Malang – Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya untuk melindungi peternak mandiri dalam sektor perunggasan dengan menindak tegas pelanggar harga minimal ayam hidup (livebird). Dalam pemantauan lapangan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (4/7/2025), Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menyatakan pihaknya telah menjatuhkan sanksi kepada perusahaan yang menjual ayam di bawah harga ketentuan.
“Kami telah menemukan satu perusahaan terintegrasi berinisial NH yang menjual livebird di bawah Rp18.000 per kilogram. Terhadap perusahaan tersebut, sanksi langsung diberikan sesuai kewenangan Ditjen PKH,” tegas Agung saat bertemu para peternak dan pemangku kepentingan perunggasan Jawa Timur.
Agung menekankan bahwa komitmen harga bukan hanya soal angka, tapi bentuk nyata perlindungan terhadap peternak. “Komitmen harga ini bukan sekadar angka teknis, melainkan bentuk perlindungan nyata terhadap peternak. Tanpa itu, ekosistem sumber protein hewani nasional bisa rapuh,” ujarnya.
Menurut perhitungan Kementan, penerapan harga minimal Rp18.000 per kilogram dapat mencegah kerugian peternak di Pulau Jawa hingga lebih dari Rp1 triliun per bulan. Estimasi ini dihitung berdasarkan selisih harga sebesar Rp3.000 per kilogram dengan produksi bulanan sekitar 38 juta ekor ayam.
Kementan bersama Satgas Pangan POLRI terus melakukan pengawasan melalui monitoring dan evaluasi terpadu. Pemerintah juga tengah menyusun skema sanksi administratif bertahap bagi perusahaan yang tidak patuh, termasuk penundaan rekomendasi bahan baku pakan.
“Temuan dari Kementerian sudah dilakukan sanksi administrasi. Nanti akan kita pelajari apakah ada unsur pidana atau tidak,” kata AKP Ahmadi dari Satgas Pangan POLDA Jatim. Ia menambahkan, bila ditemukan unsur pidana, pihak kepolisian akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Dalam kegiatan ini turut hadir perwakilan dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Pinsar Jatim, serta para peternak mandiri. Salah satu peternak asal Malang, Kholik, mengapresiasi kehadiran pemerintah di lapangan.
“Saya terima kasih kepada pemerintah sampai Pak Dirjen mau turun. Ini menunjukkan pemerintah benar-benar serius menangani kesulitan rakyat,” ungkapnya.
Kementan juga mengajak seluruh pihak terkait untuk memperkuat kerja sama menjaga keberlanjutan sektor perunggasan.
“Ketahanan pangan tidak akan tercapai jika peternaknya terus merugi. Kami hadir di lapangan untuk memastikan ekosistem usaha unggas sehat, transparan, dan berpihak,” pungkas Agung.